
29 jam sebelumnya
"Ayah mau kemana?" tanya Ayra.
Jake dan Abraham tiba di kota C sejak dua hari yang lalu. Jake menjemput Ayra di kediaman Athena saat sore hari di hari yang sama ia tiba di kota C. Sekarang masih pagi hari. Jake dan Abraham sudah ada janji dengan Lathief untuk bermain golf.
"Ayah mau bermain golf, sayang" jawabjawab Jakee.
"Aku mau ikut. Boleh?" tanya Ayra.
Jake terkekeh.
"Tentu saja boleh" jawabnya.
"Ayah, hari ini The pake gaun baru, akak The yang beli, ayo foto" ajak anak kecil itu.
Jake mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celananya, nampak fotonya bersama Ayra yang menjadi wallpaper ponsel itu.
"Posenya gimana?" tanya Jake.
"Ayah senyum"
Jake kemudian tersenyum dan berhasil mengabadikannya.
"Terus?"
"Ayah cium pipi The"
Jake kemudian mencium pipi Ayra.
"Wah, fotonya sama ayah aja, kakek nggak di ajak" kata Abraham yang baru keluar dari kamarnya.
"Ayo, kek. Kita foto bersama" kata Ayra.
Abraham ikut foto bersama dengan Jake dan Ayra.
"Tristan juga ikuuut" teriak Tristan dari pintu. Ia baru saja pulang bersama Brian. Mereka berdua lari pagi di sekitar swalayan.
"Sini, kita foto bersama. Kurang uncle Brandon yah" kata Lathief.
"Siapa bilang aku nggak ada? Aku juga ikut dong" Brandon tiba, kaca mata hitamnya masih menutupi matanya.
"Sini unclee" teriak Ayra.
Brandon mendekat. Ia berdiri di belakang sang ayah, sementara Brian dan Jake masing-masing mengapit Abraham. Aura dan Tristan duduk dipangkuan ayah masing-masing.
"What a sweet picture" ucap Abraham. Ia mengelus layar ponsel milik Jake yang digunakan untuk mengabadikan momen pagi ini.
"Kok kamu tiba-tiba di sini?" tanya Jake.
"Nggak tahu, tiba-tiba saja pengen ke kota ini" jawab Brandon.
"Udah udah, kita sarapan dulu" Abraham melerai.
Brandon menyimpan terlebih dahulu backpack nya sebelum ikut sarapan.
"Aku dan ayah akan pergi" beritahu Jake.
"Kemana emang?" tanya Brian.
"Main golf." jawab Abraham.
"Kalian di rumah aja, jaga diri baik-baik" kata Abraham.
"Apaan jaga diri baik-baik" cibir Brandon.
"Ayra juga ikut, kek" kata Ayra.
"Oke sayang"
"Tristan mau ikut juga?" tanya Ayra.
"Aku capek, dek" jawabnya.
"Yaudah, Ayra aja yang ikut" ucap Ayra.
"Yan, Brandon, titip semuanya yah" kata Jake.
"Maksud kamu?" tanya Brian.
"Titip rumah" jawab Jake.
"Ni rumah gak bakal terbang, Jake" kini Brandon yang menimpali.
Jake terkekeh mendengar ucapan saudaranya. So jomblo sejati itu benar-benar sewot selalu nge-gass.
"Ayah pergi dulu yah, kalian jangan cemas terus nyari-nyari ayah" canda Abraham. Ia mengelus kepala kedua anak kembarnya.
"Hati-hati ayah" ucap Brian.
"Jangan terlalu kelelahan, ayah" kini Brandon yang berpesan.
Abraham mengangguk. Ia kemudian melangkah keluar rumah, dimana Jake dan Ayra sudah menunggu.
Sekarang hari libur, jalanan cukup lengang, sehingga mereka bisa sampai di tempat dengan lebih cepat. Ternyata Lathief juga baru turun dari mobilnya.
Kedua orang tua itu bercakap-cakap sebentar, sedangkan Ayra sedang bermanja-manja dengan Jake. Jake duduk di kursi gantung, ada Ayra yang duduk di pangkuannya.
"Siap, ayah. Adek mau seperti akak The" kata Ayra.
"Iya. Akak The baik yah dek?"
"Very nice person, yah. Seperti seorang malaikat" Jawab Ayra.
Lathief melambaikan tangannya dari jauh, seolah meminta Jake untuk mendekat dan mulai bermain.
"Ayra duduk di sini yah, ayah udah mau main. Ini ada makanan ringan dan juga ponsel ayah. Adek boleh pinjam kok"
"Baik, ayah. Semangat mainnya" seru Ayra.
Jake berlari kecil menuju tempat pengambilan stick. Mereka kemudian bermain hingga matahari terasa begitu panas.
"Ayo, kita istirahat. Ini sudah siang" kata Lathief.
Mereka kembali ke ruang istirahat. Terlihat Ayra yang sedang asyik bermain game di ponsel ayahnya.
"Seru banget kayaknya" Abraham mengelus rambut cucunya.
"Iya, kek. Ini lagi dandanin Barbie" ucap Ayra.
"Ayra ikut pulang sama opa mau nggak? Oma kesepian katanya" tanya Lathief.
Ayra menatap ayahnya terlebih dahulu. Jake mengangguk.
"Nanti ayah jemput lagi. Ayah gak ada bawa baju ganti, gak bisa ikut ke rumah Oma" kata Jake.
"Janji yah, ayah?" tanya Ayra.
"Iya, sayang" Jake mengacak pelan rambut Athena.
"Nanti malam makan di rumah yah" Lathief mengingatkan.
"Aman, kak" ucap Abraham.
Ayra berada di gendongan Jake. Jake mengecup pipi anaknya berulang kali sebelum mendudukkan Ayra dikursi penumpang di mobil Lathief.
"Hati-hati , pa" ucap Jake.
"Kak, aku dan Jake pamit yah." Abraham berpelukan sekilas dengan Lathief.
"Jake, hati-hati nyetirnya." pesan Lathief.
"Siap, papa"
"Bye ayah, bye kakek. Ayra tunggu di rumah opa" Ayra melambaikan tangannya pada ayah dan kakeknya yang juga sudah berada di atas mobil.
Ram mulai menginjak pedal gasnya meninggalkan area lapangan golf.
"Opa, aku lupa kembalikan ponsel ayah" ucap Ayra saat menyadari ia masih memegang ponsel ayahnya.
Lathief menepuk jidatnya.
"Kok bisa?" tanyanya.
"Maaf, opa" ucap Ayra. Ia merasa bersalah.
"Nggak apa-apa sayang. Lain kali jangan sampai lupa yah" Lathief merangkul bahu cucunya.
"Iya, opa"
Lathief memperhatikan ponsel yang sedang dipegang oleh Ayra, itu bukan ponsel yang selalu dihubungi oleh kolega. Itu adalah ponsel yang dikhususkan untuk orang-orang terdekat. Lathief dan yang lain juga memilikinya, mereka masing-masing ada dua ponsel. Ponsel khusus akan selalu berada ditangan, sedangkan untuk kolega bisnis, hanya akan digunakan saat berada di kantor.
Lathief baru turun dari mobilnya. Ponselnya berbunyi, ada panggilan dari orang-orangnya.
"Tuan, kami izin melaporkan, mobil yang tuan Jake dan tuan Abraham naiki, mengalami kecelakaan di perempatan. Sekarang kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit" lapor orang tersebut.
"Ram, cepat panggilkan ibu" suruh Lathief.
Ayra hendak turun dari mobil.
"Jangan turun dulu sayang, kita ke rumah sakit bareng Oma yah" Lathief menahan Ayra.
Lathief pun kembali naik ke mobil.
"Kenapa, pa?" tanya Aina.
"Kita ke rumah sakit sekara" kata Lathief.
Jantung Aina berdebar kencang, ia bergegas naik ke mobil.
Ram kembali mengendarai mobilnya ke rumah sakit.
Tidak ada percakapan di atas mobil, hingga suara isak tangis Ayra terdengar.
"Ayra kenapa sayang?" tanya Aina. Ia mengelus pundak cucunya.
"Nggak tahu, Oma. Air mata Ayra keluar dengan sendirinya" jawab anak kecil itu. Ia menangis seperti orang dewasa yang merasakan tekanan lebih.
Mobil berhenti di depan lobi, sudah banyak orang-orang Arunika yang berlalu lalang, tentu saja dengan penyamarannya.
"Mobil saya berada di depan mobil yang dikendarai oleh tuan Jake, sementara mobil si J berada di depan, saat menyadari ada bahaya, si J sengaja mengentikan mobilnya ditengah,seolah memberi kode kepada kamu yang ada di belakangnya untuk berhenti, agar terhindar dari bahaya. Tapi saat itu, mobil tuan Jake berada dalam kecepatan tinggi, mungkin beliau tidak sempat untuk menginjak pedal rem nya, hingga menabrak mobil si J, dan juga mendapat tabrakan dari mobil lain dari sisi kiri dan kanan yang melanggar traffic light." jelas seorang pemuda yang selalu mengikuti kemana Abraham pergi.