Athena

Athena
Satu Hari



"Baru pulang The?" tanya Alan.


Mereka berdua bertemu di depan lift, tentu ada Run juga.


"Iya. Kamu dari mana?" tanya Athena.


"Habis main sama teman-teman Lo. Mereka pada asik" jawab Alan.


Athena mengangguk. Alan tipe orang yang mudah berbaur dengan orang baru.


"Tadi sempat balapan juga. Raga jago banget" cerita Alan.


"Balap dimana?"


"Di sirkuit kemarin."


"Emang bisa?" tanya Athena.


Alan mengangguk.


"Dengan bantuan pengawal Lo, semuanya mudah" jawab Alan bangga.


Ya, tadi ia meminta salah satu pengawal banyangan Athena yang mengikutinya untuk menelpon Renal. Alan juga sekalian mengajak pengawal itu untuk ikut balapan bersama lima orang teman Athena. Renal atas konfirmasi dari Mika, menyanggupi permintaan pengawal anaknya.


"Enak banget yah aku tinggalin malah balapan" omel Athena. Ia menarik kuping Alan.


"Yah, kan cowok The. Ya kali mainnya di Timezone." bela Alan sambil mengelus telinganya.


Athena hanya mendengus mendengar pembelaan Alan.


"Aku istirahat dulu. Besok jangan sampai kesiangan"


"Iya-iya The" ucap Alan pasrah.


Mereka akan berangkat ke ibu kota jam 5 pagi. Agar bisa menghabiskan waktunya lebih lama untuk menjelajahi negara G.


"Lo ke pulau naik ini The?" tanya Kevin.


"Iya." jawab Athena singkat.


"Papa Lo keren banget, sampai sewa mini yacht buat anaknya" kata Wildan.


"Iyalah, putri tunggal dia" Alan mengiyakan perkataan Wildan.


"Apanya yang di sewa sih? Kamu gak liat banyak orang gini?" tanya Athena.


Wildan memperhatikan sekitarnya. Benar, banyak penumpang lain yang berada di atas yacht ini.


Entah dimana Min, Run dan Ram berada.


✨✨✨


Alan mengajak teman barunya ke rumahnya untuk istirahat sebentar sebelum mengelilingi negara G.


"Wah, aunty senang nih kalau ramai begini" Indi terlihat sangat senang melihat kedatangan Athena dan teman-temannya.


"Terima kasih, aunty" ucap Eros.


Athena sudah memasuki salah satu kamar tamu di rumah ini. Badannya terasa remuk, ia juga mengantuk. Tanpa melepas sendalnya, ia merebahkan dirinya di kasur king size yang ada di depannya.


"Sarapan dulu yah, habis itu baru istirahat" kata Okan.


Indi sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk tamunya.


"Itu kakak Lo?" tanya Wildan sambil menunjuk salah foto yang ada di dinding.


Semua mata memandang ke foto itu.


"Iya, kakak gue" jawab Alan.


"Ehh, yang itu mirip pak Renaldi deh" kata Eros.


Benar, ia menunjuk salah satu foto yang ada Okan, Renal, Rafa, Athena dan Alan waktu masih kecil.


"Iya, dia Renaldi Maheswari" Okan mengiyakan.


"Om saudaranya pak Renal?" tanya Kevin.


"Teman dekat lebih tepatnya. Ia sudah seperti saudara om sendiri" jawab Okan.


Percakapan mereka terhenti karena Indi sudah memanggil untuk segera sarapan. Padahal jam sudah hampir menunjukkan angka 9.


"Sarapannya kesiangan, maaf yah" ucap Indi.


"Kami yang harus minta maaf, aunty. Kami sudah merepotkan Aunty sepagi ini" kata Eros. Yang lain hanya menganggukkan kepalanya.


"The kemana mami?" tanya Okan pada istrinya.


"Lagi istirahat dia. Mommy nya rewel minta dia segera istirahat pas datang " jawab Indi.


Okan mengangguk.


Setelah sarapan, Indi meminta mereka untuk beristirahat di kamar Alan. Kamar Alan sangat luas, sehingga mampu menampung ke lima orang remaja itu.


✨✨✨


Setelah istirahat, mereka kembali beraksi untuk mengelilingi ibu kota negara G. Alan, Eros, Wildan, Darren dan Kevin berada di mobil yang sama.


Sementara Athena dimobil yang lain bersama Raga. Semua itu berkat kejahilan Alan yang menginjak pedal gas padahal sepasang anak manusia itu belum naik ke mobil.


Raga mengendarai mobil punya Alan. Alan ternyata punya beberapa mobil, ia juga mengoleksi motor.


"Semalam pulang jam berapa?" tanya Raga.


"Gak tahu pulang jam berapa. Tapi pas sampai hotel udah larut banget, jam 1 kayaknya" jawab Athena.


"Kok lama?"


"Yah keasikan main sama uncle Jake, uncle Brian, uncle Brandon dan mbak Ni"


Athena mengangguk.


"Mbak Ni itu siapa?"


"Nanny aku waktu masih bayi" jawab Athena.


Mereka berhenti di sebuah tempat yang sangat terkenal di negara ini. Sebuah tempat wisata yang menyediakan berbagai macam wahana.


"Mau uji nyali nggak?" tanya Alan.


"Lo jangan ngadi ngadi deh minta kita naik roller coaster itu" kata Kevin cepat saat melihat Alan memandangi roller coaster yang sangat cepat.


Alan terkekeh.


"Terus maunya apa?"


"Main jetski boleh deh" usul Wildan.


"Boleh. Di bagian timur ibu kota ada pantai yang menyediakan jetski" Alan mengiyakan.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke tempat yang Alan sebutkan tadi.


"Pasirnya warna pink" takjub Athena.


"Padahal udah sering lihat" cibir Darren.


Athena hanya mendelik tajam ke Darren. Darren terkekeh, ia mengacak rambut Athena.


"Minum es kelapa dulu deh" saran Wildan. Ia tiba-tiba merasa ngiler saat melihat jajanan es kelapa.


"Yok. Sambil nunggu mataharinya tidak terlalu terik" Alan menyetujui saran Wildan.


Jadilah mereka lesehan di atas tikar, dengan es kelapa di atas meja.


"Aku nunggu kalian di sini aja yah. Mager soalnya kalau mau main jetski" ucap Athena.


"Nggak yah. Lo mesti main" tolak Darren.


"Aku mager, serius deh. Atau kamu boncengin aku, mau?"


Darren menggeleng cepat.


"ogah" tolaknya.


"Alan deh"


"big no"


"Wildan" Athena mengedipkan matanya, agar Wildan luluh.


"Sorry, sister. Gue lebih tergoda buat main jetski tanpa penumpang"


"Kevin deh"


"Yang nyaingin Wildan siapa?"


"Eros?"


Eros menggeleng.


"Raga noh" katanya.


"Yaudah, sama Raga aja" pasrah Athena.


Mini yacht membawa mereka ke tengah lautan, mencari tempat yang pas untuk bermain jetski.


Athena terlihat imut dengan celananya yang hanya menutupi hingga lutut atasnya, yang dipadukan dengan baju kaos. Para lelaki tidak perlu ditanya, mereka menggunakan celana renang dan singlet.


Athena sudah duduk manis di belakang Raga.


"Ga?"


Tidak ada jawaban.


"Ga?"


Athena mencubit pinggang Raga.


"Kenapa The?" tanya Raga.


"Aku panggil kok diam-diam aja"


"lagi males ngomong"


"Males ngomong sama aku?" tanya Athena. Ia sudah berdiri, hendak turun dari jetski Raga.


Raga dengan cepat menarik Athena agar duduk kembali.


"Segitunya kamu gak pengen dibonceng sama aku?" tanya Raga.


"Gimana?"


"Pertama, kalau bukan karena Eros yang nyuruh kamu, kamu pasti gak akan duduk dibelakang aku. Kedua, kamu sudah duduk di belakang aku, terus mau pergi lagi"


"Maaf" ucap Athena.


"Mereka udah tahu The tentang perasaan aku." beritahu Raga.


Athena mengangguk. Ia menyandarkan pipinya di belakang Raga.


"Jalan woi. Mesra-mesraan mulu" teriak Kevin.


Raga mulai menarik gas jetski nya, menyusul yang lain mengarungi indahnya lautan negara G.


Tawa ke tujuh remaja itu menjadi irama merdu senja hari ini. Langit begitu cantik dengan cahaya jingganya, begitupun perasaan senang orang-orang yang menyaksikannya.