
"Kakak besok jadi perginya?" tanya Nevan.
Sekarang kelima orang bersaudara itu sedang duduk di balkon rumah. Padahal malam sudah cukup larut.
"Kalian nggak apa-apa kakak tinggal?" tanya Athena.
"Nggak apa-apa lah kak. Kita semua udah sebesar ini. Gak ada yang perlu di khawatir kan" Jawab Arion.
"Jangan keluyuran lho yah selama kakak gak ada" pesan Athena.
"Iya Bu bos" kata Bagas mewakili yang lain.
"Kalian istirahat gih, ini udah jam 1 " suruh Athena.
Keempat adik lelakinya bergantian memeluk Athena, mencium keningnya dan juga mengucapkan selamat malam.
Setelah makan malam tadi, Eros meminta izin kepada adik-adik Athena untuk membawa kakaknya liburan. Sisa waktu mereka di kota ini tinggal 3 hari.
Nevan tentu tidak keberatan atas hal tersebut. Kakaknya sudah tidak lama merasakan liburan bersama dengan teman-temannya. Apalagi kelima lelaki yang akan pergi bersama kakaknya adalah orang-orang yang aman, mereka bahkan pernah hidup bersama selama 3 bulan lamanya.
Athena menyiapkan barang-barang yang akan di bawanya esok hari. Setelah itu barulah ia mengganti bajunya menggunakan piyama.
Hari ini cukup melelahkan,lelah pikiran juga raga. Entah hal apa yang akan terjadi nanti setelah tadi siang ia menjadi bahan tontonan orang-orang di aula kantornya. Ia membuka laci nakasnya yang berada tepat disebelah ranjangnya. Ia mengambil kotak berisi cincin yang Raga berikan beberapa bulan lalu. Ia mengusap cincin itu, kemudian menyimpannya kembali. Sepertinya ia harus segera bertemu Oma Aina atau opa Lathief untuk meminta pendapat mereka berdua.
Lama menatap langit-langit kamarnya, mata Athena terpejam, ia sudah memasuki alam mimpi.
✨✨✨
Hari masih gelap, Athena sudah siap. Ia ditemani oleh Nevan dan Arvin menunggu jemputannya.
Arion dan Bagas tadi juga sempat terbangun, tapi tertidur kembali setelah mencium sang kakak.
"Ingat yah jangan keluyuran, nanti ada mbak Mita yang akan masak untuk kalian. Ada Ram juga. Hanya Run dan Min yang akan pergi bersama kakak. Ada yang lain juga yang menjadi kamera opa dan Daddy" pesan Athena.
"Iya kakak" Nevan mencubit pipi kakaknya
Arion hanya mengelus kepala kakaknya.
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mereka. Raga turun dari mobil.
"Udah siap?" tanyanya.
"Udah" jawab Athena.
Raga menatap kedua adik Athena.
"Aku bawa kakaknya yah" izinnya.
"Jagain yah bang" pesan Nevan. Ia cukup posesif.
"Jangan sampai lecet, bang" pesan Arvin.
"Kalian baik-baik yah" Athena mengusap rambut Nevan dan Arvin.
"Iya, kak. Hati-hati bang nyetirnya" kata Nevan.
Raga mengangguk. Ia berhi-5 dengan kedua adik Athena sebelum membawa ransel Athena ke mobil.
"Bye bye kakak" teriak Nevan dan Arvin.
Athena melambaikan tangannya, Raga tentu tak lupa membunyikan klakson mobilnya.
Setelah melihat mobil Raga pergi, dua orang lelaki itu kembali memasuki rumahnya dan melanjutkan tidur.
Sementara mobil Raga sudah berada di jalan raya diikuti Min dan Run dibelakangnya.
"Masih ngantuk hmm?" tanya Raga.
"Kamu tidur aja. Ini juga masih gelap" kata Raga.
"Nggak apa-apa?"
"Iya, sayang. Tidur gih" jawab Raga.
Athena menyandarkan kepalanya di sandaran mobil, Raga mengatur kursi mobilnya agar Athena merasa nyaman saat tidur.
Eros, Kevin, Darren dan Wildan berada di mobil lain. Ide ini tercetus begitu saja, mereka akan mendatangi sebuah desa di dataran tinggi yang ada di kota ini. Mereka hanya membawa perlengkapan seadanya. Di sana ada sebuh rumah yang telah Raga beli saat ia sedang menjalani private course di kota ini beberapa tahun lalu. Rumahnya sederhana, berupa villa sederhana yang hanya terdiri dari 3 kamar tidur. Dindingnya terbuat dari ornamen kayu jati yang disusun rapi
Perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam. Mereka sampai saat jam sudah menunjukkan angka 11.
"Keren banget, dingin woii" teriak Darren heboh.
Di halaman rumah ini, ada banyak tanaman kentang, wortel dan kol.
"Kayak desa kenangan aja" ucap Eros.
"Liburan sekaligus nostalgia, walaupun desanya berbeda" kata Kevin.
"Udah yuk, masuk dulu" ajak Raga. Ia membantu membawa ransel Athena.
"Dagingnya Wil" Darren mengingatkan.
"Gak bakal lupa lah" kata Wildan.
Athena memilih tidur di kamar ketiga. Kamarnya berukuran minimalis, ada kamar mandi di sudut ruangan. Harum kayu jati begitu memanjakan pencium nya. Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat taman kecil yang ada di samping kiri rumah ini. Rasanya pasti sangat menyenangkan bisa menghirup udara segar di sini.
Athena segera mengambil ponselnya, kemudian mengingatkan adik-adiknya untuk makan.
Barulah setelahnya ia bergabung dengan yang lain.
"Kenapa lo gak bilang beli rumah di sini sih Ga?" tanya Wildan.
"Kenapa emang?"
"Gue juga mau. Kalau penat tinggal di kota yah langsung belok aja kemari." jawab Wildan.
"Kayak gak ada puncak aja di kota A" cibir Darren.
"Ga, ada bahan masakan kan di dalam?" tanya Athena.
"Iya, mbak sudah siapin kentang dan wortel. Ada beras juga kok " jawab Raga.
"Yaudah, kalian ngobrol aja. Aku masak dulu"
"Masaknya yang seperti dulu yah The, pake bihun" pesan Kevin.
"Siip" Athena memasuki ruang dapur, ia melihat sekelilingnya. Ada ruang cuci, kitchen set, kulkas dan juga meja makan berukuran minimalis.
Athena terlebih dahulu mencuci beras dan memasaknya di magic com. Ia kemudian mengupas kentang dan wortel untuk dibuat menjadi sup. Ia tentu tak lupa dengan ayam ,tahu dan tempe goreng yang entah di dapat dari mana. Ia hanya membuka kulkas,dan semua yang ia butuhkan ada di dalamnya. Ada cabe dan juga tomat, juga daun kemangi.
"Alasan Lo beli tanah di sini buat apa, Ga?" tanya Eros.
"Nggak ada alasan khusus sih, selain investasi. Saat itu gue baru dapat gaji dari bokap, ditanya mau buat apa gajinya, terus aku cerita ke mentor aku saat itu, yah disarankan buat beli tanah di dataran tinggi. Walaupun gak luas-luas amat, setidaknya ada hasil yang bisa diterima untuk jangka panjang. Selain itu juga lebih ke ketenangan diri sih, kayak kata Wildan tadi, kalau lagi penat karena kerjaan, setidaknya ada tempat istirahat dengan udaranya yang sejuk." jawab Raga.
"Santai lah, Ros. Milik Raga juga milik kita kok. Lo kalau mau nginap sini bilang Raga aja" ucap Darren seenak jidatnya.
"Gue juga terinspirasi dari keluarga Athena sih, pas pergi ada tempat yang bisa mereka singgahi. Jadi gak repot mesti check in, mesti ini itu. Karena bisanya cuman beli lahan segini, yah aku belinya segini aja dulu" kata Raga.
"Keren sih. Gue juga kalau ada duit paling beli tempat tinggal ada di kota yang berbeda" Kevin menimpali.
"Iya, apalagi kita semua suka berpetualang" kata Wildan.