Athena

Athena
Ars Area (3)



Pagi menyapa bumi, cahaya matahari nampak muncul dari balik jendela yang kain gorden nya tersibak tiba-tiba. Athena tersenyum menyaksikan kecanggihan yang baru saja dilihatnya.


Ia cukup tenang sebab kedua anaknya ditidurkan tidak jauh dari dinding yang cahaya matahari nya tidak akan menggangu tidur pulas anaknya. Pandangan Athena jatuh pada lelaki di sampingnya. Raga masih juga terlelap. Athena kemudian bangun dan segera membersihkan diri lalu membuat sarapan.


Saat membuka pintu kamarnya, ia dikagetkan dengan 3 robot yang sedang bersih-bersih. Ada vacum cleaner yang bergerak sendiri, sofa-sofa yang tersusun rapi kini tergeser lalu tersusun kembali saat vacum cleaner sudah selesai membersihkan debunya.


"Nona" sapa salah satu robot dengan suaranya yang khas saat melihat keberadaan Athena yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya.


Mata Athena mengerjap. Ia kemudian mencoba melambaikan tangannya dan tersenyum.


"Nama saya X" lagi-lagi robot itu bersuara.


"Halo X" sapa Athena .


Dua robot lainnya ikut menyapa Athena.


"Apakah di tempat ini ada bahan makanan?" tanya Athena.


"Buka pintu dapur"


Athena lalu memasuki dapur dan membuka pintu yang ada di dekat kitchen set. Rupanya disana adalah ruangan yang menyerupai gudang outdoor, terdapat tanaman sayur dan juga karung-karung beras.


Athena berjalan ke sisi dinding yang ada tulisan. Disana ada penjelasan singkat bagaimana beras tersebut bisa sampai di tempat ini. Setiap bulan akan ada beras yang datang menggantikan beras lama yang tidak dimasak. Ada 3 jalan rahasia untuk bisa sampai di tempat ini. Salah satunya adalah yang Athena tempuh kemarin. 2 jalan lainnya terhubung langsung dengan mansion dan sebuah rumah yang ada di pedesaan. Di mansion ternyata ada robot juga, tapi tidak pernah nampak di hadapan orang-orang. Robot-robot ini menyerupai manusia atau yang di kenal dengan sebutan mutan. Parasnya tampan, bodynya ideal.


"Apakah kalian akan di sini sepanjang hari?" tanya Athena.


"Tidak, nona. Setelah kami membersihkan dan menyirami tanaman, kami akan kembali ke bawah. Naik saat pagi hari lagi untuk membersihkan. Apakah nona butuh bantuan?"


"Dimana saya bisa mencuci baju saya?"


"Bukankah di sebelah dapur ada ruang untuk mencuci dan juga tempat untuk menjemur."


"Maaf, saya belum mengelilingi semua ruangan yang ada di sini. Di lantai atas pun saya belum datangi. Apakah kalian juga yang menyiapkan pakaian-pakaian yang ada dalam kamarku?"


"Iya, nona. Setiap setahun sekali kami akan memasuki kamar-kamar yang ada di sini, memperbaharui semua isinya mengikuti trend yang ada di luar sana. Tapi nona tidak perlu khawatir, kami tidak mencuri apapun "


"Bukan itu maksud saya. Saya hanya merasa heran karena bisa melihat pakaian yang tersusun rapi pada rumah yang tidak berpenghuni. Ternyata kakek sudah mengatur semuanya, meskipun rumahnya tidak ada penghuni, tapi ada kehidupan di dalamnya." Athena dengan cepat menyangkal.


"Terima kasih sudah menjaga rumah ini." ucap Athena.


Ketiga mutan itu mengangguk.


"Kami akan pergi sekarang nona. Silahkan nikmati waktu anda bersama keluarga "


Athena tersenyum, sembari melihat mutan mutan itu pergi meninggalkan dirinya. Sebenarnya masih ada bahan makanan yang bisa ia makan hingga hari esok, tapi ia berencana akan di sini selama satu pekan, makanya ia tadi bertanya.


Athena hanya perlu memasak, tidak perlu melakukan aktivitas melelahkan lainnya.


✨✨✨


Setelah sarapan, Athena dan keluarga kecilnya keluar untuk melihat keadaan. Jika biasanya Athena akan melihat tanaman bunga mawar, beda lagi disini, yang ada hanya hamparan rumput hijau dan juga kebun bunga tulip.


"Adek senang nggak?" Athena mencoba menemani anak laki-lakinya bercakap.


Aidan hanya mengoceh tidak jelas.


"Tanah seluas ini, hanya ada satu bangunan besar. Tempatnya masih sangat amat terjaga. Bagaimana bisa?" Raga masih saja heran.


"Bagaimana bisa listrik bisa sampai di sini, sementara tempatnya saja tidak terlacak." Raga masih bertanya-tanya.


Athena mengedikkan bahunya.


"Aku pun masih merasa ada di negeri dongeng, Ga. Bangunan mewah, tanpa akses ke sini, bukit-bukit indah, aku merasa ini semua hanya ada dalam khayalan sewaktu aku kecil."


"Entah bagaimana cara kakek Ares membuatnya, dan siapa yang membantu, aku sungguh akan menyampaikan kekagumanku kepada beliau" ucap Athena.


Menjelang siang, mereka kembali memasuki rumah. Saat anak-anaknya sedang tertidur pulas, Athena malah mengelilingi lantai satu dari bangunan ini bersama suaminya.


Athena lebih dulu membuka pintu yang ada tepat di sebelah kamarnya. Tidak ada yang aneh, hanya berupa kamar seperti biasanya tapi dengan ukuran yang lebih besar. Ternyata ada 5 kamar termasuk kamar Athena. Di pintu ke 6 yang ia buka adalah perpustakaan yang dibuat menjadi dua lantai. Lagi-lagi Athena berdecak kagum melihat desain dari perpustakaan ini. Ada satu hal yang menarik perhatiannya, sebuah buku yang berjudul Ars. Athena menarik buku tersebut hingga melihat finger print yang ditutupi oleh buku tadi.


Athena menatap suaminya, seolah meminta pendapat. Raga yang sama penasarannya hanya mengangguk mengiyakan. Athena memasukkan kembali sidik jarinya. Rak bergeser membetuk pintu terbuka, Athena melangkah masuk. Sekali lagi ia dibuat tercengang saat melihat 3 layar lebar di depannya yang menampilkan grafik pertumbuhan perusahaan. Ada grafik saham juga.


"Bagaimana mungkin?" tanya Athena.


Entah siapa yang menjadi otak semua ini. Saham akan terjual saat harganya melejit dan akan membeli saat harganya sedang jatuh. Pintu yang ada di belakang Athena bunyi, tanda ada seseorang kecuali ia dan Raga. Mereka sama-sama menoleh ke belakang dan melihat keberadaan X.


"Maaf nona, tuan" katanya.


"X, apakah?"


"Ya, nona. Saya yang memantau perusahaan dari sini, saya juga yang mengatur saham. Tapi nona tenang saja, saya hanya mengelola saham yang tuan Ares amanahkan. Soal perusahaan, saya bersumpah tidak pernah mengganggu nya" jelas X.


"Bagaimana kamu bisa memasuki ruangan ini?"


"Lewat pintu tadi, nona. Pintu yang terhubung langsung dengan tempat saya tinggal. Pintunya tidak akan nampak, bahkan hanya dikira dinding."


"Apa ada pintu yang tidak bisa kamu masuki?" tanya Athena.


"Ada, nona" jawab X jujur.


"Pintu yang mana?"


"Pintu yang ada di lantai atas. Ada 3 pintu yang tidak bisa saya buka di lantai atas"


Athena mengangguk mengerti.


"Terima kasih sudah membantu kami menjalankan amanah kakek " ucap Athena sebelum keluar dari ruangan yang tersembunyi ini.


"Dengan senang hati, nona. Salam tuan" hormat X.


Raga hanya mengangguk. Tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih begitu kaget saat ini. Seolah keluarga istrinya yang dipenuhi dengan lapisan kejutan. Dimana setiap kulitnya terbuka ada lagi kejutan di dalamnya.