
"Udah siap belum kak?" tanya Bagas di depan kamar Athena.
Athena membuka pintu kamarnya. Ia terlihat cantik dengan gaun yang menjuntai hingga mata kakinya.
"Maafin kakak yah" ucap Athena.
"Never mind. Sekalian biasain diri sih, biar nanti gak kaget pas udah nikah" Bagas lagi-lagi ngawur.
"Emang udah ada calon kamu?" tanya Athena.
"Aku dekatin Sarah aja kali yah?" Bagas minta pendapat kakaknya.
"Emang Sarah suka kamu? Maksud aku feedback nya gimana selama ini?"
"Yah nggak gimana-gimana. Kayak temanan, sodaraan gitu." jawab Bagas.
"Kalau menurut kakak sih, yah nggak apa-apa kalau emang Sarah orangnya. Kita semua kan udah saling kenal, akrab juga, udah seperti keluarga. Semuanya kembali lagi ke kamu, gimana maunya, Sarah nya juga gimana ke kamu" kata Athena.
"Nanti aku bilang deh kalau udah ada perkembangan" ucap Bagas.
Perjalanan menuju gedung resepsi tidak terasa lama, karena diiringi obrolan ringan ala adik kakak.
Bagas merangkul pinggang kakaknya posesif, mereka berjalan seperti sepasang kekasih. Orang-orang tentu saja melihat mereka dengan berbagai macam pandangan. Mereka terlihat sangat serasi, yang perempuan terlihat sangat cantik dan si laki-laki juga terlihat sangat tampan.
"Aku gak salah kostum kan kak?" tanya Bagas. Ia merasa was-was saat mendapati beberapa orang menatapnya seperti hendak menerkamnya.
"Ya nggak lah. Mereka kaget kali lihat wajah tampan kamu" jawab Athena. Padahal ia sama groginya.
Mereka mencari meja yang sudah disiapkan oleh pihak WO. Masing-masing meja sudah namanya .
Athena dan Bagas menikmati makanan yang ada di depan mereka, sambil mendengarkan sambutan dari pihak keluarga.
Suara merdu vokalis band membuat suasana pesta semakin hidup. Mereka membawakan lagu-lagu pop yang membuat orang-orang menjadi begitu menikmatinya.
Athena melihat ke arah pelaminan, betapa manisnya senyum Hana dan betapa bahagianya Yudha mendapat ucapan selamat dari tamu-tamunya. Pandangan Athena berhenti pada satu titik, dimana seorang perempuan cantik sedang bercipika cipiki dengan Hana, dan menepuk bahu Yudha. Seolah mereka terlihat sangat akrab. Athena tentu mengenal gadis cantik itu, namanya adalah Clara Devanka. Mungkin Clara adalah kerabat dari Hana atau Yudha, ia tidak tahu pasti.
"Dek, kakak ke toilet bentar yah. Jangan kemana-mana, tunggu kakak di sini" kata Athena.
"Bagas kayak anak kecil aja yang nggak bisa kemana-mana"
"Bagas"
"Iya iya, gak akan kemana-mana. Kakak tahu kan yah toilet nya dimana?"
"Nanti kakak tanya pegawai nya" jawab Athena sebelum mendekati salah satu pelayan yang berlalu lalang di pesta.
Sejak pagi tadi ia merasa perutnya bermasalah, sudah beberapa kali ia BAB hari ini. Athena memilih memasuki bilik kamar mandi yang paling dekat dengan pintu keluar. Samar-samar ia bisa mendengar suara dari bilik sebelah.
"Iya, Argantara. Aku baik-baik saja."
"Iya, aku hati-hati kok ini"
"Iya, habis ini aku langsung pulang"
"Thanks so much, Ga"
Jantung Athena berdetak sangat cepat. Ia segera menuntaskan hajatnya dan keluar dari kamar mandi. Ia memperbaiki riasannya di depan cermin yang berada di depan bilik paling ujung, yang jauh dari pintu. Tentu memperbaiki riasan hanya kamuflase belaka, alasan utamanya adalah memastikan dugaannya benar atau salah.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat orang-orang keluar masuk dari bilik. Dan tibalah bilik kedua dibuka dari dalam, dan yaaah, yang keluar adalah seorang Clara Devanka. Ia hanya bisa menghela napasnya dengan sangat dalam dan menghembuskan nya dengan pelan. Hal itu ia lakukan hingga ia bisa menguasai dirinya.
Terakhir kali ia berkomunikasi dengan Raga adalah tadi siang, saat ia tiba dari mengantarkan Ayra ke rumah Brian. Hingga tadi sebelum berangkat ke tempat ini, Raga belum membaca pesannya. Entah apa yang sedang berada dalam pikiran Raga. Lelaki itu malah menelpon anak dari sahabat papanya.
Bagas kembali merangkul pinggang adiknya menuju pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai.
"Sekali lagi selamat yah Han, Yud." ucap Athena. Ia memberikan sebuah kotak ukuran sedang kepada Hana.
"Repot segala" Hana memeluk Athena.
"Harus repot dong, kan teman aku" kata Athena.
Bagas juga menyampaikan rasa suka citanya kepada kedua mempelai.
Mereka lalu foto bersama, dan Athena pamit pulang. Bagas lagi-lagi merangkul pinggang adiknya menuju parkiran. Tapi belum sampai di mobilnya, suara seseorang menghentikan langkah mereka.
"Athena" panggil orang itu ragu.
Athena menoleh, rupanya ada Clara, Mr. dan Mrs. Devanka. Ia tersenyum.
"Selamat malam,om, Tante, Clara!" sapanya sopan.
"Selamat malam, The." sapa Mr. Devan.
"Kenal dengan mempelai nya?" tanya Mrs. Devanka.
"Iya, Tante. Kebetulan dulu sempat kerja di device yang sama. Kalau Tante?"
"Yudha ini ponakan Tante."
"Yang ini siapa The?" tanya Clara sambil menunjuk Bagas.
"Saya, Bagas." jawab Bagas dingin.
"Teman kamu The?" Clara lagi-lagi bertanya.
"Iya, saya teman baiknya Athena" Bagas kembali menjawab.
"Hati-hati lho The, nanti Raga tahu. Jaga diri baik-baik. Kalau udah punya suami, jangan terlalu dekat lagi sama temannya. Nanti orang-orang pada ngira kamu murahan" cecar Mrs. Devanka.
"Mii" tegur Mr. Devanka.
"Apaan sih pi? Kan kasihan Raganya. Istrinya malah sama laki-laki lain" Mrs. Devanka benar-benar menampakkan dirinya.
"Yaudah Tante, om, Clara, saya pamit pulang" Athena tentu memilih untuk segera pergi.
"Iya iya" Mrs. Devanka dan Clara tersenyum mengejek.
Alih-alih mengendurkan pelukannya pada sang kakak, Bagas malah semakin mendekatkan dirinya pada sang kakak.
"Suka banget lihat orang makin julid" bisik Athena.
"Lucu kak mukanya. Pengen aku sleding" kata Bagas yang mengundang tawa Athena.
Dengan pikiran dangkalnya, dibelakang sana Mrs. Devanka dan Clara memotret Athena dan Bagas yang berjalan semakin jauh dan menaiki mobil yang sama.
"Kakak baik-baik aja kan?" tanya Bagas saat melihat wajah kakaknya sedikit berubah, terlihat begitu lemas.
"Iya, kakak baik-baik aja. Makasih yah udah temanin kakak kondangan. Sana gih istirahat" Athena mencium pipi adiknya sekilas sebelum berlalu ke kamarnya. Ia segera membuka ponselnya, Raga masih belum membalas pesannya.
Tidak ingin berlarut-larut dalam pikiran negatifnya, Athena segera bersih-bersih dan mengganti bajunya. Kepalanya sedikit pusing, di tambah lagi ia merasa lelah keluar masuk kamar mandi. Ini tentu menjadi pelajaran berharga baginya, untuk tidak mengkonsumsi cabe terlalu banyak. Kemarin ia benar-benar lepas kontrol saat melihat coto yang asapnya masih mengepul, ia terlalu bersemangat memasukkan 3 sendok sambel ke dalam mangkuk cotonya. Padahal Bagas sudah berbaik hati untuk memesankan coto baru.