
"Nona, ini keranjangnya" mbak penjaga villa memberikan Athena keranjang yang cukup banyak dengan ukuran sedang.
"Terima kasih, mbak" ucap Athena sopan.
Mbak itu mengangguk, sebelum meninggalkan Athena dan teman-temannya.
"Keranjangnya buat apa The?" tanya Lala.
"Pada mau petik buah nggak?" tanya Athena.
"MAUUU" seru semuanya.
Sebelum pulang, Athena mengajak teman-temannya ke kebun anggur dan apel yang berada di belakang villa.
"Ngajaknya pas mau pulang" gerutu Irvandi.
Athena terkekeh mendengar gerutuan Irvandi.
"Petik sana, tapi di makan. Jangan sampai dibuang" kata Athena.
"Bawa pulang boleh?" tanya Feby.
"Boleh" jawab Athena.
Semuanya bersorak senang. Kapan lagi mereka bisa bebas memetik anggur dan apel tanpa dipungut biaya.
Bastian memetik anggur dan langsung makan di tempat, sesekali ia mengisi keranjangnya. Irvandi juga terlihat sibuk mengagumi buah anggur di depannya. Kaum perempuan jangan ditanya lagi, mereka tentu tak lupa untuk mengabadikan momen langkah ini.
"Kebun ini punya siapa The?" Arsya.
"Punya Oma" jawab Athena.
Arsya mengangguk.
"Berarti villa yang depan juga punya Oma Lo?" tanyanya.
"Iya, Arr"
"Keren deh" ucap Arsya. Ia sesekali memetik anggur yang dilewatinya.
Sebelum buahnya di masukkan ke dalam plastik, Galang meminta mereka untuk berjejer. Laki-laki jongkok di bagian depan, sementara perempuan berdiri di belakangnya. Galang kembali memasang tripod nya agar bisa memotret mereka semua.
"Udah" ucap Galang.
Mbak juga tadi menyiapkan plastik yang bisa diisi buah.
"Yah, tas gue gak muat" keluh Lala.
"Gampang, La. Bentar taro tengah aja" kata Soni.
Soni dan Lala tetanggaan. Mereka ke sini saling boncengan.
Sebelum benar-benar meninggalkan villa, mereka tak lupa membersihkan area yang mereka tempati camp. Tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak dan para penjaga villa.
"Terima kasih, mbak, mang" ucap Athena.
"Dengan senang hati, nona" kata mbak.
"Hati-hati, nona"
Athena mengangguk. Ia berjalan ke mobilnya dan segera meninggalkan area villa.
"Mampir makan Indomie Yook" seru Soni. Ia berteriak agar teman-temannya bisa mendengar.
"Di bawah sana ada tanah lapang, ada warungnya juga" beritahu Athena.
"Lo pimpin jalan The" suruh Irvandi.
Athena kembali berada di depan. Ia belok kanan di pertigaan agar bisa sampai ke tempat lapang yang ia bilang tadi.
Lokasinya tidak terlalu jauh dari villa. Dan juga sudah terjangkau oleh masyarakat luas. Buktinya sudah banyak orang yang duduk di warung-warung yang berjejer hanya untuk menikmati udara yang sejuk juga semangkuk mie instan yang kuahnya masih mengepul.
"Nikmat euy" celoteh Arsya yang baru menyendok kuah pertamanya.
"Maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan" Dwi ikut berkomentar.
Athena juga terlihat begitu menikmati semangkuk mie instan rasa Coto yang ada di depannya. Rasanya sangat nikmat.
Ponsel Fany berdering, ada panggilan dari Eros. Fany sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan Eros, karena teman-temannya begitu ribut.
"Dwi, Lo pulang sendiri nggak apa-apa kan?" tanya Fany.
Dwi mengangguk.
"Mau kemana emang?" tanya Dwi.
"Eros tadi nelpon, katanya ia dekat di daerah sini, dia bakal jemput aku, ehh sekalian ke mana gitu katanya tadi." jawab Fany.
Dwi mengangguk.
Yah, Dwi mengendarai motor dan berboncengan dengan Fany saat berangkat kemarin.
Dan benar saja, tak lama kemudian 3 mobil datang. Athena juga kenal dengan ketiga mobil itu. Satu milik Eros, Kevin dan Raga. Pintu penumpang depan di mobil Raga ikut terbuka, seorang gadis keluar. Tak lama kemudian Raga juga ikut keluar.
Fany melambaikan tangannya, memberi kode kepada Eros untuk mendekati nya. Laki-laki itu mengelus rambut Fany saat sudah berdiri di belakang sang kekasih.
"Jan mesra-mesraan di depan gue lah" celetuk Dwi.
"Iri banget" Kevin menepuk pelan kepala Dwi.
"The, enak banget kayaknya" kata Wildan. Ia duduk di samping Athena.
"Mantep Wil" kata Athena. Ia lalu meminum air mineral yang selalu ikut di tasnya saat bepergian.
"Kalian mau kemana?" tanya Irvandi.
Yang disebut namanya baru ikut bergabung, sementara Athena berdiri untuk membayar makanan mereka.
"Wehh, gandengan baru bossku." celetuk Naufal.
"Akhirnya Raga memperlihatkan kita siapa perempuan yang selalu berada dalam insta story nya" sambung Bastian.
"Uhhuii" Irvandi ikut menggoda.
Gadis di samping Raga tertawa pelan mendengar godaan teman-teman Raga kepadanya.
"Udah The?" tanya Arsya.
"Udah kok. Mau pulang sekarang?" tanyanya.
"Pulang deh. Gue kayaknya rindu kasur" jawab Audy.
Athena mengangguk, ia kembali ke tempat duduknya tadi untuk mengambil tasnya.
"Eros, titip Fany yah." ucapnya.
"Amanlah The" jawab Eros.
"Fan, buah Lo gimana?" tanya Dwi.
"Anterin ke rumah yah" pinta Fany.
"Oke deh" kata Dwi.
"Bye semuanya!" Fany melambaikan tangannya ke teman-temannya.
"BYE FANYYYYY!" teriak mereka heboh.
Fany tertawa melihat kehebohan teman-temannya.
"The bawa mobil sendiri Fan?" tanya Raga saat melihat Athena malah naik ke mobil off-road yang sempat membuat Wildan dan Darren ribut.
Fany mengangguk.
"She ia a good girl. No, she is angel in this world" ucap Fany.
Athena membunyikan klakson mobilnya.
"See you, Fan, semuanya" katanya sebelum menginjak pedal gasnya.
"Gilaaa, The kalem gitu seleranya gak main-main" seru Kevin.
"Wrangler Rubicon" lirih Wildan. Sedari tadi ia begitu kagum melihat Jeep itu.
"Aku sepertinya pernah lihat dia" ucap perempuan yang duduk di samping Raga.
"Lihat dimana Lo?" tanya Darren.
"Di pinggir jalan, dia lagi beli jajanan gitu, naik sepeda" jawab Novia. Ya, Novia Foss.
"Aku gak sengaja percikin air ke bajunya juga, soalnya saat itu aku naik mobil" lanjut Novia.
"Ehh atau aku salah lihat mungkin. Yang tadi keren badai, yang kemarin gak gitu" kata Novia.
Raga malah diam. Entah apa yang ada dipikiran Athena sekarang. Seandainya bukan karena papanya yang meminta untuk mengantar Novia ke kebun teh keluarganya, ia tentu tak akan melakukannya. Ayah Novia adalah sahabat dekat sang papa.
"The emang keren. Sangat keren. Rendah hati, baik, lembut, penyayang pula" celoteh Fany.
"Vin, pesan deh. Gue ngiler lihat mangkuk The tadi" suruh Wildan.
Kevin mendelik. Ia hanya mengangkat tangannya dan penjaga warung mendekatinya.
"Mau mie yang seperti dimakan The, mbak" ucap Wildan.
"The siapa dek?"
"Yang bayar tadi, mbak" jawab Fany.
"Oh, rasa Coto yah. Mau berapa?" tanya mbaknya.
"Masih mau Fan?" tanya Eros.
Fany menggeleng.
"Kenyang aku" jawabnya.
"Lo Nov?" tanya Kevin.
"Aku gak suka. Bunda juga ngelarang makan sembarang" jawabnya.
Fany mendelik mendengar jawaban Novia. Apalagi masih ada penjualnya di sini.
"5 aja, mbak" jawab Raga cepat.
"Baik dek, mohon ditunggu" ucap mbak itu sebelum pamit.
"Lo kalau ngomong disaring dulu. Atau paling nggak tunggu orangnya gak ada. Ini tuh bukan makanan sembarang, gizinya udah ditakar sama nutrition food yang ada di pabriknya. Jadi Lo nggak usah sok" sarkas Fany.
"Fan, udah Fan diliatin orang" Eros membujuk pacarnya.
"Lagian kalian ngapain sih bawa-bawa dia? Ngerepotin aja" Fany lanjut mengomel.
"Gak tahu tuh Raga" kata Wildan.
"Fan, kita anterin Novia ke villa gue dulu yah." Raga mencoba membujuk gadis di depannya. Pacar sahabat sekaligus tetangganya itu cukup mengerikan jika mengeluarkan kata-kata pedasnya.
Novia yang menjadi bahan pembicaraan pun hanya diam tak berkutik mendengar perkataan Fany. Ia juga mendumel dalam hati.