Athena

Athena
Familia (2)



Pagi-pagi sekali halaman villa bagian depan sudah ramai. Alex dan keluarganya pamit lebih dulu. Mereka harus segera kembali ke Thaenk City pagi ini. Dian dan Sandi juga menyusul meninggalkan puncak.


Setelah melihat kepergian kedua keluarga itu, Arion mengeluarkan pengeras suara yang disambungkan ke laptop. Ia akan menjadi instruktur senam di pagi yang buta ini.


PUTAR KE KIRI EEE


NONA MANIS PUTARLAH KE KIRI KIRI SAYANGA E


SEKARANG KANANG EEE


NONA MANIS PUTARLAH KE KANAN KE KANAN


KE NANAN MANISE


Alda, Ivana, Inayah, Dewi, Indi dan juga Alda mengikuti gerakan yang Arion lakukan. Arion selaku instruktur senam pagi ini.


Lagu berganti. Arion memutar lagu dari negara sana. Gerakannya sangat cepat, Arion saja bahkan hanya mampu menertawai dirinya.


Setelah senam, mereka semua lalu sarapan. Lalu menyusun jadwal untuk hari ini.


Laki-laki tentu tidak jauh dari berolahraga. Revan dan Azka yang masih kecil juga ikut berkuda. Athena memilih berkebun bersama Dina dan Aina. Sementara yang lain mengadakan piknik ala-ala.


"Opa Lathief juga ikut berpacu kuda?" tanya Aina.


"Iya, Oma" jawab Athena.


"Biarin lah Aina. Raka juga yang sudah tua masih ikut" kata Dina.


Aina mengangguk.


"Nambah lahan apel, Na?" tanya Dina saat melihat sekitarnya.


Aina mengangguk.


"Kebetulan yang punya lahan sedang butuh uang, terus nawarin ke papanya anak-anak, yah dibeli sama dia" jawab Aina.


"Nambah berapa?"


"Sama villa nya yah 9,5 hektar"


"Villa yang mana?"


"Yang diseblah. Berwarna coklat. Sekitar 300 M dari sini" jawab Aina.


"Pantes Oma suka datang ke sini" ucap Athena.


"Udaranya adem, The. Mata juga jadi seger lihat buah-buahan" kata Aina.


"Kamu gak minat nambah lahan di sana?" tanya Aina.


Athena sedang asyik memetik anggur, ia mengisi keranjangnya.


"Kamu mau jual kebunmu?" tanya Dina balik.


"Never." jawab Aina cepat.


"Mrs. Smith beberapa hari menelpon. Ia menawarkan lahan kosongnya. Luasnya sekitar 5 hektar. Kalau kamu mau, kita bagi dua aja. Kalau gak mau juga gak apa-apa sih" jelas Aina.


"Nanti aku bilang dulu ke papanya Renal." kata Dina.


Aina mengangguk.


"Udah penuh keranjangnya?" tanya Dina saat melihat Athena sudah kembali duduk.


"Belum, Oma. Tapi kasihan kalau aku petik banyak terus gak kemakan" jawab Athena.


"Sama anggur pun kasihan?"


Athena mengangguk.


"Sayang kalau terbuang." katanya.


"Na, aku bawa Athena aja yah?" pinta Dina.


Aina melihat cucunya.


"Nanti yah, The bakal kunjungi Oma kok" kata Athena kemudian tersenyum.


"Kenapa bukan kamu yang pulang sih? Kamu punya rumah disini, punya keluarga juga" tanya Aina.


"Lihat nanti deh. Nunggu Raka berhenti kerja" pasrah Dina.


✨✨✨


Sore harinya, The diseret oleh dua kurcaci ke lapangan basket yang berada di samping villa.


"Kenapa?" tanya Athena lembut.


"Akak The jadi wasit. Kak Nevan, kak kembar juga kak Alan bakal main. Kak The yang jadi wasitnya" jawab Revan.


Athena mengangguk.


"Bentar yah, kakak ambil sumpritan dulu di dalam" kata Athena kemudian kembali ke villa untuk mengambil sumpritan.


"Udah siap?" tanya Athena.


Nevan yang satu tim dengan Arvin mengangguk, Arion juga mengangguk.


Priiit


Athena meniup sumpritan nya.


Masing-masing memperlihatkan bakatnya. Nevan yang bahkan masih SMP pun sudah terlihat begitu lihai memainkan basket.


"The, berhentiin dulu" perintah Mika.


Athena meniup sumpritan nya.


"Kenapa kak?" tanya Arion.


"Di suruh berhenti sama papa" jawab Athena.


"Kenapa, pa?" tanya Arion pada Mika.


"Papa juga mau ikut main" jawab Mika.


"Woii, Angga, Randi, Renal, sini kalian" teriak Mika.


"Papa nih, udah tua bukannya istirahat malah mau main" omel Nevan.


"Papa masih muda yah" kata Mika tak mau kalah.


"Udah udah. Hom pim pa dulu sana" kata Athena melerai.


Nevan, Arvin, Renal dan Randi satu tim. Arion, Alan, Angga dan Mika berada di team yang sama.


"The jadi penonton aja. Biar om Okan yang gantiin jadi wasit" suruh Okan.


"Om Okan gak ikut main aja?" tanya Athena.


Okan menggeleng.


"Om lebih suka golf" jawabnya.


Athena mengangguk. Ia ikut duduk di kursi panjang bersama tiga kurcaci yang tadi membawanya kesini.


Okan meniup sumpritan yang entah ia dapat dari mana. Nampak Randi, Mika, Angga dan Renal masih begitu lihai memainkan basket. Seolah mereka tidak mau kalah dengan yang muda. Fisik boleh menuju tua, tapi jiwa tetap muda. Kira-kira kalimat itulah yang mereka anut selama ini.


Pertandingan berakhir seri. Mereka semua duduk berselonjor di pinggir lapangan. Athena datang membawa minum untuk para laki-laki, tentu saja untuk krucil juga.


"Daddy, kata bang Raga sebentar lagi final antara Maheswari dan Nusa Bangsa akan di gelar yah?" tanya Nevan.


Renal mengangguk.


"Setelah di tunda selama 6 bulan karena program lapangan" jawab Renal.


"Wah, pasti seru tuh pertandingannya" Mika ikut nimbrung.


"Jangan lupa live, Ren" kata Angga.


"Aman, bang. Atau gak sekalian nunggu aja pertandingannya biar bisa lihat langsung?"


"Wah, maaf banget nih. Habis dari sini mau berkunjung ke rumah orang tua Dewi dulu" ucap Angga tak enak.


"Bang Randi dan Okan gimana?" tanya Renal.


"Aku akan istirahat sebentar di Arunika sebelum kembali, tapi tetap waktunya gak sampai ke pertandingan" jawab Randi.


"Aku juga gak bisa, Ren. Sorry. Pekerjaan sudah menunggu" Okan meringis gak enak.


"Yah nggak apa-apa. Kita semua udah dewasa sekarang, udah punya anak juga, masing-masing sibuk juga" kata Renal.


"Renal nih yang kualat, umurnya dua tahun di bawah kita tapi bakal mantu duluan" cibir Mika sambil melihat Athena.


"Gimana tuh?" tanya Angga.


"Anak gadis Lo pada udah ada yang notice" jawab Mika jujur.


"Bener The?" tanya Rian yang baru datang. Ia tadi menemani Raka dan Lathief melihat lahan yang akan ditanami stroberi.


"Nggak, om" jawab Athena kemudian melangkah pergi meninggalkan para bapak-bapak yang sedang bercakap-cakap.


"Yah, ngambek dia bang" kata Renal menakut-nakuti Mika.


"Jangan sampai lah, Ren" ucap Mika.


"Awas ntar papa gak boleh lihat akak The selama seminggu" Arion ikut menakuti papanya.


"Kalau hal itu terjadi, siap-siap aja uang jajan kalian papa potong setengah" ancam Mika.


"Bentar dulu bertengkar nya. Ini The gimana?" tanya Randi.


"Aman, Ran" Mika menenangkan.


"Orangnya gimana?" Okan ikut bertanya.


"Yah cakep, tinggi" jawab Mika.


"Sama jago main basket, pa" Arion ikut menyambung jawaban Mika.


"Padahal mau aku jodohin sama Alan" kata Okan jujur.


"Ehh, papi apa-apaan. Alan udah ada gebetan yah di negara G. The itu saudaranya Alan" Alan dengan cepat menanggapi ucapan papinya.


"Selagi dia aman, yah nggak apa-apa. Renal dan bang Mika yang paling tahu kebaikan untuk The diantara kita semua." kata Rian.


"Dia tumbuh sangat cepat. Kayak baru kemarin aku bawa ke kantor" kata Randi.


"Anak-anak memang begitu. Aku aja kayak lagi mimpi tiap lihat Alan udah sebesar sekarang. Tiba-tiba minta mobil, uang jajannya minta ditambah" Okan menertawai dirinya sendiri.


"Menjadi orang tua gak mudah, tapi juga sangat nikmat. Pelajarannya banyak banget. Aku aja yang bobrok gini berusaha keras buat jadi bapak yang baik." kata Angga.


"Kalau lagi ngumpul gini, Rafa ikut hadir nggak yah?" tanya Randi.


"Habis dari sini, kita ketemu Rafa dulu deh" saran Okan.


Mereka semua mengangguk. Rafa akan selalu berada dalam hati mereka, dalam ingatan mereka, membersamai setiap langkah mereka.