
Pagi sekali Athena sudah berperang dengan alat-alat dapur. Semalam Jake menelpon kalau hari ini ia akan tiba di desa untuk mewakili Abraham menyerahkan bibit dan juga pupuk subsidi dari RelFath.
Athena sangat lega atas informasi yang diberitahukan oleh Jake. Setidaknya identitasnya akan aman.
"Pagi amat The masaknya?" tanya Kevin.
"Kalian lupa kak Run minta tolong buat bantuin anaknya pak Abraham?" tanya Athena balik.
"Emang ada?" tanya Darren.
"Buka grup Lo!" suruh Wildan.
Darren benar-benar membuka grupnya. Benar, ada pesan yang dikirim oleh Run.
Setelah sarapan, mereka segera berangkat ke balai desa. Disana sudah ada pak kades juga perangkat desa yang lainnya.
"Maaf, kami datangnya terlambat, pak" ucap Eros.
"Kalian tidak terlambat. Tamunya juga belum datang" kata pak Kades.
"Warganya sudah diberitahu pak?" tanya Kevin.
"Ya. Dan mereka sangat antusias. Bibit dan pupuknya juga bisa dibayar setelah panen, dengan harga yang sama pula" jawab pak Kades.
"Wah, beneran pak?" tanya Wildan.
Pak kades mengangguk.
"Mereka ini benar-benar membantu warga." kata pak kades.
"Masih ada orang sebaik mereka di era yang seperti ini. Disaat para orang kelas atas memikirkan dirinya, mereka malah mau berjuang bersama rakyat" jelas pak Kades.
"Setiap orang diciptakan berbeda-beda, pak" ucap Athena.
"Benar, dik" Pak Kades mengiyakan.
Tak lama kemudian yang ditunggu tunggu akhirnya datang. Jake datang bersama Brandon, mereka menggunakan celana selutut juga baju kaos yang mencetak otot mereka.
Brandon hendak berlari menghampiri Athena, tapi berhasil ditahan oleh Jake.
"Ingat, anak itu tidak suka terekspos" bisik Jake.
Brandon menepuk jidatnya. Ia lupa akan jalan pikiran perempuan di Arunika. Untung saja ia tidak berlari mendekati Athena.
3 mobil truk ikut berhenti.
Terlihat pak kades menyambut Jake dan Brandon. Mereka bercerita sejenak sebelum diminta untuk naik ke podium. Para warga sudah duduk di tempat yang telah disediakan.
"Selamat pagi menjelang siang, semuanya." sapa Jake.
Aura kepemimpinannya benar-benar menguar meski lewat suaranya.
"Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan beribu kata maaf mewakili ayah saya yang seharusnya berdiri di depan hadirin semua. Ayah saya kembali ke RelFath beberapa hari lalu, beliau sedang sakit. Terima kasih juga saya ucapkan karena telah menyambut saya, saudara saya juga tim yang saya bawa kemari. Kedatangan saya kesini tak lain adalah menyerahkan bibit kentang juga pupuk subsidi yang telah ayah saya janjikan beberapa waktu lalu kepada kepala desa juga petani disini. Yah, setiap tahunnya kami akan menyuplai bibit tanaman juga pupuk disini. Tentu saja ini subsidi, real dari RelFath, bukan dari pemerintah. Di RelFath, kami mengadakan sebuah pengujian untuk setiap jenis tanaman yang penting bagi sesama, seperti sayuran, buah, padi dan juga jagung. Karena di RelFath adalah sebuah pulau, yang tentunya kita semua tahu suhunya cukup tinggi, sehingga tanaman seperti kentang dan juga kol tak pernah berhasil disana. Hal itu yang membuat ayah saya datang kemari, ingin merasakan jadi petani kentang. Yah, kentang saja, sebab ia dan cucu-cucunya begitu menyukai jenis umbi-umbian itu. Melihat keadaan disini yang jauh dari sentuhan para petinggi, membuat ayah saya terus mengembangkan pengujian di laboratorium agar bibit yang ditanam bisa menghasilkan hasil yang melimpah, tanpa harus menggunakan banyak pupuk dengan alasan mahal. Pemimpin kami mendengar hal tersebut, maka dari itulah pemimpin kami meminta untuk membawa bibit juga pupuk subsidi ke desa ini tanpa perantara."
Semua mata memandang ke arah podium, seorang pria gagah berdiri disana dengan pembawaannya yang santai tapi tetap berkharisma.
Setelah menurunkan semua barang dibawanya, Jake, Brandon dan rombongan kembali bertolak kembali.
Para warga terlihat sangat senang, karena mereka tidak perlu mengeluarkan banyak uang, juga tidak perlu bersusah-susah untuk mendapatkan bibit dan pupuk.
"Bapak tadi terlihat begitu tampan" kata Wildan.
"Hooh, beda tipislah sama pemilik sekolah" ucap Darren.
"Lo baris di mana Ga?" tanya Eros.
"Belakang Kevin lah" jawab Raga kemudian berhi-five dengan Kevin.
"Ini nih, contoh murid kekurangan akhlak." cibir Darren.
"Sesama kurang akhlak jangan saling menghina" kata Eros.
"Iya bapak Eros" ucap Darren dan Kevin barengan.
"The, Lo lihat wajah pemilik sekolah?" tanya Wildan.
Athena mengangguk.
"Lihat. aku kan baris di depan" jawab Athena.
"Sama seperti gue dong The" kata Darren.
"Iyain The biar cepet" suruh Kevin.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari balai desa ke rumah sementara.
"Kapan yah gue bisa ke RelFath?" tanya Darren.
"Kalau mau ke RelFath umur 21-an, seharusnya Lo udah reservasi 6 tahun lalu" Ucapan Eros langsung mematahkan semangat Darren.
"Kalau daftar sekarang perginya kapan?" tanya Wildan.
"Yah, 11 atau 12 tahun kemudian" jawab Kevin.
"Budget nya mungkin bisa ke tutup pake tabungan, antriannya sih yang lama" keluh Wildan.
"Yang bakal Lo datengin itu surga dunia, kata orang. Negeri dongeng. Jeruk yang tingginya kurang dari 1 Meter, buahnya bisa sampai ratusan kilogram. Mangga yang biasanya Lo petik tapi harus pake tangga tukang kebun, disana Lo mau rebahan juga bisa tetep metik mangga. Noh, rumah kita yang katanya kompleks mewah, disana malah jadi kolam renang. Hotel di kota A yang katanya bintang senganu, Lo gak akan lihat di RelFath. Yang bakal Lo lihat adalah penthouse dengan masing-masing kolam renang di dalamnya. Jalan anu yang katanya jantung kota A, gak ada apa-apanya dibanding hutan belantara disana. Habis lewatin hutan belantara, Lo gak akan kepikiran ada kota besar setelahnya." jelas Eros.
"Kamu pernah kesana?" tanya Athena.
Eros menggeleng.
"Baca di laman online" jawabnya jujur.
"RelFath, it's my dream" Darren mulai mendrama.
Athena terkekeh melihat ekspresi Darren.
"Nanti kita semua pasti ke RelFath kok. Asalkan ada usaha dan juga percaya pada keyakinan" kata Athena.
"Pulang nanti gue daftar deh, gak apa-apa nunggu sampai 11 tahun" kata Kevin.
"Hooh, Lo bertiga juga mesti daftar" tunjuk Wildan pada Eros, Darren dan Raga.
"The gak Lo suruh?" tanya Raga.
"The Lo yang daftarin lah" jawab Wildan.
Athena terkekeh mendengar jawaban ngawur Wildan.
"Aku bersih-bersih dulu yah, kalian lanjutin ceritanya sambil nungguin anak-anak" pamit Athena.
Yah, hari ini mereka kembali mengumpulkan anak-anak yang pernah bimbel bersama mereka. Ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir buat mereka, atau bisa jadi akan ada pertemuan lagi nanti. Waktu, usaha dan semesta akan menjawabnya. Manusia hanya mampu berusaha dan berharap, hasil akhir tetap ada pada ketentuan yang telah tertulis.