Athena

Athena
Ibu Rumah Tangga



Kedatangan Athena disambut heboh oleh Vania. Ya bagaimana lagi, ia seperti kedatangan anak perempuannya saat Athena datang. Ia akan memiliki teman cerita saat menantunya ada di rumah ini.


"Ini titipan dari mommy. Oma Dina sih yang nitip" Athena memberikan paper bag yang dititipkan oleh Alda.


"Terima kasih, sayang. Nanti bilang makasih juga yah ke mommy sama Oma Dina" Vania mengelus pipi Athena.


"Anaknya gak disambut nih?" tanya Raga yang sejak tadi hanya diam berdiri menyaksikan Athena disambut meriah oleh Vania sementara dirinya seperti tak kasat mata.


Vania terkekeh. Anaknya ini cemburuan benar.


"Anak ganteng mama cemburuan sihh" Vania memeluk anaknya, sebelum menggiring keduanya menuju ruang tamu.


"Raga gak ke kantor?" tanya Vania.


"Pulang cepat,ma. Tadi ada acara kecil-kecilan untuk Nevan, makanya pulang cepat" jawab Raga.


"Ehh, Nevan udah ujian yah?" tanya Vania.


"Sudah, mama" jawab Athena.


"Wah, keren nih. Raga kapan?"


"Ini juga lagi nunggu jadwalnya ma" jawab Raga.


"Yaudah, kalian pasti capek. Sana gih istirahat dulu" suruh Vania.


"Mama gimana?" tanya Athena.


"Ini mama mau keluar sebentar. Sahabatnya papa kalian ada di kota ini, terus ngajak ketemu." jawab Vania.


"Mau Raga anterin ma?"


"Nggak usah, sayang. Kamu di rumah aja sama Athena" tolak Vania.


"Mama hati-hati yah" ucap Athena.


"Manisnya anak mama" Vania mencium kening Athena sebelum meninggalkan rumah.


Setelah mobil mamanya tidak terlihat lagi, Raga membawa Athena menuju kamarnya.


"Istirahat gih!" kata Raga, ia mendudukkan Athena di tempat tidur.


Athena mengangguk. Ia mengatur suhu ruangan agar lebih adem, lalu membaringkan tubuhnya.


Raga yang baru keluar dari kamar mandi pun ikut bergabung bersama istrinya di atas tempat tidur. Ia mengusap perut istrinya, seolah ada bayi di dalam sana.


"Pengen banget punya anak?" tanya Athena.


Raga mengangguk cepat .


"Pasti lucu" katanya.


"Kalau Tuhan nunda kasih kita anak gimana?"


"Ya berusaha terus sampai Tuhan kasih" jawab Raga, ia menciumi pelipis istrinya. Merambat ke telinga hingga sampai dileher Athena, mencari kenyamanan di leher sang istri.


"Jangan buat bekas lho Ga. Aku malu kalau mama lihat" peringatan Athena.


"Iya nggak buat, cuman cium-cium aja." Raga menggumam. Tubuhnya sudah berhasil me***dih tubuh Athena, ia semakin semangat melanjutkan penjelajahannya hingga merambat ke dada Athena.


"Boleh buat bekas di sini?" tanya Raga sambil menekan posisi yang ia maksud.


Athena hanya mampu mengangguk.


"Jangan bablas dulu, ini masih siang" katanya.


Raga mengangguk setuju, ia tetap melanjutkan penjelajahannya hingga bisa mencapai dua bukit yang menjadi tujuannya. Ia menggeser posisi nya menjadi miring, juga ikut memiringkan Athena, supaya ia bisa men**su dengan baik.


Tangan Athena berada di rambut Raga, ia mengusap kepala lelaki itu.


"Jangan digigit, Ga." ucapnya saat ia merasa perih.


"Gemesh The" gumam Raga.


Rupanya posisi itu mengantarkan mereka hingga ke alam mimpi.


Athena terbangun saat ponsel Raga berbunyi, ada panggilan dari Clara. Ia hanya menatapnya sekilas dan kembali menyimpannya setelah membuat ponsel Raga dalam keadaan silent. Ia lalu menunduk menatap wajah tenang nan lelap yang kepalanya kini tenggelam di dadanya, sedangkan kedua tangannya memeluk pinggang Athena cukup erat.


Dengan perlahan Athena melepaskan tangan Raga yang memeluknya, kemudian bangkit untuk bangun. Hari sudah sore, ia harus membantu mama mertuanya untuk masak makan malam.


Benar dugaannya, Vania sudah sibuk di dapur. Perempuan paruh baya itu menoleh saat mendengar langkah kaki.


"Udah bangun sayang?" tanyanya lembut.


Athena tersenyum.


"Udah, ma. Maaf terlambat."


"Ehh nggak masalah, sayang." kata Vania.


"The bantu apa , ma?" tanyanya.


"Boleh, ma" jawab Athena excited. Ia membantu Vania memasak beberapa jenis makanan. Makanan yang mereka masak cukup banyak, mungkin tamu Baskara lebih dari 2 orang.


Menjelang malam, semua makanan sudah terhidang di atas meja.


"Kamu bersih-bersih dulu gih. Ini udah hampir malam, tamu papa bentar lagi datang" Vania mengelus pelan pipi menantunya.


"Siap, mama" kata Athena.


Ia berjalan menuju kamar Raga sambil bernyanyi pelan. Menikah ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia bisa memasak dengan Vania, atau mungkin Alda, tergantung bagaimana ia bisa mengatur waktunya.


"Udah mandi?" tanya Athena pada Raga yang sedang duduk di balkon kamarnya.


"Belum. Dari mana hmm?" tanya nya setelah melayangkan kecupan pada pipi sang istri.


"Habis bantuin mama masak. Kamu mandi gih, kata mama bakal ada temannya papa. Nanti aku siapin bajunya" Athena menggandeng tangan Raga hingga di depan kamar mandi.


Malam menyapa, Baskara, Vania, Raga dan Athena menunggu kedatangan tamunya di teras rumah. Hingga beberapa menit kemudian, sebuah mobil keluarga berhenti di depan kediaman Baskara. Sepasang suami istri keluar dari pintu depan, dan seorang perempuan ikut keluar dari pintu tengah.


"Selamat datang Devan, Vita dan Clara" sambut Baskara.


Vania bercipika cipiki dengan Vita dan Clara. Vita, istri dari Devan, dan Clara anak mereka.


"Ada tuan tampan" goda Vita pada Raga.


Semuanya terkekeh mendengar ucapan Vita.


"Kenalin, ini Athena. Menantu kami" kata Baskara memperkenalkan Athena.


"Selamat datang tuan, nyonya dan nona Devanka" sambut Athena sopan.


"Manis sekali" Vita menepuk pelan pundak Athena.


"Ayo masuk, kita makan dulu yah" ajak Vania.


Mereka sampai di ruang makan.


"Clara diam terus, gak nyapa Raga nih?" tanya Vita pada anaknya yang sedari tadi diam.


Pipi Clara bersemu merah.


"Mamii" rengekannya.


"Ayo makan semuanya" kata Baskara.


Mereka makan malam diiringi dengan percakapan ringan.


"Jadwal ujian kamu udah keluar, Ga?" tanya Clara.


"Belum, Ra. Kamu?"


"Besok sih jadwalnya" jawab Clara.


Raga mengangguk.


"Menantu kamu kuliah dimana Van?" tanya Vita.


"Udah selesai dianya." jawab Vania.


"Magister juga?"


"Bukan. The sarjana manajemen juga hukum. Kemarin kuliah dua jurusan sekaligus" jawab Vania.


"Sekarang kerja, dek?" tanya Vita.


Athena tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak, Tante. The di rumah aja."


"Jadi ibu rumah tangga?"


"Iya, Tante" jawab Athena sopan.


"Sayang sekali harus menghabiskan waktu di rumah. Lihat anak Tante ini lho, masih muda dan sebentar lagi dapat gelar magister" kata Vita.


"Kamu ini gimana Vit, aku juga jadi ibu rumah tangga kok " Vania menyelah.


"Iya, jadi ibu rumah tangga juga bagus kok. Tinggal di rumah ngurusin suami, ngurusin rumah juga. Tapi mungkin lebih perfect kalau jadi wanita karir juga" Vita meluruskan maksudnya.


"Terima kasih Tante untuk sarannya." ucap Athena yang diselingi dengan senyuman.


"Raga, makasih lho yah udah jagaian Clara selama tinggal di kota ini. Bentar lagi anaknya akan kami bawa pulang." ucap Devan.


"Sama-sama, om. Bukan hal yang besar" kata Raga.


"Katanya Clara bakal nerusin cabang kamu yang disini? Kok di bawa pulang?" tanya Baskara.


"Nggak enaklah kalau mesti repotin kalian lagi." kata Vita.


"Nggak repot. Kayak sama siapa aja" kata Baskara.