
Butuh waktu lama bagi Raga untuk menguasai dirinya. Ia melihat pergelangan tangannya, sudah pukul 4 sore. Ia harus bergegas pulang dan meminta penjelasan istrinya mengenai hal yang Clara katakan.
Raga membuka pintu rumahnya, berlari kecil menuju kamarnya, tapi ia tidak mendapati sang istri. Ia kemudian membuka connecting door yang terhubung ke kamar Anne, tidak ada anak dan istrinya di dalam sana.
Raga mengusap wajahnya kasar. Kenapa tadi ia sampai hilang kendali, ia pasti terlihat seperti monster di mata Athena.
Raga menakan angka 1 pada ponselnya, panggilan cepat untuk istrinya. Ia mendengar nada dering milik istrinya di kamar, lagi-lagi Athena pergi tanpa membawa ponsel.
Alih-alih membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, ia kembali keluar rumah untuk mencari Min. Namun yang dicari tidak terlihat batang hidungnya.
Raga mengendarai mobilnya menuju rumah mertuanya. Ini kesempatan emas untuknya, karena yang ada di rumah hanya Ayra.
"Kak The ada?" tanya Raga.
"Nggak ada, kak. Emang kak The kemana?" tanya Ayra.
Raga terkekeh mendengar pertanyaan Ayra, seandainya ia tahu, dirinya tentu tak sampai ke kediaman 03.
"Kak Raga pamit yah, mau cari kak The dulu." Raga pamit tanpa menjawab pertanyaan Ayra.
Ayra hanya mengangguk kan kepalanya, sembari melihat iparnya berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan sana.
Kakaknya kemana? Kenapa Raga sampai tidak mengetahuinya. Adakah sesuatu yang terjadi diantara mereka? Ayra menggelengkan kepalanya, menghalau segala pikiran buruk yang merecoki otaknya, juga berharap jika kehidupan kakaknya dalam baik-baik saja.
Harapan Raga kini hanya tersisa rumah papa nya, berharap Athena dan Anne berada di sana, sama seperti beberapa waktu lalu, istrinya memilih rumahnya untuk menenangkan dirinya.
Sesaat setelah mobilnya berhenti dengan sempurna, secepat itu Raga berlari memasuki rumahnya dan meneriakkan nama istri dan anaknya.
"Thee"
"Anne"
"Theee"
Vania yang sedang memasak pun, segera meninggalkan dapur dan berjalan cepat menuju anaknya yang seperti orang kesetanan.
"Ada apa, Ga?" tanya Vania.
"Athena ada, ma?" tanya nya.
Vania menggeleng heran. Tentu saja dirinya heran, bingung, kenapa anaknya mencari istrinya hingga ke rumah ini. Bukankah mereka seharusnya berada di rumah mereka sendiri?
"Kenapa, Ga? Ayo bilang sama mama" Vania memegang kedua pundak anaknya, menuntut jawaban.
"Raga tadi kelepasan, ma. Raga udah jadi monster di depan Athena" jawab Raga lirih.
"Kamu ngapain anak mama, Ga?" tanya Vania marah. Ia menatap anaknya dengan sangat tajam.
"Maaf, ma." ucap Raga tanpa menjawab pertanyaan mama nya.
Vania berlari mengambil ponselnya, ia segera menelpon menantunya untuk menanyakan keberadaan nya. Namun ia harus menelan pil pahit, hingga panggilan ke sekian kali, Athena sama sekali tidak menjawab telpon nya.
"The gak bawa ponsel, ma" ucap Raga.
Vania sudah akan kembali marah, tapi suara Baskara terdengar.
"Ma?" panggil nya.
Vania mencium punggung tangan suaminya.
"Raga kok di sini?" tanya Baskara heran.
"Lagi cari istri nya." jawab Vania judes.
"Lho?"
"Maafin Raga, pa" ucap Raga.
"Kami marahan, pa. Raga yang salah"
"Ya udah, tunggu apa lagi, sana! Kamu pergi susul istri kamu. Jangan pernah berani datang ke rumah ini kalau gak sama The dan anak kamu" usir Vania pada anaknya.
Baskara mengelus pundak istrinya, berharap istrinya bisa lebih tenang.
"Ga, tolong jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab, tolong jadi sebaik-baiknya lelaki, suami dan ayah. Papa minta kamu segera bertemu istri kamu dan segera selesaikan masalah kalian"
Raga mengangguk mengerti mendengar ucapan papanya.
"Raga pamit, pa, ma" ucapnya.
Ia langsung memesan tiket pesawat menuju kota C, masalah mereka berdua harus segera selesai. Kenapa ia bisa sampai begitu marah karena ucapan Clara? Seharusnya ia bisa sedikit bersabar untuk mendengarkan penjelasan istrinya.
Butuh waktu 6 jam bagi Raga untuk sampai di bandara kota C. Banyak hal yang terjadi,ini juga tentu menjadi bagian keberuntungan.
"Bang Raga?" kaget Bagas saat mendapati Raga memasuki rumah.
"Kok gak bilang kalau mau kesini? Aku bisa jemput bang Raga kalau bang Raga bilang" kata Bagas.
"The ada?" tanya Raga to the point.
Bagas makin heran.
"Kak The juga kesini?" tanya Bagas balik.
Raga mengusap wajahnya kasar. Istrinya tentu bukan orang sembarangan, Athena adalah perempuan yang penuh dengan strategi.
"Apa ada masalah, bang?" tanya Bagas hati-hati.
"The pergi" jawab Raga pelan.
"Dan itu karena kesalahan saya "
"Duduk dulu bang" ajak Bagas.
"Gimana bang ceritanya?" tanya Bagas.
"Kalau gak mau cerita, juga nggak apa-apa kok." ucap Bagas cepat.
Raga kemudian menceritakan kronologi sore tadi. Ini sudah sangat larut malam, pagi bahkan akan menyapa.
Mendengar cerita kakak iparnya, ingin sekali Bagas meluapkan emosinya terhadap lelaki yang sedang duduk di depannya. Kenapa abang iparnya ini begitu bodoh?
"Tangan Bagas rasanya ingin memukul bang Raga" ucap Bagas penuh dengan kejujuran.
"Maafin aku, Gas" Raga tentu merasa bersalah.
"Bang Raga tahu siapa lelaki yang kak The temani ke pesta Yudha?" tanya Bagas.
Raga menggelengkan kepalanya.
"Lelaki itu saya, bang." jawab Bagas.
Mendengar jawaban Bagas, tubuh Raga menjadi kaku. Kenapa ia sampai tidak berpikiran sejauh itu?
"Aku kira bang Raga sudah mengenal kak The dengan sangat baik, ternyata belum. Kakak bukan tipe orang yang nyaman dengan orang baru. Bang Raga juga tentu tahu, hanya aku, uncle Brian, Tristan, Regan dan Yudha yang sering menghabiskan waktu dengan kakak. Ada pun Andika masuk hitungan, karena dia adalah atasan kakak semasa kerja, dan kita semua tahu bagaimana kakak selalu menghindar dari Andika." kata Bagas.
"Seharusnya bang Raga bisa bertanya dengan cara baik-baik kepada kakak The. Maaf, bang. Bukan maksud Bagas untuk menggurui bang Raga. Kami juga sudah berjanji pada Opa Lathief untuk tidak lagi ikut campur dalam kehidupan kakak, kecuali sedang dalam keadaan bahaya. Bang Raga istirahat dulu. Ini sudah dini hari" Bagas menepuk pelan pundak suami dari kakaknya.
"Terima kasih, Gas. Dan maafkan saya" ucap Raga sebelum menuju ke kamar Athena yang ada di rumah ini. Ia harus tenang dulu untuk memikirkan rencana kemana ia harus mencari istrinya. Setelah bersih-bersih dan mengganti pakaiannya, Raga merebahkan badannya di kasur empuk yang ada di kamar ini.
"Where you go?" tanya Raga pada dirinya sendiri.
Ia melihat ponselnya, ada foto dirinya, Athena dan Anne yang menjadi look screen juga wallpaper pada ponselnya. Ia mengusap layar ponsel tersebut sembari mengucapkan kata maaf yang hanya dirinya yang bisa mendengarnya.