Athena

Athena
Part 230



"Gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Raga.


"Nggak ada, Ga." jawab Athena. Ia lalu berjalan menuju J yang sudah menunggu disamping mobil.


"J, tolong jaga rumahnya yah. Saya akan kembali 5-6 bulan ke depan." ucap Athena.


"Baik, nyonya. Dengan senang hati akan saya laksanakan" kata J sopan.


Setelah dirasa semuanya siap, mereka lalu ke bandara. Kemarin Athena ke mansion nya, untuk pamit kepada para pekerja, tak lupa ia juga mengunjungi kediaman nenek Amrita, pamit juga kepada Harsha.


"Terima kasih, J. Saya titip rumah dan perusahaan." kini Raga yang mengucapkan rasa terima kasih nya.


"Sama-sama, tuan. Semoga persalinan nyonya dilancarkan, diberi seorang anak yang sehat dan sempurna" J tentu saja mendoakan segala hal terbaik buat nyonya nya dan keluarga nya.


Raga mengangguk. Ia menepuk pundak J sebelum melangkah mendekati istrinya.


Athena membantu Anne melambaikan tangan balita itu.


"Bye-bye uncle J" katanya.


J tersenyum. Ia membungkuk sejenak, melepaskan kepergian Athena dan keluarga kecilnya. Ia akan menunggu beberapa bulan ke depan, hingga mereka kembali bersama dengan anggota keluarga yang baru. J baru meninggalkan bandara saat pesawat yang Athena dan keluarganya tumpangi sudah lepas landas.


Perjalanan 7 jam terasa cukup lama kali ini. Sudah beberapa bulan Athena tidak menaiki jenis transportasi terbang ini. Artinya, sudah cukup lama ia meninggalkan kota dimana ia dibesarkan.


Anne duduk anteng dipangkuan Raga, menikmati keindahan alam yang bisa ia lihat di jendela pesawat.


"Awannya cantik yah kak" Terdengar suara Raga mengajak anaknya bercakap.


"tik"


"Iya, cantik. Seperti anak papa" Raga mencubit pelan pipi anaknya.


Di bandara, sudah ada Min yang menunggu kedatangan sang nona. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu.


"Apa kabar, Min?" sapa Raga kepada pengawal istrinya.


"Saya baik-baik saja, tuan. Selamat datang kembali tuan, nyonya dan nona kecil" ucap Min.


Athena tersenyum, tidak ada yang berubah dari pengawalnya.


"Silahkan nyonya, mobilnya sudah siap" Min mempersilahkan para majikannya untuk menaiki mobil, dan ia yang akan mengendarainya hingga sampai di kediaman mereka di Kompleks Arunika.


Di kediaman 06, sudah ramai. Ada keluarga dari kedua belah pihak yang sedang menanti kedatangan anak-anak dan cucu mereka.


"Kakak udah tiba, mom" beritahu Ayra sambil berlari kecil.


Mereka semua keluar rumah. Renal dengan cepat memeluk anaknya, tak lupa mencium kening sang anak.


"Anak daddy makin cantik" katanya.


Athena mencium punggung tangan daddy nya. Raga juga melakukan hal yang sama.


"Siniin cucu opa" Renal lalu mengambil Anne dari gendongan Raga, membawanya masuk ke dalam rumah, memberikan kesempatan kepada anak dan menantunya mendapat ucapan selamat datang dari Alda, Vania dan Baskara.


Alih-alih ikut memberikan selamat datang kepada sang kakak, Ayra malah mengikuti langkah daddy nya memasuki rumah. Sejak tadi ia gemas melihat Baby A yang pipinya semakin chubby.


"Daddy, mau gendong" ucapnya.


"Emang bisa?" tanya Renal khawatir.


"Coba dulu, dad" rengek Ayra.


Renal memberikan Anne kepada Ayra, tapi ia tidak benar-benar melepaskannya.


Ayra mencium pipi Anne berulang kali. Setelah puas, barulah ia memberikan nya lagi kepada sang Daddy.


"Udah, dad. Taruh di bawah aja, biar main sama aku" kata Ayra.


Renal menyempatkan mencium lagi pipi cucunya sebelum meletakkan nya di atas karpet.


"Ayo, panggil Ayra"


"Aiiii" oceh Anne, ia sampai memanjangkan iramanya hingga giginya nampak.


Tangan Ayra refleks bertepuk tangan.


"Pinter nya"


Renal tentu saja mengabadikan momen-momen tersebut. Anak bungsunya kini sudah besar, beberapa tahun lagi Ayra akan meninggalkan dirinya seperti Athena. Sementara anak tengahnya kini sedang sibuk bekerja, menjalankan usaha keluarga. Waktu berlalu begitu cepat. Anaknya yang pertama bahkan akan memberikannya cucu yang kedua.


Renal mengusap wajahnya.


"Anak-anak tumbuh dengan cepat. Athena sudah akan memberikan kita cucu yang kedua, Nevan sidah sibuk dengan pekerjaannya, sekarang saya lihat Ayra sudah besar, lihat saja, sudah bisa menjaga ponakannya."


"Kamu enak. Athena besar, masih ada Nevan. Nevan besar, masih ada Ayra. Saya gimana, Raga anak satu-satunya. Raga besar, kerja, gak ada lagi anak kecil yang bisa dirawat" Baskara ikut curhat.


Obrolan ala bapak-bapak galau berlanjut, hingga Mika datang dan ikut nimbrung.


"Mommy siapin kamar kakak di bawah dulu yah, biar gak capek naik turun tangga terus" beritahu Alda pada anaknya.


"Iya, jangan capek-capek lho sayang" Vania ikut memperingati.


"Terima kasih mom, mama" ucap Athena senang.


Kesenangan Athena makin bertambah saat mendapati Mika dan Ivana memasuki rumahnya. Ia memeluk Mika, merasakan rindu pada bapaknya.


"Sehat-sehat yah sayang, papa mau ngobrol dulu sama daddy dan papa mertua kamu " kata Mika. Ia tentu tak lupa menyapa Vania dan mencium sekilas pipi adiknya, Alda.


"Mama Ivana" Athena memeluk Ivana.


"Mama udah sehat kan?"


Ivana tersenyum.


"Mama sehat, sayang. Anak mama gimana? Cucunya mama gimana?" Tangan Ivana mengelus perut Athena.


"Aku dan dedek bayi sehat, ma" jawab Athena.


✨✨✨


Rumah kembali sepi, hanya meninggalkan keluarga kecil Athena dan Ayra yang masih belum pulang.


"Kak, bawa pulang baby A boleh?" tanya Ayra.


"Kalau baby A nyariin kakak, gimana?" tanya Raga balik.


Ayra menggaruk pelipisnya. Tidak tahu harus menjawab apa. Benar apa yang kakak iparnya katakan.


"Atau Ayra yang nginap di sini aja gimana?" tawar Athena.


"Nggak, kak. Nanti aku repotin kakak lagi" tolak Ayra.


"Repotin gimana nih? Kak Raga senang kalau ada yang repotin, apalagi kalau adik perempuan kakak ini yang repotin" Raga merangkul bahu Ayra, yang sudah ia anggap adik sendiri.


"Lain kali deh aku nginap nya, tunggu weekend, biar bisa bangun telat bareng baby A" kata Ayra.


"Kakak tunggu lho yah" ucap Athena, ia sedang membantu Anne makan.


"Num" Anne menunjuk botol minumnya.


Ayra mengambilkan botol milik Anne, membatu balita itu minum.


"Ciii" oceh Anne.


"Sama-sama" Ayra mencubit pelan pipi Anne.


Raga dan Athena sama-sama tersenyum melihatnya.


Saat gelap akan menyapa, Ayra pamit untuk pulang. Renal bahkan sudah menjemput anak bungsunya.


"Daddy makin posesif aja" heran Athena.


"Gimana gak posesif, anak-anak daddy yang lain pada punya kehidupan sendiri. Tinggal si bungsu yang belum, kalau bisa daddy bakal kekepin terus adiknya, daddy kurung di rumah, biar gak bisa kemana-mana" kata Renal.


Raga terkekeh mendengar ucapan mertuanya.


"Daddy bisa aja "


"Bye kak!" Ayra melambaikan tangannya sebelum naik ke gendongan belakang Renal.


"Awas dek, nanti tulang daddy remuk" khawatir Athena.


"Daddy dengar lho yah" teriak Renal tanpa berbalik.


Athena dan Raga kompak tertawa kecil.