
Di hari libur ini, mereka sibuk di depan buku kuning masing-masing. Meskipun mereka pergi dan pulang bersama, di kebun Abraham mereka punya tugas masing-masing. Mereka akan dikumpulkan jika Run akan menjelaskan sesuatu atau jika sedang hari Jum'at.
Di dalam buku kuning, mereka harus benar-benar melaporkan segala kegiatannya, juga mencantumkan waktunya.
"Besok gak jadi petani lagi yah?" tanya Wildan saat melihat halaman terakhir buku kuningnya yang masih kosong.
"Hooh. Padahal masih pengen lihat Athena pake sepatu boots" kata Kevin.
Athena menarik kuping Kevin.
"Suka banget sebut nama aku"
"Kan latihan The, sebelum ijab kabul" Kevin masih ngalus.
"Tahan Wil" seru Darren.
Wildan mengelus dadanya.
"Sabar sabar" ucapnya dramatis.
Kevin dan Eros terkekeh.
"Apaan sih?" heran Athena.
Kevin mengacak rambut Athena.
"Anak kecil gak perlu tahu" katanya.
"Aku udah 14 tahun yahh" seru Athena.
"Masih anak SMP itu. Lihat gue dong, udah 16 tahun" bangga Darren.
"Hah? Gimana?"
"Kelas 3 nanti udah bisa punya KTP, SIM dan kawan-kawannya. Udah legal" jawab Darren.
"Lo kok bisa masih 14 tahun The?" tanya Eros.
"Kata mommy, aku masuk preschool umur 2 tahun, masuk TK 3 tahun, masuk SD umur 5 tahun" jawab Athena.
"Yah, kasian guru SD nya nerima anak kicil" kata Wildan prihatin.
"Nggak gitu yah. Guru sekolah aku waktu TK lulusin aku kok"
"Lo TK dimana deh?" tanya Kevin.
"Di sekolah TK" jawab Athena.
"Yang bilang di SD siapa Maemunah" sarkas Darren yang sejak tadi mendengar percakapan teman-temannya.
Athena terkekeh. Ia kembali melihat laporannya. Sudah siap.
"Sabar. Ngomong sama anak kecil memang butuh kesabaran yang lebih" ucap Raga yang sejak tadi diam.
"Akhirnya bapak Argantara Perdanakusuma mengeluarkan suaranya" kata Wildan sambil menengadahkan kedua tangannya di depan dada, seolah sangat bersyukur.
Athena terkekeh melihat ekspresi jengah Raga.
"Udah semua kan?" tanya Eros.
Kelimanya mengangguk.
"Presentasi di sekolah gimana?" tanya Kevin.
"Santai lah." kata Wildan.
"Santai gigi Lo. Materinya udah bisa semua kan?"tanya Kevin.
"Bisa, Vin." jawab Wildan pasrah.
"Kita udah sepakat untuk bagi materi menjadi enam bagian. Berarti masing-masing dari kita harus menguasi satu materi yang akan dibawakan." jelas Eros.
"Gue pilih materi pengaruh unsur tanah terhadap pertumbuhan kentang deh" kata Darren.
"Gue pengaruh cahaya" kata Wildan.
"Gue pengaruh air dahh. Aman" kata Kevin.
Eros lalu melihat Athena dan Raga secara bergantian.
Raga juga melihat Athena.
"Ladies first" kata Raga.
Athena mengangguk.
"Pengaruh jenis dan kandungan bibit kentang" kata Athena.
"Perbandingan hasil panen antara pupuk kompos dan kimia" kata Raga.
Eros mengangguk.
"Karena masing-masing sudah memilih materinya sendiri, jadi fix yah gue yang dapat proses pertumbuhan kentang?" tanya Eros.
"Aman" teriak semuanya.
Athena suka semua orang yang ada di timnya. Mereka bisa bercanda dan juga serius jika pembicaraan mulai membelok.
"Good night semuanya" kata Athena setelah merapikan buku dan alat tulisnya.
"Sakit, Ga" Kevin mengelus betisnya yang mendapat tendangan maut dari Raga.
"Rasain noh" ejek Darren.
"Pawangnya ngamok" Wildan ikut ngomong.
"Jauh-jauh deh, Vin." saran Eros.
Semuanya lalu terkekeh.
"Gak mau kita bantuin?" tanya Wildan.
Raga menggeleng.
"Slowly. Masa SMA masih ada setahun 2 bulan." jawab Raga.
"Dia perempuan kan? Ya kali gak dia gak ada tertarik sama kita-kita" kata Kevin.
"Untuk sekelas dia, kayaknya kita gak ada apa-apanya" Darren mulai dengan diagnosanya.
"Gerakannya kayak terpelajar gitu, cara ngomongnya juga tenang banget." Eros juga ikut ngomong.
"Dia gak ada nulis nama belakangnya pula. Semangat, Ga. Ini yang pertama buat Lo, semoga Lo gak kaget" kata Kevin.
Raga mengangguk. Benar apa yang semua teman-temannya katakan. Dilihat dari sisi manapun, segala hal yang ada pada diri Athena seolah sudah tertata, sudah tertakar dan ia sudah khatam akan semuanya.
Pagi hari mereka sudah rapi. Para cowok dengan celana Levis panjangnya dan baju lapangannya yang berwarna hijau army. Athena juga terlihat manis dengan celana kain hitamnya dan juga baju lapangannya.
"Udah siap semua kan?" tanya Eros.
"Siap dong" jawab Darren semangat.
Hari ini mereka tidak akan mendatangi kebun lagi, tapi akan melakukan beberapa urusan di rumah pak Abraham.
"Laporannya keren gini. Udah rapi, bapak gak pusing lihatnya" puji Abraham.
"Syukurlah jika bapak suka" kata Eros.
"Bapak tandatangani sekarang yah. Soalnya besok mau ke kota. Nanti di rumah baru kalian isi kegiatan hari ini" Eros menandatangani segala sesuatu yang memerlukan tanda tangannya.
"Terima kasih atas segala bantuan dan ilmunya, pak" ucap Raga.
"Kalian ini masih remaja, bapak jadi semangat memberi pemahaman pada remaja seperti kalian, semangat kalian luar biasa" kata Eros.
"Katanya kalian akan ke kota yah?" tanya Eros setelah ia selesai dengan pekerjaannya.
"Iya, pak. Kebetulan orang tua kami liburan kesini." jawab Kevin.
"Orang tua kami? Orang tua kalian semua?" tanya Abraham
"Kecuali orang tua aku, pak" jawab Athena cepat.
Abraham mengangguk.
"Kok bisa liburannya bersamaan?" tanya Abraham.
"Kebetulan kami tinggal di kompleks yang sama, pak. Orang tua kami cukup dekat. Berhubung tugas yang diberikan oleh pihak sekolah sudah selesai, beliau berinisiatif untuk liburan di kota ini sekaligus melepas rindu" jelas Eros sopan.
"Athena ikut?"
"Ikut pak." jawab Raga dan Kevin cepat.
"Baiklah. Besok bapak juga akan ke kota bersama Run, kita berangkatnya barengan aja, biar lebih ramai" usul Abraham.
"Terima kasih, pak. Maaf sudah merepotkan" ucap Wildan.
"Bukan hal yang besar. Ayo kita makan dulu" ajak Abraham.
Mereka tidak makan di taman, melainkan di ruang makan yang ada di dalam rumah. Meja makannya cukup panjang, ada 6 kursi yang berbaris di masing-masing sisinya, juga satu kursi di sisi Utara dan Selatan.
Ayam goreng dengan sambel lalapan juga kangkung tumis menjadi santapan siang mereka.
"Terima kasih untuk makan siangnya, pak" ucap Eros sopan.
"Kalian ini sudah mengucapkan banyak terima kasih hari ini." canda Abraham.
"Besok berangkatnya jam 8 pagi yah." beritahu Abraham.
"Baik, pak. Terima kasih sekali lagi" mereka lalu bersalaman sebelum meninggalkan rumah Abraham.
"Aku gak apa-apa ikut kalian?" tanya Athena saat mereka sudah sampai di rumah.
"Gak apa-apa, The. Santai aja" jawab Wildan.
"Nanti aku ganggu"
"Nggak, The. Bunda gue bahkan paksa gue untuk bawa Lo. Bunda penasaran sama koki cilik kami" kata Eros.
Athena mengangguk.
"Masih pada lapar?" tanyanya.
Kelima lelaki tersebut menggeleng.
"Nanti sore aja masaknya. Lo istirahat gih" suruh Darren.
Athena lalu memasuki kamarnya. Ia menyusun barang penting yang akan dibawanya besok. Ponsel, dompet, charger dan juga 1 set pakaian.