Athena

Athena
Back To Desa Kenangan



"Ayra masih drop banget The?" tanya Eros.


Mereka semua sedang berada di rumah 03.


"Udah lebih baik." jawab Athena.


"Lo sendiri?" tanya Kevin.


"Udah sehat kok, Vin. Uncle Brian sendiri yang mantau kesehatan aku. Beberapa hari belakangan, ia meminta salah satu temannya datang untuk mengontrol aku dan Ayra."


"Syukurlah" ucap semuanya.


"Gue ada ide buat balikin senyum Ayra. Gak tahu sih caranya mempan atau tidak, tapi mungkin perlu di coba" celetuk Darren.


"Gimana Ren caranya?" tanya Raga.


"Kita pergi ke desa kenangan, semacam liburan gitu." jawab Darren.


"Tapi kan Ayra sudah lupa akan kehidupannya di sana" Eros menimpali.


Athena menggeleng.


"Ayra hanya lupa beberapa peristiwa, tidak semuanya" kata Athena.


"Boleh lah di pikirkan, sekalian kembali ke zaman kita bertani" Eros menyetujui.


"Aku bilang opa dulu deh, sama uncle Brandon." ucap Athena.


Kelima lelaki itu mengangguk mengerti.


✨✨✨


"Kamu yakin?" tanya Lathief saat Athena meminta izin untuk liburan ke desa kenangan.


"Yakin, opa" jawab Athena.


"Yaudah, nanti opa bilang sama Brandon. Kapan berangkat nya?"


"Secepatnya, opa. The dan Ayra juga harus kembali ke kota C."


"Ehiya yah. Ayra kan masih sekolah, kamu juga mesti kerja" Lathief memukul pelan jidatnya.


Athena terkekeh melihat reaksi spontan opanya.


"Kalau begitu, kalian siap-siap. Berangkatnya nanti sore. Min, Run dan Dina akan ikut. Disana juga ada orang-orang kita yang mengurus perkebunan Abraham." kata Lathief.


"Terima kasih, opa" Athena kemudian memeluk opanya dan segera mencari keberadaan Ayra.


Ternyata Ayra sedang bermain bersama Wipo. Singa itu sudah sangat besar. Ayra yang dulunya berani menggendong nya pun, kini hanya berinteraksi dibatasi oleh pagar besi.


"Dek, kakak akan liburan sebentar ke desa kenangan. Adek mau ikut nggak?" tanya nya.


Mata Ayra berbinar mendengar ucapan kakaknya.


"Boleh?" tanya Ayra.


"Boleh, sayang. Ayra senang kan?"


"Senang, kak. Ayra juga mau mengunjungi makam mama, papa dan kakak. Terakhir kesana waktu sama ayah dan kakek" jawab Ayra dengan suara lirih diakhir kalimatnya.


Athena mengelus rambut adiknya.


"Iya, kali ini sama kakak The yah. Soalnya ayah dan kakek udah bersama mama, papa dan kakak Ayra di atas langit"


"Iya, kakak"


"Bye Wipo, The bawa Ayra dulu" Athena mengelus kepala Wipo lewat lubang pagar.


Singa itu mengaum merasakan lembutnya elusan nonanya.


Wiyu dan Zoya mungkin sedang tertidur, makanya tidak menampakkan diri. Kandangnya dibuat makin besar hingga merambat ke taman Lathief.


✨✨✨


"Harus banget tiba-tiba gini berangkatnya?" tanya Darren.


"Harus" jawab Athena.


Mereka sedang di atas jet pribadi milik Arunika.


"Iya, Vin. Jemputannya bahkan sudah menunggu" jawab Athena.


Mengetahui tentang jati diri Athena sedari dulu, seharusnya mereka tidak sekaget ini lagi. Semuanya seolah berada dalam genggaman sang opa. Hanya bertepuk tangan sekali, maka sesuatu itu akan terjadi.


Ayra sedang dalam pangkuan Raga. Ia nemplok pada tubuh kekar itu.


"Udah cocok Lo Ga jadi bapak" celetuk Eros.


"Iya, kayak bapak-bapak aja yang lagi gendong anak gadis" Wildan mengiyakan.


Raga malah cuek, ia hanya mengelus rambut Ayra yang sedang dalam pelukannya.


"Gak kebayang nanti anaknya Raga bakal gimana. Kalau cowok mah nggak apa-apa, tapi kasian kalo anaknya cewek, bapaknya posesif abis" Kevin melanjutkan pembahasan.


"Kasihan anaknya, bakal jomblo sampai jodohnya datang" Darren setuju.


"Harus itu" kata Raga enteng.


Athena hanya menggelengkan kepalanya heran dengan percakapan ini.


"Ayra tidur, Ga?" tanya Athena.


"Nggak" jawab Raga.


"The, kak Raga nya pegal lho" ucap Athena.


"The" tegur Raga.


Mendengar ucapan Athena, Ayra dengan cepat melepaskan pelukannya. Ia hendak turun dari pangkuan Raga.


"Mau kemana hmm? Sini aja nemplok sama kak Raga. Kak Raga nggak pegel kok, orang Ayra masih kecil, kurus lagi." Raga menahan Ayra yang hendak turun dari pangkuannya.


"Nanti akak The marah" ucap Ayra sangat kecil, hanya Raga yang bisa mendengarnya.


Raga menatap Athena sekilas, tatapan yang mampu membuat Athena tertunduk diam.


Ayra turun dari pangkuan Raga, dan memilih duduk di kursi dekat jendela pesawat yang menyediakan pemandangan yang sangat indah.


Wildan dan Darren yang duduk di hadapan Ayra pun menyambut kedatangan Ayra. Kursi jet ini dibentuk saling berhadapan, seperti ruang keluarga di sisi tengahnya. Namun saat akan landing,semua penumpang harus kembali ke kursi yang telah disediakan yang dibentuk barisan yang rapi.


"Awannya cantik yah, seperti Ayra" ucap Darren.


Ayra tertawa mendengar ucapan Darren. Entah apa yang Wildan dan Darren ucapkan sehingga tawa renyah bisa terdengar dari mulut manis Ayra.


Jet itu mendarat sempurna. Tangan kecil Ayra berada dalam genggaman tangan besar Darren, sementara kopernya di bawa oleh Wildan. Kevin dan Eros berjalan di depan. Sementara Raga dan Alda paling belakang. Raga tidak lagi membuka percakapan, sedari tadi ia hanya diam.


Mobil yang menjemput mereka cukup besar, bisa menampung hingga 8 penumpang. Di bagian paling belakang sudah terisi oleh Wildan, Ayra dan Darren.


"Gue bareng Min aja" kata Raga.


"Nggak, kita semua di sini" Eros menolak.


"Gue yang duduk di depan deh" kata Kevin.


Tapi Athena lebih dulu duduk di kursi depan, samping pak supir. Jadilah kelas tengah diisi oleh Kevin, Eros dan Raga.


Tawa riang Ayra masih terdengar hingga separuh perjalanan. Meskipun ucapan-ucapan Wildan dan Darren cukup garing, tapi rupanya itu bisa membuat tawa Ayra kembali.


"Ayra tidur, Wil?" tanya Raga.


"Iya. Capek banget kayaknya" jawab Wildan.


Mobil berhenti di depan rumah milik Abraham. Rumahnya ternyata habis direnovasi menjadi lebih besar. Dinding depannya masih terbuat dari kayu jati hingga 7 meter ke belakang, selanjutnya terbuat dari bata dan dibuat menjadi dua lantai.


"Kalian masuk duluan aja. Ayra biar aku yang angkat" kata Raga.


Wildan dan Darren mengangguk, ia turun ke mobil lebih dulu dan mengikuti langkah Min memasuki rumah. Rumah ini ternyata benar-benar sangat besar. Ada 5 kamar tamu, dan kamar lainnya adalah kamar milik Abraham, Jake, Brian, Brandon dan Lathief. Lathief tentu meminta Athena untuk tidur di kamarnya.


Merasakan ia sedang berada dalam gendongan seseorang, Ayra segera membuka matanya dan meronta minta diturunkan.


Raga menurunkan Ayra dengan cepat, sebelum anak kecil itu semakin meronta.


"Ayra kenapa?" tanya Raga lembut.


"Jangan gendong Ayra lagi, nanti kak Raga pegal" jawab Ayra. Ia kemudian berlalu masuk dan memasuki kamar ayahnya yang selalu ia tempati saat kembali ke desa ini untuk menemui teman-temannya dan berziarah ke makam mama, papa dan kakaknya.