
Athena terlihat cantik dengan balutan gaun selutut berwarna dasar hijau mint yang bercorak bunga-bunga di bagian pinggang nya. Ia mengepang rambutnya dengan bantuan mbak yang bekerja di rumahnya. Ia tak lupa memoles wajahnya dengan make up tipis.
Argantara Perdanakusuma
Aku di bawah.
Athena bergegas mengambil clutch nya, tak lupa heels setinggi 5 cm menghiasi kakinya.
"Udah lama?" tanya Athena.
"Sejak 5 menit yang lalu" jawab Raga.
Raga terlihat tampan dengan balutan jasnya, dan juga celana jeans yang menutupi tungkai bawahnya. Mereka lalu menuju ke sebuah restoran yang paling terkenal di kota C.
"Udah ada kado buat Wildan?" tanya Athena.
"Doi minta satu unit" jawab Raga.
"Kamu kasih?"
"Ada 99 unit di gedung itu The, dan Wildan minta satu. Wildan sudah menemani aku sejak kecil, merasakan pahit manisnya hidup. Bagi aku satu unit apartemen tidak cukup untuk menghargai persahabatan kami" jawab Raga.
"Baik banget Mr. Perdanakusuma ini" Athena mencubit pipi Raga.
"Tentu saja Mrs. Perdanakusuma" bangga Raga.
Mereka kemudian tertawa bersama karena percakapan garing mereka.
Raga menggenggam tangan Athena memasuki restoran. Mereka diantar oleh salah satu pelayan restoran menuju ruang VIP yang ada di restoran tersebut.
"Terima kasih, mbak" ucap Athena saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang VIP.
"Dengan senang hati, nona" balas pelayan itu cukup ramah.
Raga membuka pintu ruang VIP. Nampak teman-temannya sudah datang semua.
"Wehh, tuan putri udah datang" sambut Wildan sambil berhi-5 dengan Athena. Ia juga memeluk Athena sebentar.
Athena juga mendapat sambutan yang hangat dari Darren, Kevin dan Eros.
"Makin cantik aja, The" ucap Darren.
"Biasa aja, Ren" kata Athena.
"Fany gak diajak?" tanya Athena.
"Lagi koas dia" jawab Eros.
"Betah amat Lo gak pulang-pulang" kata Kevin.
"Namanya juga lagi kerja, Vin. Mesti jadi bawahan yang taat akan peraturan" ucap Athena.
Darren yang mendengar ucapan Athena hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Temannya yang satu ini benar-benar luar biasa.
"Beda jauhlah sama eksekutif muda seperti kalian. Aku mah jadi staff aja" Athena melanjutkan ucapannya.
"Merendah untuk meroket" kata Wildan.
"Betul" Kevin menimpali.
"Pakai topeng aja terus" kata Eros.
Raga menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Athena dan teman-temannya. Sementara Athena hanya bisa meringis.
"Yang ultah gak bawa kue?" tanya Athena.
"Nggaklah. Gue cuman ngundang kalian untuk makan malam. Sekalian temu kangen sih. Long time no see. Udah 6 bulan lebih gak ketemu" jawab Wildan.
"Bagus deh." ucap Athena
"Bentar yah" Athena meninggalkan tempat duduknya, berlalu keluar dari ruangan.
Tidak lama kemudian ia masuk sambil membawa kue tart ukuran sedang yang berbentuk bundar, tak lupa angka 23 tertancap di kue tersebut.
"Gue nyanyiin gak nih?" tanya Darren pada Wildan.
"Wah, boleh tuh" setuju Kevin.
Mereka berlima lalu bernyanyi seperti anak kecil. Wildan hanya pasrah melihat kelakuan absurd ke lima orang temannya.
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya sekarang juga
Wildan lalu meniup lilin yang ada di atas kue.
"Selamat menjelajahi angka 23, Wil" ucap Athena.
"Thanks The, thanks semuanya." kata Wildan.
"Potong kuenya dong Wil" suruh Kevin.
Wildan memotong kue yang ada di depannya. Tapi ada mengganjal, pisau kue itu seperti tertahan. Wildan kemudian memotong kuenya asal agar bisa melihat benda yang mengganjal pisaunya.
Hal itu tak luput dari perhatian kelima temannya.
"Sayang banget kuenya" kata Kevin, ia mengambil potongan kue yang Wildan potong asal tadi.
Darren juga ikut mencomot.
Di tangan Wildan ada sebuah benda berbentuk persegi.
"The, are you kidding me?" tanya Wildan.
Sebuah Pink diamond berbentuk persegi berada di tangannya. Ukurannya hanya 3x3 cm saja.
"Apaan deh?" Kevin penasaran dengan benda yang ada di tangan Wildan.
"****" umpat Kevin saat melihatnya.
Raga hanya menggelengkan kepalanya. Gadisnya memang luar biasa random. Bisa-bisanya ia memberikan pink diamond kepada Wildan. Raga sendiri tahu, keberadaan permata itu sangat langkah di dunia.
"The, ini barang langkah lho" ucap Wildan.
"I know. Kamu udah punya semua. Mobil ada, rumah ada, apartemen ada.Aku gak tahu mau kasih apa. Kebetulan kemarin Oma biarin kami cincin dari iridium dan dikasih pink diamond diatasnya, yah aku minta sebagian, heheh" cerita Athena.
"Kamu aja yang nentuin mau dibuat jadi apa. Atau jadiin investasi juga bisa" kata Athena.
"The, Lo sadar kan ngasih itu ke Wildan?" tanya Darren.
Athena mengangguk.
"Oma Lo nggak marah?" tanya Kevin.
"Nggak, Vin. Aku mintanya baik-baik" jawab Athena.
Eros hanya mampu meneguk ludahnya.
"Wil, sisain buat gue yah. Buat jadi cincin kawin gue dan Fany" katanya.
"Enak aja" kata Wildan.
"Gue lapar nih" ucap Raga yang sedari tadi hanya diam.
"Makan sana, Ga" kata Wildan.
Di sudut ruangan ada sebuah meja berukuran sedang. Ada banyak jenis makanan di atasnya.
Athena berdiri diikuti yang lainnya untuk mengambil makanan.
"Atapnya dibuka aja deh. Gak hujan kok ini" kata Darren. Ia menekan tombol pada remot yang telah di sediakan oleh pihak restoran.
Sejuknya udara malam mulai mereka rasakan. Bintang pun bertebaran di langit.
"Udah lama gak ketemu, sekalinya ketemu dapat pink diamond" kata Wildan.
"Kalau lu gak mau, kasih ke gue aja" Darren menimpali.
"Halu aja " cibir Kevin.
"Padahal Lo pengusaha tambang, masa minta pink diamond sama gue"
"Tambang sih iya. Tapi gak semua tambang ada pink diamond nya. Itu masih limited edition banget" kata Darren.
"Raga diam-diam baee" kata Kevin.
"Eros juga diam tuh" ucap Raga.
"Tapi Lo yang paling diam yah" bantah Eros.
"Kalau gak diam bukan Raga namanya" Athena menimpali.
Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Eros, Kevin, Darren, Wildan dan Raga terlihat tampan dengan gaya khas mereka masing-masing. Ke lima orang eksekutif muda yang sedang bersama Athena pasti menjadi incaran para pengusaha senior untuk menjadikan mereka menantu. Tampan, mapan dan berkuasa, semua ada pada kelima orang temannya. Semuanya berkuasa pada bidangnya masing-masing.
Athena bersyukur, sejauh ini persahabatan mereka tetap terjalin. Mereka menerima Athena dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mereka tetap bersikap seperti biasa bahkan setelah tahu jika Athena adalah seorang Arunika. Mereka tentu mendukung apapun jalan yang Athena pilih dalam hidupnya, dengan syarat hal itu baik untuk Athena dan tidak merugikan orang lain.
Pertemuan di kafe O beberapa tahun lalu mengantarkan mereka pada persahabatan hingga detik ini. Darren, Wildan dan Kevin masih sama, sama-sama garing. Eros juga masih jadi bapak mereka dan Raga masih menjadi yang paling sedikit bicaranya.