Athena

Athena
Dibesuk Calon Mertua (2)



Baskara dan Vania masih tertahan di ruang perawatan Athena. Baskara bahkan sudah bercakap akrab dengan Renal. Hal itu juga dilakukan oleh Alda dan Vania.


"Raga gak ada bilang siapa Athena. Anaknya adem ayem aja" cerita Vania.


"Iya, Raga jangan ngomong jeng" Alda mengiyakan ucapan Vania.


"Athena sebenarnya bukan anak kandung saya. Dia anaknya Rafa, sahabat saya yang meninggal saat Athena masih berumur satu tahun. Rafa adalah keturunan terakhir di keluarga Mahendra, sementara ibunya Athena meninggal saat melahirkan Athena. Ibunya Athena juga anak yatim yang tinggal di panti asuhan. Rafa mempercayakan saya untuk membesarkan dan merawat Athena. Anak kami besar tanpa pernah menyebutkan dirinya sebagai seorang Arunika. Ia hanya menuliskan namanya Athena MA , tanpa memberi marga di belakangnya. Ia takut hal tadi terjadi, dimana orang-orang mempertanyakan dirinya. Meskipun jeng dan suami tidak bertanya langsung, saya cukup mengerti saat melihat ekspresi kaget dari wajah kalian. Tapi saya mengerti, orang-orang juga pasti akan merasakan hal yang sama" cerita Alda.


"Tadi saya benar-benar kaget, jeng. Athena terlihat begitu sederhana dan sangat manis. Tidak ada orang yang mengira dia adalah seorang Arunika, bahkan saya sendiri" jujur Vania.


Alda tersenyum.


"Iya, dia terlihat sederhana dan sangat manis." ucap Alda.


"Seandainya bisa, saya berharap agar Athena kecil terus, gak usah besar. Sulit rasanya melihat dia tumbuh besar dan disukai para lelaki" curhat Alda.


Vania terkekeh mendengar curhatan wanita high class di depannya.


"Mempunyai anak gadis ternyata semanis itu yah jeng?"


Alda mengangguk.


"Daddy nya sampai curhat gak pengen Athena menikah"


"Lha gimana dong caranya agar Athena jadi putri saya juga?"


"Jeng juga ingin punya putri seperti Athena?" tanya Alda.


Vania mengangguk cepat.


"Bukan seperti, tapi harus Athena" jawabnya.


Kini Alda yang terkekeh mendengar jawaban Vania. Ia bersyukur anaknya diterima dengan baik oleh kedua orang tuanya Raga.


Pintu ruangan terbuka. Ada Nevan, si kembar, Lathief dan Aina.


"Kok rame?" tanya Nevan heran. Ia kira hanya ada kakaknya dan kedua orang tuanya.


"Sini, nak. Kenalan dulu sama om dan Tante" panggil Alda.


Nevan dan si kembar berjalan ke arah sofa.


"Salam kenal, Tante, om. Saya Nevan, adiknya kakak Athena" ucap Nevan, ia tak lupa mencium punggung tangan kedua orang tua Raga.


"Saya Arvin, om, Tante. Yang ini adik kembar saya, Arion. Kami juga adiknya kakak The" kata Arvin. Ia dan Arion juga mencium punggung tangan kedua orangtuanya Raga.


"Wah, manis sekali" ucap Vania.


"Rumahnya pasti ramai" kata Baskara.


"Begitulah. Anak-anak selalu punya cara untuk membuat rumah agar ramai" Renal mengiyakan ucapan Baskara.


Raga mencium punggung tangan Lathief dan Aina, dan berhi-five dengan ketiga adik laki-laki Athena.


"Raga makin cakep aja" kata Aina.


"Salam, Bu, pak" Baskara menjabat tangan Lathief dan Aina bergantian. Vania juga melakukan hal yang sama.


"Cucu opa dibesukin calon mertuanya yah?" Lathief menggoda cucunya.


"Opa" rengek Athena.


Semuanya terkekeh mendengar rengekan Athena.


Pintu ruang perawatan kembali terbuka. Nampak Mika dan Ivana juga dua orang pengawal membawakan makan malam.


"Makan dimana pa?" tanya Ivana.


"Di bawah aja. Bareng-bareng" jawab Lathief.


Salah satu pengawal keluar untuk mengambil karpet. Ia lalu membentangkan karpet luas itu di tengah ruang perawatan. Alda dan Ivana segera menyusun makanannya. Vania hendak membantu, tapi ditahan oleh Aina.


"Mau makan di mana sayang?" tanya Ivana.


"Di bawah, ma" jawab Athena.


Vania membantu Athena duduk di lantai. Mereka duduk melingkar.


"Bisa makan sendiri?" tanya Vania.


Vania mengangguk.


"Maaf yah, dinner pertama kita harusnya tidak di sini" kata Mika.


"Tidak masalah, pak. Niat kami datang kemari untuk membesuk Athena" respon Baskara.


Mereka semua makan dengan lahap, tidak canggung lagi. Athena bahkan menghabiskan makanan yang Alda berikan tadi.


Setelah makan, tiga orang pelayan datang membersihkan ruangan Athena.


"Gak mual lagi?" tanya Aina.


Athena menggeleng.


"Nggak lagi, Oma" jawabnya.


"Tadi yang bantuin siapa waktu mual?"


"Raga, om sama Tante" jawab Athena.


Di meja lain terlihat Aina, Ivana dan Vania membahas sesuatu. Sementara di depan TV ada Raga, Nevan, Arvin dan Arion yang sedang bermain Uno.


Di balkon kamar rawat Athena, para lelaki sedang bercakap-cakap.


"Terima kasih tadi sudah menjaga cucu saya" ucap Lathief.


"Bukan hal besar, pak" kata Baskara.


"Raga lelaki yang baik. Ia juga cukup tangguh untuk mempertahankan keinginannya agar bisa bersama cucu saya. Saya sendiri tidak pernah menekan setiap lelaki yang ada maupun yang baru akan memasuki keluarga saya. Selagi mereka aman, bersih terjaga dan bertanggung jawab, saya pasti akan menerimanya dengan tangan terbuka." ucap Lathief.


"Bukan begitu maksud saya, pak. Saya tidak bermaksud menekan Raga untuk menjauhi keluarga atas. Sebagai orang tua tentu kita sama-sama mencari jalan aman untuk anak kita. Saat mengetahui jika Athena adalah seorang Arunika, jujur saya kaget. Athena terlihat sederhana dan sangat manis, orang-orang tidak akan berpikiran jika dia adalah seorang Arunika. Raga mengetahui hal ini lebih cepat daripada saya, dan anak saya memilih untuk berjuang, sebagai orang tua, saya dan istri saya hanya bisa berdiri disampingnya, menemani setiap langkahnya. Sungguh pak, saya tidak pernah berpikiran untuk melarang Raga mendekati Athena" Baskara juga perlu meluruskan maksudnya.


Lathief mengangguk.


"Saya percaya." katanya.


"Maafkan perkataan saya jika terdengar tidak layak, pak" ucap Baskara.


Lathief, Mika dan Renal tertawa.


"Saya mengerti, pak. Sebelum melamar mommy nya anak-anak, saya juga merasa kurang percaya diri seperti bapak, mungkin seperti Raga juga saat ini" Renal bercerita.


"Padahal papa gak pernah nuntut saya ini itu sebagai syarat untuk mempersunting putrinya" lanjut Renal.


"Terima kasih sudah menerima anak saya" ucap Baskara.


"Dia layak, pak. Raga ini meskipun pendiam tapi dia pekerja keras. The bahkan pernah bercerita jika Raga menjadi OB" kata Mika.


"Jadi OB nya sampai sekarang yah?" tanya Lathief.


Baskara mengangguk.


"Raga bilang dia akan menjadi OB hingga ujian. Setelah ujian dia minta untuk private course sebelum kuliah" jawab Baskara.


"Udah dapat mentornya?" tanya Lathief lagi.


"Sudah, pak"


"Bentar lagi Raga sibuk, anak-anak pasti uring-uringan temannya hilang satu" kata Mika.


"Apalagi Nevan, lengket banget sama Raga" sambung Renal.


Mereka melihat keempat remaja lelaki itu sedang bermain. Baskara tersenyum melihat tawa lepas anaknya.


"Kami pamit pulang pak, sudah selarut ini ternyata" kata Baskara.


Vania bercipika cipiki dengan para perempuan Arunika.


"Lekas sehat yah sayang" ia memberikan ciuman di pipi Athena.


Baskara juga menepuk pelan kepala Athena.


"Cepat sembuh" katanya.


"Terima kasih, om, Tante udah besuk Athena, udah jagain dan bantuin Athena juga" ucap Athena.


Setelah kepergian Raga dan keluarganya, Athena bercerita jika tadi mama dan papa Raga membantunya saat mual dan muntah.