
Pagi ini Athena memulai kegiatannya yang telah Jake jadwalkan. Hari ini kekuatan fisiknya akan diuji. Ia akan melawan beberapa pengawal dengan tangan kosong. Athena bisa menyumbang kan 5 orang pengawal yang pengetahuan bela dirinya masih di bawahnya.
Setelahnya ia berlomba memacu kuda dengan Jake sambil memanah patung burung yang ada di dalam hutan. Jake tentu masih unggul dalam hal ini. 5 dari 20 anak panah Athena meleset.
Jadwal terakhirnya hari ini adalah latihan menembak menggunakan senjata buatan warga RelFath. Ini baru kali pertama bagi Athena memegang senjata secara langsung, beratnya lumayan membuat bahu pegal-pegal.
Tembakan Athena tentu saja masih banyak yang melesat.
Jake melihat jam tangannya, sudah jam 5 sore. Ia dan Athena belum sama sekali menyentuh makanan.
"Sudah cukup untuk hari ini, dear" kata Jake. Ia mengambil senjata ditangan gadis di depannya.
"Ayo pulang atau mama akan mengomel" ajak Jake. Mereka tentu tidak menggunakan mobil. Tadi mereka berlari ke markas yang jauhnya kurang lebih 9 kilometer dari kompleks Arunika.
Keringat mengucur deras dari pelipis Athena, bajunya bahkan sudah basah karena keringat. Ia dan Jake bisa menempuh jarak sejauh itu dalam kurun waktu 30 menit. It' amazing.
Athena berbaring di teras rumah sebentar untuk meluruskan tungkainya. Setelah di rasa cukup, ia segera berlalu ke kamarnya untuk mandi. Perutnya juga minta di isi, terakhir kali menyentuh makanan saat pukul 5 subuh tadi, dan sekarang jam sudah menunjukkan angka 7 malam.
"Gimana latihannya?" tanya Lathief.
"Lumayan, opa" jawab Athena.
Gadis itu asyik meracik Coto di depannya.
"Pegal nggak?" tanya Aina.
"Sedikit, Oma" Jawab Athena . Tadi ia sudah diberi vitamin khusus oleh Jake agar tidak merasakan pegal yang berlebihan.
Setelah makan malam, Lathief membawa Athena menuju ruang kerjanya.
"Opa ada tugas tambahan untuk Athena. Abraham membawa seorang anak kecil yang koma dari desa tempat The praktek dulu. Dari informasi yang Abraham berikan, keluarga anak itu meninggal dala. keadaan tidak layak, artinya mereka dibunuh. Anak itu melihat kejadiannya secara langsung, setelah mengetahui keluarganya sudah tidak ada lagi, ia mencoba membenturkan kepalanya di tiang rumahnya. Hingga keesokan harinya, warga masih mendapatinya dalam keadaan masih bernapas, sedangkan ketiga lainnya sudah meninggal. Abraham yang mengetahui hal itu langsung saja segera membawa anak itu ke RelFath untuk diobati. Para Professor yang ada di dalam laboratorium mencoba untuk membuat obat yang bisa menghilangkan memori kelam anak itu, dan membuatnya mengingat yang baik-baik saja." cerita Lathief.
"Apa dia adalah Ayra?" tanya Athena.
Lathief mengangguk. Ia tentu tahu akan kelebihan cucunya yang satu ini.
Athena mengusap wajahnya, ia mukanya sudah berubah. Ia mengusap kedua matanya sebelum airnya menetes.
"Yang bunuh mereka adalah saudara papanya Ayra kan?" tebak Athena.
Lathief lagi-lagi mengangguk.
Papa Ayra dahulu adalah anak saudagar kaya di Negara J. Tapi demi mempertahankan cintanya terhadap mama Ayra, lelaki itu rela meninggalkan segala kekuasaannya. Hingga hartanya dirampas habis oleh saudara papa Ayra. Mengetahui papa Ayra kian sukses, saudaranya berniat menghabisinya.
"Kalau The bersedia, The bisa masuk ke laboratorium tiap Jumat dan Sabtu" kata Lathief.
"The akan berusaha, opa" respon Athena mantap.
"Ini baru cucunya Ares Arunika" Lathief mengelus rambut cucunya.
Athena melewati hari-harinya dengan baik, tidak pernah melanggar sedikit pun dari jadwal yang telah di tentukan. Ini sudah hari ke 30 ia berada di pulau ini. Setiap hari Jumat dan Sabtu ia akan memasuki laboratorium pada pagi harinya dan keluar saat gelap sudah menyapa. Cairan yang bisa digunakan untuk menghilangkan ingatan buruk untuk Ayra sudah hampir rampung. Cairan ini tidak memiliki efek samping apa pun. Ayra tetap akan mengingat kedua orangtuanya juga kakak laki-lakinya sudah meninggal tapi dengan cara yang baik-baik. Ia sudah disugesti oleh seorang tetua RelFath jika kedua orang tuanya serta kakaknya meninggal karena kecelakaan yang menimpa mereka.
Senin jam 8 pagi, profesor akan menyuntikkan cairan yang dibuat bersama timnya juga Athena pada cairan infus yang menempel ditangan kecil Ayra. Anak itu sudah tidak semungil dulu, kini ia lebih tinggi dan rambutnya makin panjang. Umurnya sudah 4 tahun sekarang. Kalung yang Athena berikan masih berada di leher anak kecil itu.
72 jam setelah obat itu masuk ke dalam tubuh Ayra, Maya Ayra perlahan terbuka. Air matanya menetes karena ia tahu sekarang ia benar-benar sendiri. Ia melihat sekitarnya, ia berada di dalam sebuah kamar yang sangat luas dan begitu mewah.
"Selamat pagi, sayang. Perkenalkan, saya Oma Aina, kakak dari Abraham" sapa Aina ceria.
"Pak Abraham?" tanya Ayra.
"Ya, Abraham membawa Ayra kemari untuk berobat. Ayra sudah tertidur lebih dari sebulan lamanya" jawab Aina. Ia mengelus kepala Ayra yang tertutupi perban.
"Panggil Oma yah, sayang" pinta Aina.
"Oma" ulang Ayra.
"Nah, itu keren. Ayra minum dulu yah sayang, pelan-pelan" Aina membantu Ayra untuk minum.
Setelah minum, Aina kembali membaringkan Ayra.
"Omaaa" teriak Tristan dari luar.
"Masuk saja sayang" Aina ikut berteriak.
Bocah tampan berusia 7 tahun lebih itu memasuki ruangan.
"Halo teman" sapanya pada Ayra.
Ayra hanya tersenyum kecil. Ia masih malu-malu.
"Kenalin, ini Tristan, cucunya pak Abraham." Aina memperkenalkan Tristan.
"Ha... halo Tristan" sapa Ayra dengan suara kecilnya.
"Lembut banget suaranya" kata Tristan.
Menjelang malam, Athena sudah kembali dari markas tempat ia berlatih. Kini gadis itu semakin tangguh dan lihai dalam menggunakan senjata.
Setelah mandi, ia bergegas ke kamar yang ada di depan kamarnya. Nampak Ayra sedang bersandar di headbord ranjang. Anak kecil itu terlihat manis dengan piyama berwarna pink yang menutupi tubuhnya.
"Ayra" panggil Athena.
Ayra mengerjabkan matanya. Ia terlihat begitu senang melihat keberadaan Athena di sini.
"Kakak The" ucapnya kaget.
"Iya, ini kakak." Athena memeluk Ayra.
"Ayra akhirnya nemuin kakak" lanjut Athena.
"Kakak The, ibu sama ayah meninggal, kakak Ayra juga" cerita Ayra polos.
"Ikhlasin yah sayang" Athena mengelus rambut panjang nan lebat milik Ayra.
"Ayra sendiri" ucap anak kecil itu.
"Nggak sendiri kok. Nanti kakak The temanin" Athena mencoba menenangkan Ayra.
Ayra kembali memeluk Athena, mencari kenyamanan ditubuh gadis yang begitu baik padanya saat di desa beberapa waktu lalu.
"Sayang, ayo makan malam dulu" ajak Aina yang berdiri di pintu kamar.
"Ayo, makan sama kakak" ajak Athena.
"Malu" ucap Ayra pelan.
Athena terkekeh mendengar ucapan polos anak-anak yang berada dalam pelukannya.
"Jangan malu yah. Sini kakak gendong" Athena benar-benar menggendong Ayra hingga ke lantai satu rumah ini. Ia tentu memilih menggunakan lift ketimbang harus menuruni anak tangga satu persatu.