Athena

Athena
Airport



Pesawat sebentar lagi akan mendarat. Para penumpang sudah diberitahu untuk memakai pengaman masing-masing. Yang bertanya mereka duduk di kursi jenis class apa? Yah, tentu saja business class. Pihak sekolah yang mengatur itu semua. Mereka harus ditempa awal waktu agar tidak kaget saat menghadapi masalah di lain waktu.


Setelah mengambil barang masing-masing, Eros meminta mereka untuk berkumpul lagi, meskipun hanya sebentar.


9


Seseorang mendekati Athena, meminta trolly yang dipegang oleh Athena. Athena langsung saja memberikannya.


"Siapa The?" tanya Wildan.


"Supir Daddy" jawab Athena.


Yang lain mengangguk mengerti.


"Gue minta waktunya bentar yah. Gue cuman mau ngingetin kita masih ada satu tugas lagi, yaitu presentasi. Komunikasi dijaga, ingat jadwal kerja laporan sekaligus persiapan presentasi adalah setiap hari Kamis sore di cafe O" kata Eros.


"Siap pak ketua" kata mereka serempak.


"Satu lagi, gue ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya udah mau bekerja keras, menekan ego untuk kekompakan kelompok. Terutama buat Athena, teman perempuan kita satu-satunya. Makasih udah ngurus gue dan yang lain" lanjut Eros.


"Jadi pengen nangis" kata Athena sambil mengusap air matanya.


"Bukan pengen lagi, tapi udah nangis" kata Kevin kemudian terkekeh.


Eros dan yang lain juga terkekeh melihat Athena yang mengusap air matanya.


"Sini, gue peluk dulu. Boleh nggak?" tanyanya.


Athena mengangguk. Eros melingkarkan kedua tangannya di bahu Athena. Ia tak lupa mengelus rambut Athena.


"Udah, jangan nangis lagi. Orang-orang pada lihat kesini" kata Eros.


"Terima kasih juga yah udah nerima dan jagain The selama di sana. Maaf banget kalau aku ada salah terus buat kalian jengkel" ucap Athena.


Semua terkekeh mendengar ucapan Athena. Ponsel Wildan dan Darren bunyi secara bersamaan, tak lama ponsel Kevin juga, menyusul ponsel Eros.


"The, gue pamit yah. Jemputan udah di depan" pamit Wildan.


"Gue juga. Lo nebeng gak?" tanya Kevin pada Raga.


"Nggak, papa udah di jalan" jawab Raga.


"Kalau gitu gue dan yang lain pamit yah. The nunggu jemputan nya sama Raga nggak apa-apa kan?" tanya Eros.


"Nggak apa-apa."


Mereka lalu berhi-five sebelum berpisah.


"Ayo, nunggunya di depan aja" ajak Raga sambil menarik pergelangan tangan Athena, sedangkan sebelah tangannya menarik trolly yang berisi barang-barangnya.


Athena mengangguk, mengikuti langkah Raga. Ia akan pergi jika Raga sudah di jemput.


Baru beberapa langkah, seorang perempuan menyerahkan sekuntum bunga mawar hitam pada Athena.


"Dari siapa?" tanya Athena.


Perempuan itu tersenyum.


Hal yang sama terjadi hingga ke 15 kalinya.


"Lo ada pengangum rahasia kali" kata Raga yang sedari tadi diam.


"Ya nggak mungkinlah, Ga. Kurang kerjaan ngasih ginian, mana depan banyak orang pula" omel Athena.


"Gak usah ngomel juga. Seharusnya Lo itu bersyukur ada yang ngasih bunga, gratis pula" kata Raga.


"Gratis sih iya. Tapi pengirimnya gak jelas gini. Kalau orang jahat gimana?" takut Athena.


Raga terkekeh mendengar ocehan Athena.


"Ragaaa" panggil seseorang.


Raga menoleh ke sumber suara, ada mama dan papanya.


"Kenapa sampai repot kesini, padahal nunggu di luar kan bisa?"


"Mama mau nyapa Athena dulu" jawab Vania jujur.


"Halo Tante" sapa Athena.


Vania memeluk Athena.


"Kita ketemu lagi, sayang." kata Vania.


"Iya Tante. Selamat malam, om" sapa Athena pada Baskara.


"Jemputan Lo belum datang?" tanya Raga.


Athena melihat ponselnya sebentar.


"Udah datang. Daddy udah nelpon banyak kali, tapi aku gak denger. Aku pamit yah. Bye Raga. Om, Tante, Athena pamit yah, kasihan Daddy udah nunggu lama" panik Athena.


"Hati-hati sayang. Jangan sampai nabrak orang-orang" teriak Vania.


Athena hanya mampu mengangguk dan tersenyum, kemudian melangkah cepat ke depan.


"Pa, anaknya romantis banget, anak orang dikasih bunga" goda Vania.


"Bukan Raga ma. Athena dikasih sama orang lain, orang yang ngasih juga beda-beda" kata Raga.


"Lho, papa kira kamu yang ngasih" Baskara ikut bersuara.


Raga menggeleng.


"Aduh, saingannya cukup berat ternyata" kata Vania.


Baskara menepuk pundak anaknya.


"Tetap semangat" katanya.


Raga tersenyum senang. Papanya adalah seorang kepala keluarga yang menurut Raga sangat sempurna. Papanya adalah Role mode untuk Raga. Papanya seorang pekerja, tapi ia tak lupa keluarga. Keluarga baginya adalah nomor satu.


"Itu yang ramai apaan?" tanya Vania menunjuk ke kerumunan orang-orang.


"Ada artis kali" jawab Raga.


"Iya ma, biasalah itu" Baskara ikut menjawab pertanyaan istrinya.


"Mobilnya keren. Limosin" ucap Vania lirih.


Raga dan Baskara mengikuti arah pandang istrinya. Benar, sebuah limosin terparkir disana. Ada dua orang berpakaian hitam yang berdiri di depan limosin. Juga ada beberapa orang berkerumun.


"Mereka bukan artis" tebak Baskara.


"Terus mereka siapa, pa?" tanya Vania penasaran.


Raga tidak ikut bertanya, tapi tetap menanti jawaban sang papa.


"Plat mobilnya ada huruf AN, it means Arunika" jawab Baskara.


Vania dan Raga kompak menoleh ke arah sang papa.


"Mereka kan biasanya pakai ARN , pa" kata Raga.


"Coba perhatikan, ada pahatan R yang tidak terlalu jelas yang menghubungkan huruf A dan N" bisik Baskara.


Vania dan Raga kembali melihat ke mobil Limosin itu, benar apa yang Baskara katakan. Jika kita melihatnya dengan teliti, huruf R itu akan terlihat meskipun hanya sepintas.


Limosin itu mulai berjalan dan melewati tempat Raga dan kedua orang tuanya menunggu jemputan.


Keadaan tempat tunggu tiba-tiba sepi. Orang-orang yang tadinya berlalu lalang sudah pergi menaiki mobil yang terparkir di belakang Limosin.


"Raga kira yang berkerumun dan yang berlalu lalang tadi adalah para penumpang" kata Raga.


Vania mengangguk.


"Mama juga pikirnya gitu"


Baskara terkekeh mendengar ucapan anak dan istrinya.


"Mama, Raga, orang-orang seperti mereka itu perlindungannya berlapis-lapis. Seperti yang kalian lihat tadi, kalian kira mereka adalah artis yang dikerumuni penumpang pesawat, ternyata bukan. Ia adalah seorang Arunika yang di kelilingi bodyguard nya." jelas Baskara.


"Tapi kok nunggunya disini? Bukannya mereka ada jalur khusus yah, apalagi pake jet pribadi" tanya Raga heran.


Baskara kembali tertawa mendengar pertanyaan sang anak.


"Raga, orang-orang seperti mereka tidak selalu bepergian menggunakan jet pribadi. Bisa saja tadi kamu berada di pesawat yang sama dengan mereka, duduk di economy class dan tertidur"


"Orang-orang Arunika cukup susah ditebak jalan pikirannya. Kamu tahu nggak, mama dulu sekolah di SMP dengan kembar Arunika?" tanya Vania.


Raga menggeleng.


"Yah. Mama aja nggak tahu saat itu. Mama tahunya saat udah SMA, tapikan kami udah pisah sekolah. Dulu mereka pun terkenal bukan karena kekayaannya, tapi Mika mukul Randi karena udah gangguin Alda, adik Mika. Mereka berdua terlihat sangat kompak dan baik kepada sesama. Saat masuk SMA, Mika udah berani pakai Arunika di nama belakangnya, sementara Alda masih menyingkatnya AA, Arunika Atmadja" Vania kembali menceritakan masa lalunya.


"Mereka kenal mama?" tanya Raga penasaran.


Vania menggeleng.


"Mereka baiknya ke semua orang, tapi yah tetap circle nya gak nambah. Hanya ada Rafa, Angga dan Randi yang pernah Mika pukul" jawab Athena.