
Seakan sadar akan sesuatu yang membuatnya badmood, Athena bergegas bangun dari rebahannya.
"Ga, kamar mandinya dimana?" tanya Athena panik.
"Lurus, belok kiri" jawab Raga cepat.
Athena berjalan cepat meninggalkan ruang nonton. Ia jadi mengerti mengapa ia sebaper tadi. Athena membuka kamar mandi. Ia kaget saat mendapati Raga menunggunya.
"Kamu kenapa?" jawab Raga.
"Lagi dapet" jawab Athena lesuh.
"Kok cemberut gitu?"
"Aku gak ada bawa pembalut"
Raga mengangguk mengerti.
"Kamu tunggu bentar yah, aku beliin dulu di bawah"
"Nggak apa-apa?"
Raga menggeleng.
"Nggak malu?"
"Nggak, The" Raga mengelus rambut Athena.
"Bentar yah"
Athena mengangguk.
Sambil menunggu Raga, Athena kembali ke meja bar. Raga ternyata menutup makanan yang tadi dimasaknya.
Tak lama kemudian Raga kembali dengan kantongan hitam di tangannya. Ia memberikannya pada Athena.
Athena segera memasuki kamar mandi. Tidak butuh waktu lama, ia telah selesai dengan urusannya.
"Makan dulu" kata Raga.
Athena mengangguk. Ia mengikuti Raga berjalan ke meja bar. Mereka lalu makan dalam keadaan diam.
Setelah makan, Raga mencuci piring dan Athena membersihkan meja. Setelah itu Athena lalu mengupas buah jeruk, apel dan pear yang tadi dibelinya.
Raga menyalakan TV di depannya, mencari tayangan kartun kesukaan gadis di sampingnya. Athena menyandarkan kepalanya di dada bidang Raga. Perutnya terasa kram jika sedang dapat.
"Perutnya sakit?" tanya Raga saat melihat Athena memegangi perutnya.
"Nggak, cuman kram gitu" jawab Athena.
"Biasanya emang gini?"
Athena mengangguk.
"Biasanya nempel Daddy, papa atau opa."
"Segitunya?"
"Suka aja nempel sama mereka. Hangat gitu rasanya"
"Sama aku hangat juga?"
Athena mengangguk.
"Udah manja yah sekarang?" Raga mencubit pipi Athena.
"Hmm" gumam Athena.
"Ga, ngantuk"
Raga menepuk pahanya, meminta Athena berbaring. Athena berbaring, menjadikan paha Raga sebagai bantalnya.
Raga mengusap kening Athena. Tidak lama kemudian Athena benar-benar tertidur. Raga merasa beruntung bisa melihat sisi lain Athena. Meskipun pernah berada di rumah yang sama selama 3 bulan, Athena tidak pernah menampakkan sisinya yang seperti sekarang. Mengeluh jika sakit, bermanja-manja dan juga merajuk.
Raga ikut memejamkan matanya, menyadarkan bahunya di sandaran sofa. Tangannya masih berada dikening Athena.
Raga kembali terbangun saat merasakan pergerakan Athena. Athena menyembunyikan wajahnya di perut Raga, tangannya juga memeluk pinggang Raga.
"Daddy"
Raga mendengar lirihan Athena. Ia menggelengkan kepalanya takjub, gadis ini benar-benar anak Daddy nya. Raga mengelus rambut Athena, yang ternyata membuat gadis itu kembali terlentang.
"Aku bangunin kamu?" tanya Raga.
Athena menggeleng.
"Bukan parfum Daddy yang tercium, makanya langsung kaget gitu. Ehh baru nyadar ternyata kamu" jawab Athena.
Gadis itu kembali menenggelamkan wajahnya di perut Raga.
"Manjanya anak orang" kata Raga.
"Biarin"
"Iya" Raga mengalah.
Ia tidak ingin mengganggu Athena yang sedang mood swing.
"Ga, aku pengen makan bakso deh" ucap Athena.
"Mau bakso yang di mana?" tanya Raga.
"Yang di warung pojok"
"Aku yang beliin atau delivery aja?"
"Delivery aja"
Raga mengangguk. Ia lalu mengotak atik ponselnya. Athena kembali duduk, ia melihat Raga yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Seru banget" ucap Athena.
Raga merangkul pundak Athena, menempatkan kepala Athena dibahunya.
"Sekarang sama hp aja cemburu yah?" goda Raga.
"Sikiring simi hp iji cimbiri yih" Athena mengikuti cara bicara Raga dengan mengganti huruf vokalnya menjadi 'i' semua.
"Udah aku masukin sidik jarinya, gak boleh cemburu lagi sama ponsel" kata Raga.
Athena mengangguk senang.
"Pinjem"
Raga memberikan ponselnya pada Athena. Pertama, ia membuka galeri ponsel Raga. Ada 5 album di galerinya. Yang pertama Life, My Hero, Childhood, Dewiku dan terakhir desa kenangan.
"Who is Dewi?" tanya Athena. Ia mendongak menunggu jawaban Raga.
"My first love maybe. Ehh, second love after my parents" jawab Raga.
Athena mengangguk.
Ia memilih membuka album Life. Ada foto Raga sejak masih janin hingga kemarin saat perayaan ulang tahunnya di rooftoop AN resto.
"Kok album Dewiku gak dibuka?" tanya Raga.
"Nanti kamu marah."
"Buka deh"
Athena lalu membuka album Dewiku. Betapa kagetnya dia saat mendapati banyak fotonya di ponsel Raga.
"Athena adalah dewi. Itulah kenapa aku memberi nama foldernya Dewiku"
"Padahal udah mau pamit akunya"
Raga mengelus rambut Athena.
"Sampai kapan masa mood swing kamu?"
"Gak tahu. Maaf yah aku repotin kamu" ucap Athena.
"Gak repot, The" kata Raga.
Bell apartemen Raga bunyi. Sepertinya pesanan bakso milik Athena sudah datang.
"Bentar yah" kata Raga.
Athena mengangguk. Ia juga ikut berdiri, berjalan ke dapur. Ia menyiapkan mangkuk dan juga sendok di meja bar.
"Kok cuma satu?" tanya Athena.
"Kamu mintanya dua?" tanya Raga balik.
"Bukan buat aku, tapi buat kamu" jawab Athena.
"Aku makan yang kamu masak aja." kata Raga.
"Tapi supnya udah dingin, Ga"
"Nggak apa-apa, The. Yuk makan"
Mereka kembali makan untuk yang kedua kalinya hari ini. PMS membuat Athena dan para perempuan selalu lapar dan menginginkan makanan yang terlintas di pikirannya.
"Sisanya masih mau di bawa pulang?" tanya Athena.
Raga mengangguk.
Athena lalu membuka lemari perabot yang ada di dekat kulkas. Ia menemukan satu set kotak makan. Athena memasukkan sisa makanan yang masih ada. Sup kentangnya, ayam goreng, tahu dan juga tempe goreng. Sambelnya ternyata sudah ludes.
Athena kemudian mencuci piring dan membersihkan dapur juga meja bar.
"Ga, pulang sekarang yuk. Aku kangen daddy dehh" kata Athena.
"Oke dehhh" Raga mengangguk.
Athena menyampirkan tasnya di bahunya. Lalu mengambil paper bag yang berisi makanan.
"Udah?" tanya Raga.
Athena mengangguk.
"Paper bag nya biar aku yang bawa. Kamu gak boleh angkat yang berat-berat" Raga mengambil paper bag dari tangan Athena.
"Raga sok tahu ihh"
"Aku udah cari tahu yah tentang PMS, udah baca juga lamannya"
"Iya iya"
✨✨✨
Raga menginjak rem mobilnya di depan kediaman 03. Athena membuka pintu mobil Raga dan segera berlari memasuki rumahnya.
"Daddy" teriaknya.
Renal yang kebetulan sedang bermain catur di taman segera meninggalkan permainannya dan mencari asal suara sang putri. Ia kaget saat mendapatkan pelukan erat dari sang putri. Nevan yang sedang bermain dengan Daddy nya pun ikut berdiri.
Tak lama kemudian Raga masuk dengan perasaan was-was.
"Kakak kenapa?" tanya Renal lembut.
"Rindu Daddy" jawab Athena lalu melepaskan pelukannya.
Renal mengelus rambut anaknya.
"Wahh, Daddy hapal nih." kata Renal.
Nevan menghembuskan nafasnya lega.
"Maaf yah bang, Kakak Nevan biasanya merepotkan kalau lagi dapat" ucap Nevan yang ternyata sudah hapal dengan kebiasaan sang kakak.
Raga mengangguk.
"Terima kasih, Raga. Anak om ini pasti buat kamu repot yah"
"Nggak apa-apa, om. Kalau begitu Raga pamit dulu" Raga mencium punggung tangan Renal, lalu berhi-five dengan Nevan.
Athena menggandeng tangan Daddy nya ke teras untuk mengantar Raga.
"Bye bye Raga." ucap Athena sambil melambaikan tangannya.
Raga tersenyum membalas lambaian tangan Athena, lalu berbalik dan berjalan menuju mobilnya.