Athena

Athena
Little Gift



Athena sedang memasak untuk makan malam. Ia menoleh saat mendengar langkah orang mendekat. Ia kaget melihat pipi Raga yang memar.


"Pipi kamu kenapa?" tanya Athena. Ia refleks memegang pipi Raga yang berwarna biru.


Raga memegang tangan Athena yang ada di pipinya.


"Maafin gue." ucap Raga.


Athena tersenyum.


"Never mind. Jadi pipinya kenapa?"


"Tadi dapat hadiah dari Wildan. Salah gue juga sih, mulut gue terlalu tajam" jawab Raga sambil meringis.


"Lain kali kalau ngomong, yang baik-baik yah. Untung aku udah terbiasa" kata Athena.


Raga mengangguk.


"Lanjut masak gih, gue bersih-bersih dulu"


Athena kembali melanjutkan masaknya. Hari sudah gelap, dan Raga baru bangun dari tidurnya.


Seperti biasa, mereka makan di atas bentangan tikar. Tahu dan tempe goreng, juga sambel dan sayur sup menjadi menu mereka malam ini. Semuanya berjalan seperti semula. Tidak ada yang mengungkit hal tadi.


"Besok udah hari Rabu aja, gak terasa kita bakal meninggalkan rumah ini" kata Kevin.


"Setiap sudut rumah ini punya kenangannya masing-masing" ucap Athena.


"Yang paling kerasa dimana The?" tanya Wildan.


"Di dapur, dong" jawab Athena kemudian tertawa kecil.


"Wahh, nyindir nih" Darren mencubit pipi Athena.


"Itu apa?" tanya Raga saat melihat beberapa dos yang di tumpuk.


Athena menepuk jidatnya.


"Aku lupa. Paketnya belum di bagi. Mau nggak bantu The?" tanyanya sambil melihat teman-temannya.


Kevin berdiri dari duduknya. Menarik kardus-kardus itu ke tengah ruangan.


Eros, Wildan dan Darren melakukan hal yang sama, Raga juga berdiri.


"Alat tulis The?" tanya Eros.


Athena mengangguk.


"Cukup nggak yah kalau dibagi ke anak-anak yang bimbel kemarin?" tanya Athena balik.


"Ini buku kalau Lo mau sumbangin ke semua anak-anak di sekolah SD sini juga bisa, The" jawab Darren.


"Tapi kita bagi ke anak-anak bimbel dulu yah" ucap Athena.


"Siap tuan putri" kata Wildan.


"Ehh, harus banget paper bag nya lucu gini?" heran Kevin saat melihat paper bag dengan gambaran ilustrasi kartun yang ukurannya lumayan besar.


"Aku nggak tahu paper bag nya bakal seperti ini. Lucu tauuu" jawab Athena.


"Ini bukunya ada 200 pack" beritahu Eros.


"Ehh, segitunya?" tanya Wildan.


Eros mengangguk.


"Satu pack isi 10." jawab Darren.


"Lo nge-cover ini sendiri?" tanya Raga.


"Berempat sama adik aku" jawab Athena.


Raga mengangguk mengerti.


"Masing-masing 1 pack yah? Pulpen, pensil dan juga pewarnanya?" tanya Kevin.


"Ada correction pen kayaknya, ada buku gambar juga" kata Athena.


"Ini The" Wildan menunjuk kardus di depannya.


"Ada penghapusnya juga" beritahu Wildan.


Athena mengangguk.


"Buat anak-anak bimbel paper bag nya di pisah?" tanya Eros.


Athena mengangguk.


Athena mengambil kardus yang tertulis 'don't touch' diatasnya. Ia mendorong kardus itu ke tengah ruangan.


"Susah banget kayaknya buat minta tolong" cibir Darren menggantikan Athena mendorong kardus yang entah apa isinya.


Athena hanya tertawa sebentar. Ia lalu membuka kardus itu. Ada paket lain. Ia sudah memesannya jauh-jauh hari. Paket itu terbagi menjadi dua, dengan tulisan boy dan girl dibagian luarnya. Paket boy berisi topi, baju kaos berwarna navy, kaos kaki, sepatu, celengan dan juga sebuah angpau. Paket girl berisi baju kaos berwarna merah, kaos kaki, sepatu, mainan masak-masak, sebuah Barbie, celengan dan juga sebuah angpau.


Ada satu yang spesial untuk Ayra. Baju anak-anak seukuran Ayra yang masih kecil, juga hiasan rambut dan sebuah angpau.


Athena menulis nama disetiap sudut paper bag. Ia takut paper bag nya tertukar. Ia mengirim setiap ukurannya berdasarkan besar badan saja.


"Kalau yang disana apa The?" tunjuk Kevin pada kardus yang masih tersisa.


"Ohiya, besok habis dari sekolah antar alat tulis ini, kita ke Pustu desa yah. Itu obat-obatan" jawab Athena.


"Kok Lo bisa dapat?" tanya Raga.


"Bukan aku, mommy yang ngirim" jawab Athena.


"Tapi ini legal kan?" selidik Darren.


Athena terkekeh tapi tetap mengangguk. Ia mengambil ponselnya kemudian memperlihatkan chatnya dengan Brian.


"Beliau om aku, seorang dokter di kota C" kata Athena.


"Syukurlah. Gue kira obat abal-abal" Wildan bernapas lega.


"Nggak yah" Athena menarik rambut Wildan.


Setelah semuanya selesai, Athena pamit untuk istirahat lebih dulu.


"She is A good girl" ucap Wildan.


Raga mengangguk.


"I'm sorry" katanya.


Wildan menepuk bahu Raga pelan.


✨✨✨


Pagi sekali mereka bersiap-siap untuk ke sekolah. Eros dan Kevin datang ke sekolah terlebih dahulu, meminta izin untuk menitipkan paket untuk dibagi ke anak-anak sekolah. Kepala sekolah tentu sangat antusias saat mengetahui murid-muridnya akan diberi paket alat tulis.


Wildan meminjam motor milik Run, yang diiyakan oleh Ram karena Run sedang tidak ada.


Wildan dan Kevin bolak balik mengantar paketnya ke sekolah.


"Terima kasih atas partisipasinya" ucap kepala sekolah tersebut.


"Ini bukan hal yang besar, Bu" kata Eros.


"Ohiya, kemarin ibu juga menerima 3 paket sembako yang dibawa oleh pak kades ke perumahan guru, katanya itu juga dari kalian" kata kepala sekolah yang usianya sudah tidak muda lagi.


"Kalau yang sekarang dari teman kami Bu, Athena" kata Eros.


"Terima kasih, dik. Kalian ini sangat langka keberadaannya. Terima kasih sudah memperhatikan adik-adik kalian disini." ucap kepala sekolah.


"Wah, seharusnya kami yang berterima kasih, Bu. Terima kasih sudah menerima niat baik kami. Maaf, kami juga mesti merepotkan ibu dan guru yang lain untuk membagikan paket alat tulisnya" kata Athena tak enak hati.


"Semoga kalian semua panjang umur dan sehat selalu" ucap ibu itu tulus.


"Terima kasih, Bu. Semoga hal yang sama juga terjadi pada ibu. Ibu, kami harus pergi sekarang" pamit Wildan.


Ibu kepala sekolah itu mengangguk. Mengantar keenam remaja itu hingga gerbang.


Setelah dari sekolah, mereka lanjut ke Pustu desa. Tak lupa dengan obat-obatan yang di bonceng oleh Wildan dan Darren. Athena, Raga, Eros dan Kevin memilih untuk jalan kaki. Jaraknya tak jauh dari sekolah.


Mereka menyerahkan kardus itu kepada petugas. Petugas memeriksa setiap obat yang diterima. Sebuah map coklat membersamai obat-obatan itu. Ada tanda tangan Brian juga logo Arunika's Hospital di dalam map coklat.


"Terima kasih dik sudah membantu kami. Kami baru akan ke puskesmas di kecamatan untuk meminta obat-obatan. Tapi obat-obatan nya datang terlebih dahulu sebelum kami memintanya" ucap petugas itu.


"Obatnya aman kan, kak?" tanya Wildan khawatir.


Petugas itu terkekeh.


"Aman, dik. Obatnya legal, sah dimata hukum" jawab petugas itu.


"Kak, kami pamit pulang. Hari sudah semakin terik." Eros mewakili teman-temannya pamit pada petugas.


Tugas mereka untuk hari ini telah selesai. Tinggal memberikan hadiah kepada anak-anak bimbel.