Athena

Athena
Yang ke 25



Athena tersenyum haru melihat untaian kalimat yang ada di komputer Raga. Kenapa ia bisa melupakan hari lahirnya sendiri? Kenapa ia sampai lupa akan fakta ini? Ia merentangkan tangannya, menyambut Raga dengan pelukan nya.


Raga memeluk istrinya yang sedang duduk di kursi putarnya, ia tak lupa mencium kening istrinya, sembari mengucapkan doa dalam hatinya. Meminta umur yang panjang, kesehatan, kebaikan dan juga limpahan Rahmat untuk sang istri.


"Selamat ulang tahun, sayang. Nothing word can describe about you. Thanks for always being there, The" ucap Raga di depan wajah sang istri.


Athena mengusap usap pipi suaminya.


"Terima kasih juga, Ga. Terima kasih sudah menjadi pribadi yang begitu sabar menghadapi aku"


Raga mencium telapak tangan dan punggung tangan istrinya.


"Kakak, sini nak" panggil Raga pada anaknya. Ia sedang dalam posisi jongkok di depan sang istri.


Dengan langkah kecilnya, Anne berjalan mendekati sang papa dan mama.


"Ayo bilang selamat ulang tahun buat mama" suruh Raga.


Anne melihat mamanya.


"Mat hun" ucapnya.


Athena terkekeh. Tangannya menjulur mencubit pelan pipi chubby anaknya.


"Terima kasih anak mama yang paling cantik" kata Athena.


"Kamu mau duduk di situ aja?" tanya Raga.


"Kamu mau kerja?" tanya Athena balik.


Raga mengangguk.


"Aku ada meeting beberapa menit lagi. Aku tinggal kamu dan kakak di sini, gak apa-apa kan?"


"Nggak apa-apa. Semangat yah meeting nya" Athena mengelus rambut suaminya.


"Kakak, papa keluar sebentar yah. Kakak sama mama di sini dulu, tunggu papa selesai kerja" Raga pamit pada anaknya.


Anne hanya bisa mengangguk, belum mengerti ucapan Raga.


Raga melayangkan kecupan di pipi anaknya sebelum berdiri. Tak lupa mencium kening istrinya, lalu mengambil tablet dan berjalan keluar dari ruangannya.


Athena mengamati ruangan Raga. Pada dua sisi ruangan, kaca digunakan sebagai dinding. Ada pintu lain selain pintu masuk tadi, Athena menebak jika pintu adalah ruang pribadi yang disulap menjadi kamar. Semua bangunan kantor milik Arunika di desain agar memiliki ruang pribadi. Hal itu tentu sangat penting, mengingat jika istri dan anak berkunjung, mereka bisa beristirahat di dalam ruangan tersebut. Ada 3 bingkai foto yang tertempel di dinding. Satu foto bersama keluarga besar, satu foto Raga dan dirinya, dan foto ke tiga adalah foto Raga, dirinya dan Anne. Ada satu set sofa dan meja yang diletakkan membelakangi meja kerja, tapi berhadapan dengan dinding kaca. Ruangannya tentu saja bersih dan elegan dengan perpaduan cat abu-abu gelap dan putih. Ada lemari kaca di sudut ruangan, di dalam lemari tersebut ada foto Ares yang sedang menggendong Athena, sementara Lathief berdiri di samping sang papa. Foto itu diambil di dermaga pulau RelFath beberapa tahun lalu.


Athena menjulurkan jari manisnya, agar pintu lemarinya terbuka. Ia kemudian mengambil bingkai foto tersebut, membawanya duduk di sofa. Anne dengan senang hati ikut duduk bersama sang mama, berusaha sendiri memanjat sofa.


"Kakak, ini siapa?" tanya Athena sambil menunjuk wajah Lathief.


"Pa Ti" jawab Anne.


"Pinter anak mama. Kalau yang ini mama" Athena menunjuk wajah kecilnya.


"Waktu itu mama masih kecil. Yang ini namanya kakek Ares, kakek buyut " ibu jari Athena mengelus wajah Ares.


Anne hanya merespon dengan anggukan, tangannya ia masukkan ke dalam mulut.


Cukup dengan nostalgia nya, Athena mengembalikan bingkai fotonya ke dalam lemari. Ia lalu duduk di sofa, menemani anaknya bermain. Sesekali tangannya menyuapi Anne dengan cemilan khusus balita.


"Aku kelamaan kayaknya " ringis Raga tidak enak hati.


"Nggak apa-apa. Anne anteng kok. Aku juga sambil nonton dan ngemil, jadi nggak terasa lama nunggunya " Athena tentu saja maklum. Rapat berjam-jam lamanya sudah pasti pernah ia rasakan. Sejak ia kecil, ia selalu dibiasakan dengan hal-hal seperti ini. Daddy nya rapat di ruangan lain, sementara ia, Nevan dan mommy nya akan menunggu di ruang kerja Daddy nya sambil bermain, nonton dan sampai tertidur.


"Ayo, kita makan siang dulu" ajak Raga. Ia membantu Anne berdiri, menggenggam tangan anaknya. Tangannya yang bebas merangkul pinggang sang istri.


"Makan di kantin perusahaan aja yah The?"


Athena mengangguk senang.


"Boleh. Seru kayaknya"


Kantor dalam keadaan sepi, Athena menebak jika para pegawai pasti sedang mengisi perut kosongnya di kantin untuk mengembalikan energi yang terkuras.


Satu langkah setelah melewati pintu kantin, Athena dibuat terpukau. Para pegawai berbaris rapi, menyisakan jalan menuju meja panjang. Athena bisa melihat jika di meja panjang itu ada tumpeng yang berukuran sangat besar.


"SELAMAT ULANG TAHUN IBU ATHENA" teriak mereka kompak, lalu bertepuk tangan.


Raga melepaskan rangkulannya setelah Athena sampai di depan meja panjang.


Athena tersenyum. Ia membungkuk dua kali kepada para karyawan di depannya.


"Terima kasih semuanya. Terima kasih atas rasa antusias nya pada hari ini" ucapnya. Athena bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Silahkan nyonya, makan tumpeng nya" kata J sopan.


Raga, Athena, Anne, J dan beberapa petinggi perusahaan duduk di meja panjang. Sementara para karyawan tadi duduk di meja lainnya yang telah di sediakan dan di susun sedemikian rapi.


"J, tolong berikan bonus kepada seluruh pekerja perusahaan untuk bulan ini. Ini sebagai tanda terima kasih ku" ucap Athena.


J mengangguk mengerti.


"Baik, nyonya. Saya akan segera melaksanakan"


Setelah makan bersama, Athena mendapatkan banyak ucapan selamat dari para karyawan. Mereka berbaris agar bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung.


Raga senang melihat istrinya bisa tertawa lepas, juga tersenyum begitu hangat hari ini. Beberapa hari lalu ia sempat dibuat pusing akan hari ini. Ia bingung tentang apa yang harus ia lakukan dan berikan kepada istrinya. Ide ini terlintas begitu saja saat mendengar para karyawannya begitu penasaran dengan rupa sang istri. Mereka berhak melihat siapa istrinya dan juga orang kebanggaan pulau ini secara langsung.


"Ga, terima kasih tak terhingga. Aku tadi bahkan gak tahu harus bilang apa" ucap Athena saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Aku senang lihat kamu senang. Bahagianya nular gitu" kata Raga. Ia melihat ke arah istrinya sekilas.


"Ehh, anaknya ketiduran" beritahu Raga.


"Kecapean dianya. Tadi mangap terus disuap J" Athena menepuk pelan paha Anne yang sedang tertidur pulas.


"Ada tempat yang pengen kamu datangin nggak sebelum kita kembali ke kota A?" tanya Raga.


"Nggak dulu. Nanti aja." jawab Athena.


"Paling lambat kerjaan aku selesai akhir pekan depan. Itu berarti kita akan berangkat pekan depan, mungkin Sabtu atau Minggu."


Athena mengangguk mengerti. Ia akan pergi meninggalkan pulau ini sejenak.