
"Gak repotin yah jeng kalau Athena tinggal di rumah kamu?" tanya Alda tidak enak.
"Repotin gimana sih jeng? Athena ini anak aku juga lho" jawab Vania.
"Ya iya sih" Alda pasrah.
Mereka berdua berdebat kemana Athena akan tinggal saat keluar dari rumah sakit. Dengan segala jurusnya, Vania meminta kepada Alda, agar mengizinkan Athena tinggal dulu di rumahnya selama masa pemulihan.
"Sayang, baik-baik yah, mamanya jangan direpotkan" petuah Alda. Ia mencium ke dua pipi anaknya.
"Iya, mom." ucap Athena.
"Jangan bandel lho kak" Renal ikut memberi petuah.
"Iya, daddy" Athena mengangguk. Renal lalu mencium kening anaknya.
"Udah gih, naik mobil sana" Alda mengantarkan Athena hingga anaknya duduk di atas mobil, samping Vania.
Athena melambaikan tangannya kepada mommy dan Daddy nya yang melihat kepergiannya menuju kediaman Perdanakusuma.
Yang mengendarai mobil tentu saja Raga, sementara Baskara duduk di kursi penumpang bagian depan. Hubungan Vania dan Raga menjadi begitu dingin, Vania akan bersikap manis jika di depan banyak orang. Ia tentu masih merasa kecewa akan fakta yang baru ia ketahui kemarin. Apalagi disaat yang bersamaan, menantunya juga sedang jatuh sakit.
"The istirahat dulu yah sayang. Nanti mama kesini lagi kalau waktunya makan siang" Vania membantu Athena naik ke tempat tidur yang ada di kamar Raga.
"Terima kasih, ma" ucap Athena.
Vania mengangguk, ia mencium kening menantunya sebelum meninggalkan kamar anaknya.
Raga yang baru selesai berganti baju pun ikut duduk di atas tempat tidur, di samping istrinya.
"I'm so sorry, The" ucapnya tiba-tiba.
Athena menoleh, menatap suaminya.
"Maaf untuk apa?"
"Karena aku ada disaat kamu butuhin aku. Kemarin kamu kesakitan, terus telepon-telepon aku,aku gak jawab. Aku pecundang kan yah?"
"Emang kemarin kamu dimana? Sampai-sampai gak jawab telpon aku" tanya Athena.
"Aku sedang kerja"
"Kerja di hari Minggu? Sama siapa?"
"Pekerjaannya cukup mendesak, The. Sama teman"
"Temen cewek yah?"
"The, you know me so much" ucap Raga.
Athena hanya mampu menganggukkan kepalanya, cukup mengiyakan ucapan Raga.
"Kamu belakangan ini terlalu sibuk yah? Aku beberapa hari di kota C, dan kamu gak hubungin aku?"
"Aku jarang buka ponsel, The, selama kamu gak ada. Aku kerja terus"
"Aku pernah baca kalimat, Ga. Kalimatnya gini, jika kamu adalah prioritas, maka dia akan meluangkan waktunya untuk ngabarin kamu sesibuk apapun dia."
"Aku minta maaf" ucap Raga.
"Jangan minta maaf untuk kesalahan yang akan kamu ulangi, Ga" kata Athena. Ia kemudian mengatur bantal yang ada dibelakangnya, kemudian merebahkan dirinya, ia membelakangi Raga, dan diam-diam mengusap air matanya.
"Hey, kamu kenapa? Jangan nangis hmm" Raga ikut berbaring. Ia membalikkan badan The agar menghadap ke dirinya.
"Aku ngantuk" kata Athena singkat. Ia memejamkan matanya, menghindari percakapan panjang dengan suaminya.
"Kamu marah?" tanya Raga. Ia tahu istrinya belum tidur.
Raga beringsut turun, menenggelamkan kepalanya di perut Athena .
"Kamu marah karena aku gak ada hubungin kamu selama kamu di kota C?" tanya Raga lagi. Ia mendongak menatap Athena yang masih menutup matanya.
"Jangan diamin aku" ucap Raga.
"Kenapa The?Kamu marah?"
Athena bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar. Raga mengusap wajahnya kasar.
"Ma, pinjam mobilnya bisa?" tanya Athena.
Vania yang sedang membuka majalah pun menatap menantunya dengan pandangan heran. Ia berdiri, membawa Athena duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Vania lembut.
Athena menggeleng dalam pelukan Vania, air matanya berjatuhan.
"Raga ada nyakitin kamu?"
Athena tidak memberikan respon.
Vania menunggu hingga Athena merasa tenang. Setelah tenang, ia memegang kedua pundak menantunya, menatap menantunya dengan penuh kelembutan.
"Kalau ada apa-apa, dibicarakan yah dengan baik-baik." kata Vania.
Athena mengangguk.
"Ayo ma, kita buat kue. Tapi kita beli bahan dulu yah" ajak Athena. Ia berharap perasaannya akan segera membaik saat menyibukkan diri di dapur.
"Tapi The harus istirahat sayang" Vania mengelus rambut menantunya.
"Istirahat dulu yah, besok deh baru buat kuenya" bujuk Vania.
Athena tersenyum.
"Baiklah, mama" katanya.
"Ayo, mama anterin ke kamar" Vania kembali mengantarkan Athena ke kamarnya.
"Selamat istirahat sayang" Vania mencium kening Athena.
"Bye, mama"
Athena berjalan pelan menuju tempat tidur. Ia kira Raga sedang tertidur, ternyata Raga tidak ada di atas tempat tidur.
Athena membaringkan tubuhnya dan menutup matanya, berharap ia bisa segera tertidur.
Sementara di bawah sana, Vania menatap sinis anaknya yang menghiba kepadanya.
"Kapan mama bisa maafin Raga?" tanya Raga.
"Kamu udah minta maaf sama istri kamu? Tadi The mau pergi, pinjam mobil mama, tapi mama gak ngasih. Istrimu malah nangis-nangis" cerca Vania.
"Kamu merasa menang udah berhasil menyembunyikan sesuatu dari istri kamu? Kami ini kaum perempuan, Ga, dikaruniai insting yang begitu tajam. Berapa lama kamu udah main dibelakang Athena? Dan kamu masih bisa bernapas dengan tenang sekarang. Jangan-jangan The udah tahu lagi makanya kemarin jatuh sakit" Vania semakin menekan anaknya.
"Mama gak tahu, kamu masih Raga anak mama atau sudah jadi orang lain? Raga anak mama itu gak gini, ia gak akan bohong, menyakiti perasaan perempuan, apalagi menyembunyikan hal besar yang perlu istrinya ketahui. Kamu gak lihat gimana besarnya hati keluarga Athena menyerahkan anaknya untuk hidup bersama kamu? Kamu gak lihat gimana usaha mereka membahagiakan Athena? Kamu gak lihat gimana para lelaki Arunika melindungi Athena? Kamu gak lihat,gimana sayangnya daddy Athena kepada putrinya yang telah kamu sakiti?Kalau kamu gak lihat semua itu, setidaknya pikirkan bagaimana perasaan mama, orang yang mama sayangi telah kamu sakiti" Vania memijit pangkal hidung nya, kepalanya sedikit pusing.
"Raga janji, ma, secepatnya Raga akan selesaikan ini" ucap Raga. Ia memapah mamanya ke sofa ruang tamu.
"Mama jangan banyak pikiran yah" Raga mencium kening mamanya.
Ponsel Raga bunyi, Vania bisa melihat dengan jelas siapa yang menelpon. Tangannya begitu cepat bergerak hingga ponsel Raga terpental di dinding rumah.
"Ma" Baskara yang baru tiba pun merasa kaget melihat kelakuan bar-bar istrinya.
"Jangan belain anak papa." marah Vania.
"Sekali lagi kamu nemuin perempuan itu, mama gak segan-segan untuk bilang sendiri sama The" ancam Vania.
Sementara di anak tangga teratas, Athena juga sama kagetnya melihat saat ponsel Raga dilempar oleh Vania. Tadi ia hendak turun untuk mengambil air minum, tapi langkahnya tertahan mendengar kemarahan Vania. Ia kemudian melanjutkan langkahnya, seolah ia tidak mendengar apa-apa.
Raga semakin dibuat kalut saat melihat Athena turun dengan gelas kaca di tangannya.
"The" ia dengan cepat mengikuti langkah istrinya, tidak peduli lagi pada ponselnya yang sudah hancur.