Athena

Athena
The Kurusan



Athena terlihat sangat lucu dengan sepatu boots yang melindungi kakinya.


"Gue kayak liat anak SMP" kata Wildan.


Athena memutar bola matanya.


"Emang aku sekecil itu?"


"Bukan, tapi lucu" kata Kevin.


"Pada ngalus pagi-pagi" seloroh Raga.


"Kuyy berangkat" kata Eros.


Mereka berjalan menuju kebun pak Abraham. Sesekali membalas sapaan dari penduduk yang kebetulan juga sedang berkebun.


"Kentangnya sudah bisa kita panen" beritahu Run.


"Wahh" takjub Athena.


Mereka lalu ikut memanen kentang. Kentangnya dibagi menjadi 3 kelompok, sesuai ukuran. Ada yang kecil, sedang dan juga besar.


"Kentang kecilnya gak seberapa. Lebih banyak yang sedang" kata Eros.


"Pak Abraham pasti senang, percobaan ketiganya berhasil" kata Run.


"Pak Abraham kemana?" tanya Darren.


"Beliau sedang ke kota." jawab Run.


Tak terasa waktu berjalan, sekarang sudah jam 11.


"Sekarang sudah jam 11 siang. Mari kita pulang" ajak Run.


"Belum selesai kak" kata Kevin.


"Orang-orang pak Abraham yang akan menyelesaikan nya. Sekarang waktunya kalian istirahat"


"Pak, bu, kami pamit lebih dulu" ucap Eros mewakili teman-temannya.


Para petani yang membantu pak Eros tersenyum sopan.


Matahari sedang terik. Athena membuka sweeternya untuk ia gunakan menutupi kepalanya.


"Panas banget" Raga menyeka keringatnya yang mengucur di pelipisnya.


"Baru kali ini gue ngerasa berkeringat kayak gini" kata Kevin.


"Nanti juga bakal terbiasa. Kalau siang dan mataharinya terik, pasti akan terasa panas" jelas Run.


"Aku kira bakal tetep dingin" ucap Athena.


"Yah pasti panas kalau mataharinya terik" kata Run.


"Kalian mau mampir dulu nggak?" tawar Run.


"Terima kasih, kak tawarannya. Tapi kami harus benar-benar pulang untuk bersih-bersih" tolak Eros sopan.


Run mengangguk mengerti. Ia memasuki halaman rumah. Sementara keenam remaja tersebut melanjutkan perjalanannya hingga ke rumah sementara.


"Coba aja ada kulkas, pasti enak makan puding saat panas-panas gini" ucap Wildan.


"Padahal tadi pagi dingin banget." kata Eros.


"Athena pasti kabur tuh mandi lebih dulu" tebak Darren.


"Iya, kasian banget tadi liatnya, mukanya cemong gitu" Wildan cekikikan.


"Lagi gosipin aku pasti" kata Athena yang baru ikut bergabung bersama temannya di gasebo luar yang mereka angkat ke teras rumah. Padahal Gasebo itu sebelumnya berada di halaman rumah. Gasebonya tanpa atap, jadi tidak terlalu saat mereka memindahkannya.


"Yeuhh, GR" Raga berdiri dari duduknya. Ia menarik sedikit rambut Athena sebelum berlari memasuki rumah.


"Rambut akuuuuu, Ragaaa" teriak Athena.


Tawa Raga menggelegar setelah mendengarkan teriakan Athena.


"Kayak tikus dan kucing aja" cibir Wildan.


"Hooh, padahal kemarin udah cocok jadi bapak dan anak" kata Darren.


"Apa aja yang ada" kata Kevin.


"Tempe goreng aja yah. Terus sayurnya pake daun labu siam"


"Apa aja The, seadanya aja. Seandainya ada kurir yang bisa nganter makanan, Lo gak perlu capek masak kayak gini" kata Wildan.


"Apa sih Wil? Aku suka masak kok"


Athena kembali memasuki dapur. Kemarin ia ke pasar, membeli bebera tempe juga tahu. Athena cukup gesit dalam hal masak memasak. Teman-temannya sudah wangi semua, sudah tampan lagi.


Athena menyajikan makan siang di tempat biasa, di atas tikar depan TV yang sudah Eros bentangkan.


"Ayo, makan dulu" panggil Athena pada teman-temannya yang sedang asyik menonton sesuatu di laptop Kevin.


Semuanya bubar, mengambil posisi masing-masing.


"Makan yang banyak The. Lo kurusan kayaknya" suruh Wildan.


"Iya, porsi makan The kayak anak kecil" ucap Kevin.


Raga menyendok nasi ke piring The.


"Raga" tegur The.


"Bagus" Darren mengangkat kedua jari jempolnya.


"Lo mesti makan yang banyak The." kata Raga.


"Eros, Raga nih" adu Athena.


"Bener, The. Lo kelihatan kurusan padahal baru seminggu disini" kata Eros.


Raga berhi-five dengan Eros.


Athena mencoba menghabiskan makanannya. Ia tidak terbiasa dengan porsi banyak seperti ini.


"Kasih sambel Ga, biar The semangat makannya" kata Kevin.


Raga menyendokkan sambel ke piring Athena.


Athena hanya pasrah. Hingga ia menjadi yang terakhir menghabiskan makanannya.


Setelah makan, mereka semua leyeh-leyeh di depan TV, menunggu giliran kipas mengademkan badan mereka.


Tok tok tok


Pintu di ketuk, ternyata seorang ibu-ibu.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Athena lembut.


"Tidak, nak. Ini, ibu membuat puding. Cuacanya sedang panas, pas untuk dimakan" kata ibu-ibu tadi.


"Wahh, terima kasih, Bu. Ibu sampai repot-repot begini" ucap Athena tak enak hati.


"Sama-sama, nak. Kalau begitu ibu pamit"


"Hati-hati, Bu" kata Athena.


Ia kembali memasuki rumah sambil menenteng kantong yang berisi puding.


Ia menyimpannya di meja.


"Siapa The?" tanya Eros.


"Ibu-ibu. Gak tahu namanya siapa." jawab Athena.


"Ini, bawa puding"


Mendengar kata puding, Kevin dengan cepat membuka kantongan yang Athena bawa.


"Wil, sini Wil" panggil Kevin senang.


"Akhirnya" ucap Wildan dan Darren bersamaan.


Mereka menikmati manis dan dinginnya puding di siang bolong.