
Eris sudah tiba di rumah. Ia baru saja pulang dari coffee morning bersama teman-temannya yang sialnya juga mereka berada di kompleks yang sama.
"Maaf yah, makan siangnya jadi lama karena harus nungguin om dulu" ucap Eris.
"Udah biasa dibuat nunggu tanpa kepastian, om." kata Fany.
Semuanya terkekeh mendengar celetukan Fany.
"Udah ngode ini?" tanya Wenda.
Fany hanya nyengir.
"Fany nggak ngode, bunda. Mau jadi dokter dulu" jawabnya.
"Bagus itu. Eros juga mesti sekolah yang besar, biar bisa dampingi Fany nanti" kata Eris.
"Baik, ayah" jawab Eros.
"Kayaknya kita salah rumah ini." celetuk Darren.
"Hooh, salah masuk rumah kita." kata Wildan.
"Yang lain cuma ngontrak" Kevin ikut ngomong.
"Ngomong sekali lagi, bunda gak kasih ayam goreng" ancam Wenda.
Darren, Wildan dan Kevin yang mendengar ancaman Wenda langsung diam, melanjutkan makannya.
Eris hanya terkekeh. Ketiga biang kerok di depannya ini selalu membuat istrinya berubah menjadi macan.
"Jangan sawang yah The datang kesini" khawatir Fany.
Athena terkekeh.
"Tante Wenda lucu gitu mukanya kalau lagi ngancem mereka bertiga" jujur Athena.
Setelah makan, Athena hendak membersihkan meja makan.
"The, gak usah sayang. Nanti mbaknya yang bakal bersihin" larang Wenda.
Athena mengangguk. Ia kembali ke ruang keluarga.
"The, habis ini main ke rumah gue yah?" tawar Fany.
"Nggak. Habis ini The main ke rumah gue. Mama udah nungguin" kata Raga cepat.
"Ehh?" kaget Athena.
Raga memperlihatkan room chatnya dengan mamanya.
"Padahal aku gak ada bilang gitu" ucap Athena.
Raga hanya mengangkat bahunya acuh.
"Tuan Raga mulai posesif" cibir Darren yang sedang tiduran di sofa.
Posisi Darren yang tadi bermain PlayStation digantikan oleh Eros. Darren kini rebahan sambil bermain game online di ponselnya.
"Posesif, keras kepala pula" sambung Fany.
Raga berdiri dari duduknya, menarik kuping Fany.
"Bilang apa tadi?"
"Posesif, keras kepala, suka narik kuping gue. Ntar gue aduin Lo sama Tante Vania" ancam Fany.
Raga melepaskan tangannya dari kuping Fany.
"Sakit astaga" Fany mengelus kupingnya.
"Raga suka banget narik kuping orang" celetuk Athena.
"Lo juga pernah?" tanya Fany.
Athena mengangguk.
"Waktu di desa" jawabnya.
Bagi Eros, Kevin, Wildan dan Darren, melihat Raga dan Fany bertengkar adalah tontonan sehari-hari. Rumah Raga berhadapan dengan rumah Fany.
Tak lama kemudian, Wenda datang bersama pelayan di rumahnya. Kentang rebusnya sudah jadi.
Wildan, Darren dan Kevin kembali berlomba untuk mencicipi kentang rebus tersebut. Wenda hanya menghela napasnya pasrah melihat ketiga anak-anak di depannya yang selalu rusuh jika sedang bertandang ke rumahnya.
"Wahh, kentang kalau dibuat gini enak juga. Hemat minyak" kata Eris.
"Betul om. Harga minyak tiba-tiba melonjak" Raga mengiyakan ucapan Eris.
"Ngikutin perkembangan minyak juga, Ga?" tanya Eros.
Raga mengangguk.
"Gue penasaran ada apa sebenarnya?"
Eris terkekeh mendengar pertanyaan kritis Raga.
"Lo selalu makan ginian di desa The?" tanya Fany.
"Nggak, cuman sekali. Itupun waktu aku dan yang lain ke rumah kades untuk pamitan, terus disuguhi teh dan kentang rebus ini" jawab Athena.
"Sayang banget. Padahal Lo disana meneliti kentang kan yah?"
Athena mengangguk.
"Nyaris setiap hari makan kentang. Tapi tahunya ini di detik-detik terakhir. Pas mau pulang dikasih bekal begini, kami makannya di atas bus"
Athena mengangguk.
"Lebih dari yang gue bayangkan sih" kata Athena.
✨✨✨
Setelah pamit pada Wenda, Eris dan yang lain, Raga membawa Athena ke rumahnya.
"Lo udah ngabarin orang rumah Lo?" tanya Raga.
Athena mengangguk.
"Aku udah bilang mommy" jawabnya.
"Harus banget pake mobil padahal jaraknya deket gini?" tanya Athena saat mobil Raga sudah sampai di kediaman Perdanakusuma.
"Tadi terik banget, The" alasan Raga.
"Tidi tirik bingit, Thi" cibir Athena.
Raga yang mendengar cibiran Athena, dengan cepat menarik kuping Athena.
"Udah berani yah cibirin gue" omel Raga. Tangan kirinya masih berada di kuping Athena, sementara tangan kanannya mendorong bahu Athena agar melangkah memasuki rumahnya.
"Mama" panggil Raga.
Vania dengan cepat berlari ke depan setelah mendengar anaknya memanggil.
"Astaga Raga, kamu kok narik kuping The?" kaget Vania.
"Anaknya bandel, ma" jawab Raga kemudian melepaskan tangannya dari kuping Athena.
"Ada-ada aja kamu. Sini sayang sama Tante" Vania memegang lengan Athena, membawanya masuk ke ruang keluarga.
"Selamat siang Tante, maaf bertamu tiba-tiba" ucap Athena.
"Gak apa-apa sayang. Tante senang The datang kesini" kata Vania.
Athena tersenyum mendengar perkataan Vania. Perempuan di depannya ini juga sangat lembut dalam bertutur kata.
"Yang lain gak ikut?" tanya Vania.
"Nggak, Tante. Wildan dan Kevin udah ketiduran di karpet. Fany juga ketiduran di sofa. Hanya Eros dan Darren yang masih bertahan, tapi mereka berdua asyik bermain PlayStation." jawab Athena.
"Bagus deh. Biar The aja dulu, nanti baru ramean lagi" kata Vania.
"Ma, papa mana?" tanya Raga yang baru turun dari tangga.
Vania menepuk jidatnya.
"Astaga, papa lagi sakit. Ga, kamu bawa Athena ke atas deh, mama ngurus papa dulu. Nanti mbaknya bawa minum" suruh Vania.
"Om sakit apa, Tan?" tanya Athena.
"Tadi tiba-tiba demam. Kayaknya kecapean main golfnya kemarin" jawab Vania.
"Tante tinggal bentar yah sayang. Nggak apa-apa kan?" tanya Vania.
Athena mengangguk cepat.
"Nggak apa-apa, Tante. Ada Raga kok ini"
Vania mengelus kepala Athena sebelum masuk ke kamarnya.
"Ayo The" ajak Raga.
"Nggak apa-apa aku ke atas? Takutnya privat gitu" tanya Athena.
Raga menggeleng.
"Nggak apa-apa, santai aja" jawabnya.
Raga memegang pergelangan tangan Athena, membawanya ke lantai dua. Ada empat kamar yang saling berhadapan. Juga ada ruang keluarga. Ada tv besar yang menempel di dinding, juga sofa bed dan kursi gantung yang berada di sudut.
Athena duduk di sofa bed, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Raga duduk di karpet. Raga mengambil remot Tv dan menyalakan tvnya.
"Raga, mau kartun tikus dan kucing" pinta Athena.
Raga mendongak, menatap Athena.
"Kartun?" tanya nya.
Athena mengangguk.
"Tikus dan kucing?" tanya Raga lagi.
Athena kembali mengangguk.
Raga lalu mencari channel yang menyiarkan kartun tikus dan kucing.
"Ini mas, mbak, di minum dulu. Ini juga ada kripik singkongnya" kata mbak yang mengantarkan minum. Beberapa mbak lainnya membawa nampan yang berisi toples.
"Terima kasih, mbak" ucap Raga.
"Banyak banget kripik singkongnya. Ihh, ada banyak rasa juga" Athena begitu senang melihat deretan toples di depannya.
Athena ikut duduk di samping Raga. Ia menonton sambil memakan kripik singkong yang ada di depannya.
"Pelan-pelan The. Gue gak bakal minta kok" kata Raga.
Athena hanya nyengir mendengar apa yang Raga katakan. Selain French fries, ia juga sangat menyukai kripik singkong.