Athena

Athena
Morning Sunshine



Athena masing asyik memandangi Raga. Tiba-tiba mata Raga terbuka, mereka bertatapan.


"Udah puas liatin aku?" tanya Raga pelan.


Athena langsung membuang tatapannya. Melihat sekitar, asalkan tidak melihat wajah Raga.


Raga mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menepuk space kosong di sampingnya.


"Sini duduk sama aku" pintanya pelan.


Athena keluar dari tendanya. Ia duduk di dekat Raga.


"Kok nggak tidur di dalam?" tanya Athena.


"Entar anginnya kencang, tenda Lo terbang, terus lo ikut terbang" jawab Raga ngawur.


Athena terkekeh kecil.


"Lo cepet amat bangunnya" kata Raga.


"Pengen liat sunrise. Ternyata masih gelap. Lampu kota masih pada nyala" jelas Athena.


Raga mengangguk mengerti.


"Tapi view-nya tetap bagus kok" ucap Raga.


Athena mengangguk mengiyakan ucapan Raga.


"Ga, lihat deh bulannya" tunjuk Athena ke langit.


Bulannya berbentuk bulan sabit, ada bintang yang sangat terang di bagian ujung lengkungannya.


"Cantik" ucap Raga.


"Iya, bulannya cantik" kata Athena.


Raga terkekeh. Ia melepas resleting sleeping bag nya hingga pinggangnya.


"Tadi kamu kayak kepompong pake sleeping bag." Athena kembali menertawai Raga.


"Kepompong raksasa" akui Raga.


Athena terkekeh geli mendengar pengakuan Raga.


"Lihat deh, mataharinya udah mulai muncul. Terus bulannya juga masih ada" Athena dengan cepat mengambil ponselnya untuk memotret matahari terbit dan juga bulan.


"Bisa gitu yah?" tanya Raga.


"Kalau udah terang, bulannya gak keliatan. Makanya kita anggap bulan dan matahari tidak bersinar di waktu yang bersamaan" jelas Athena.


Raga mengangguk.


Athena masih asyik dengan ponselnya, memotret langit, pohon Pinus, matahari terbit juga sekuntum bunga matahari yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Wildan, bangun Lo. Sunrise nya cantik gila" tentu saja Darren yang berteriak.


Wildan bergegas bangun, lalu membuka pintu tendanya, benar mataharinya terlihat cantik. Belum nampak seluruhnya, baru sebagian.


"Ngapain Lo The?" tanya nya.


"Lagi foto" jawab Athena.


"Nggak berfaedah banget fotoin langit" cibir Darren.


"Langitnya cantik yah, biru bersih" bela Athena.


"Iyain" kata Darren.


Raga kembali tertidur saat Athena sibuk dengan ponselnya dan dunia potretnya.


"The, fotoin gue dong. Nih, pake ponsel gue" Wildan memberikan ponselnya pada Athena.


Athena dengan senang hati memotret Wildan.


"Bentar yah, aku siapin sarapan" Athena mengeluarkan beberapa cup mie instan.


Wildan menyalakan kompor portabel yang dibawa oleh Run. Athena memasak air untuk menyeduh kopi terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, Run, Eros dan Kevin juga bangun.


"Rajin amat The bangunnya" ucap Kevin.


"Iya, tadi pengen lihat sunrise makanya bangun cepat" kata Athena.


"Pada mau makan mie nggak?" tanya Athena.


"MAUU" teriak Wildan dan Darren.


Athena mengangguk. Setelah menyeduh kopi, ia lalu menyeduh mie instan cup.


"Raga, bangun Lo. Udah siang banget ini" Kevin menendang betis Raga.


Wildan membantu Athena menyiapkan mie.


"Gue berasa makan di restoran bintang-bintang" ucap Darren.


"Lebih dari bintang-bintang ini mah. Bintang banyak, lihat aja semalam" Wildan menyetujui ucapan Darren.


"Terlihat mevvah" kata Kevin.


"Kak Run sering kesini?" tanya Eros.


"Ini baru yang kedua kali. Beberapa hari sebelum kalian datang, gue dan Min kemari. Awalnya gak tahu ada tempat seperti ini, modal nekat aja jalan-jalan habis berkebun, ehh sampai puncak. Mana pemandangannya juga keren abis" jawab Run.


"Ohiya, kami belum ada liat kak Min selama disini" Kevin baru menyadari.


"Min gak terlalu suka berada di kebun. Biasanya ia akan ikut ke kota bersama pak Abraham" jelas Run.


Kevin mengangguk mengerti.


Raga melihat ponselnya. Ada notifikasi dari papanya.


"Kak Run, boleh kita pulang habis ini?" tanya Raga sopan.


"Kok buru-buru?" tanya Run.


"Orang-orang papa udah di jalan bawa sembako" jawab Raga.


"Wehh, gercep juga om Bas" kata Wildan.


"Sembako buat siapa?" tanya Run.


"Buat warga, kak. " jawab Eros.


"Kok The gak tahu?" tanya Athena.


"Waktu Lo hilang, ehh healing, bokapnya Raga tanya, mau kasih apa ke warga desa? Terus Raga bilang kasih sembako aja, soalnya mereka pada jauh dari kota. Jadilah kami berlima ckck, dibantu para lelaki dewasa itu yang tak lain bokap kami." jelas Wildan konyol.


"I'm sorry" ucap Athena pelan.


"Apasih The? Santailah" Kevin menepuk pelan kepala Athena.


"Selfie dululah" Darren dengan senang hati berpindah posisi ke bagian depan untuk berselfie.


Tak lama setelahnya, mereka bersiap-siap untuk pulang. Tidak ada sampah yang tertinggal, Kevin dengan baik hati memasukkan kantongan sampah ke dalam carrier nya.


✨✨✨


Ada 3 mobil logistik yang memasuki desa. Karena kedatangannya yang tiba-tiba, pak Kades mengumpulkan warganya dengan cara mengumumkan di mesjid. Ada sekitar 750 KK di desa ini.


Keenam remaja itu hanya menyimpan perlengkapan yang dibawanya ke puncak, kemudian berjalan ke balai desa. Untuk menghindari kekacauan, pak Kades meminta warganya untuk berkumpul masing-masing satu dusun.


Run ikut turun tangan membantu memanggil satu persatu nama kepala keluarga atau yang mewakilinya. Beras sebanyak 25 KG, minyak, gula, makanan instan dan juga cemilan dibagi secara merata.


Salah satu sopir logistik berbisik pada Raga.


"Masih ada sekitar 30 paket, pak" beritahu sopir tersebut.


Raga mengangguk.


"Pak kades, apakah ASN juga turut hadir tadi?" tanya Raga.


"Tidak ada ASN disini dek, kecuali kepala sekolah. Guru dan kepala sekolah disini pendatang, bukan warga sini, tidak memiliki KK disini jadi mereka tidak hadir" Pak kades menjelaskan.


"Berapa banyak tenaga pengajar disini?" tanya Eros.


"Hanya 6 orang dik, bersama kepala sekolah" jawab pak Kades.


"Tolong beri mereka 3 paket perorangan, sisanya buat pak kades dan staff" kata Raga.


"Apa tidak terlalu banyak?" tanya salah satu staf desa.


Raga menggeleng.


"Mereka hanya pendatang, bekerja dengan suka rela, ini bahkan tidak apa-apanya dibandingkan dengan jasa mereka" jawab Raga.


Staff itu mengangguk mengerti.


"Maaf pak Kades, kami merepotkan bapak dihari libur, cuacanya juga terik begini" ucap Eros tak enak hati.


"Bukan hal yang besar jika dibandingkan dengan kebaikan kalian. Kalian sampai repot begini. Bapak yang seharusnya berterima kasih karena sudah membantu warga bapak" kata pak kades.


"Ini belum seberapa dibandingkan dengan usaha bapak memajukan desa ini." kata Kevin.


"Jauh dari ibu kota membuat desa kami menjadi terbelakang seperti ini. Apa-apa yang sampai, ukurannya semakin kecil, semakin mahal. Berulang kali bapak mengajukan perbaikan ini itu tapi masih belum ada hasil." pak Kades bercerita dengan lirih.


"Banyak harapan semoga desa ini semakin maju, terutama dalam sektor pertanian" lanjut pak kades.


"Semoga Tuhan memudahkan langkah bapak untuk membawa desa ini menuju kebaikan yang lebih lagi" harap Eros.