
"Udah siap, pak?" tanya Raga.
"Siap, tuan" jawab bapak yang punya perahu.
Raga lalu membantu Athena menaiki perahu, dan mereka kemudian menuju laut. Alat divingnya juga sudah siap. Di kedai ibu tadi, ternyata disewakan alat diving, suaminya juga punya perahu yang biasa orang lain sewa untuk melihat laut lepas. Athena dan Raga memilih untuk menitip tas mereka di kedai ibu-ibu tadi. Tentu saja itu aman, Run dan Dina bisa diandalkan. Raga hanya membawa kameranya dan juga ponsel mereka berdua.
"Di sini memang sepi begini pak?" tanya Athena.
"Iya, nona. Pulaunya cukup private. Hanya 10-20 orang yang bisa menginjak pulau ini dalam sehari. Kalau ada yang pulang, maka pengurus pulau akan menghubungi wisatawan yang akan datang" jawab bapak tadi.
"Kedainya sepi dong pak?" Athena masih penasaran.
"Nggak, nona. Orang-orang pribumi dari pulau ini akan turun setiap weekend, kedainya akan begitu ramai. Bapak kadang kewalahan melayani pelanggan"
"ehh, emang ada penduduk di pulau ini?" tanya Athena.
"Ada nona. Kurang lebih 570 jiwa. Mereka memilih tinggal di gunung untuk bercocok tanam."
"Wah, keren sekali" takjub Athena.
Raga membantu Athena memakai alat diving nya, kemudian mereka berdua mulai menjelajahi alam bawah laut.
Segerombolan ikan berwarna-warni melewati mereka, berenang ke sana kemari, terumbu karang yang sangat cantik, kuda laut yang terlihat ikut juga menampakkan dirinya.
Raga tak lupa mengabadikan potret Athena yang sedang berenang, mereka juga foto bersama di bawah laut.
"Mau aku fotoin? Posisi kita pas untuk memotret matahari sore" tawar Raga.
"Boleh" jawab Athena senang. Ia duduk di ujung perahu sambil melihat ke arah kamera.
"Sini tuan, bapak bantu. Biar tuan dan nona bisa foto berdua" tawar di bapak.
"Nggak apa-apa pak?" tanya Raga.
"Tidak apa-apa, tuan" jawab si bapak.
Raga memberikan kameranya, kemudian ikut duduk di dekat Athena. Si bapak ternyata cukup ahli dalam hal fotografi. Potret yang dihasilkan sangat bagus.
"Terima kasih, pak" ucap Raga.
"Sama-sama, tuan, nona" Mereka sudah sampai di tepi pantai.
Athena bergegas mandi dan mengganti bajunya.
"The, nginap di sini nggak apa-apa?" tanya Raga.
"Kita gak bawa perlengkapan, Ga" kata Athena.
"Kata bapak tadi, kita bisa nyewa tenda di kedainya." beritahu Raga.
"Boleh deh. Sambil bakar-bakar ikan dan jagung kayaknya seru" jawab Athena senang.
"Okay, nona. Aku bersih-bersih dulu" kini giliran Raga yang bersih-bersih.
Athena memilih untuk menunggu di kedai, sambil memesan minuman hangat.
"Jadi nginap di sini nona?" tanya si ibu.
"Iya, Bu" jawab Athena.
"Boleh sewa pembakarannya nggak Bu? Sekalian beli kayunya juga."
"Boleh, nona. Sangat boleh. Kami juga menjual jagung mentah dan ikan" jawab ibu itu semangat.
Athena tersenyum.
"Terima kasih, bu. Saya juga memesan 3 porsi nasi putih"
Si bapak ikut ke tempat yang akan mereka gunakan untuk camp. Tempatnya tidak jauh dari kedai, tapi sangat privasi. Batu-batu besar yang menjadi background tenda mereka, sedangkan di bagian depan adalah pantai.
"Terima kasih bantuannya pak" ucap Raga.
"Sama-sama, tuan. Silahkan menikmati waktunya" jawab si bapak sebelum meninggalkan mereka berdua.
Angin malam begitu tenang. Raga sedang mencoba menyalakan api, sedangkan Athena mengupas jagungnya. Ikannya sudah dibersihkan oleh ibu tadi, sisa di bakar.
Jika Raga bertugas membakar ikan, maka Athena bertugas menyiapkan nasinya. Ia juga diberi Lombok biji, jeruk purut yang sangat harum dan juga bumbu dapur untuk dicampur dengan ikan.
"Ga, bumbunya yang biasa aja atau mau yang pake tomat?" tanya Athena.
"Pake tomat boleh nggak?"
"Ya boleh"
Athena mengiris tomatnya kecil-kecil, cabe bijinya juga ia potong-potong, mencampurnya dengan bumbu dapur kemudian membelah jeruk purut nya yang tercium begitu harum.
Raga juga sudah selesai dengan tugasnya, sepiring ikan sudah siap di santap. Mereka menyusunnya di atas matras, kemudian ikut duduk saling berhadapan. Nasi hangat, ikan bakar dan sambel mentah benar-benar menjadi perpaduan yang sangat nikmat.
"The, aku gak pernah bawel soal makanan yang kamu masak seperti Darren dan Wildan, tapi malam ini aku juga bakalan bawel. Ini mungkin hal yang sederhana, hanya ada nasi, ikan bakar dan sambel mentah, tapi ini benar-benar terasa sangat enak." kata Raga.
"Nanti kamu pasti akan mengeluh bosan kalau aku bikin ini terus"
"Nggak bakal bosan, The" kata Raga begitu yakin.
Setelah makan, Raga kembali membakar jagung yang tadi di kupas oleh Athena. Sedangkan Athena membersihkan bekas makan mereka. Sampahnya ia simpan di dalam plastik, sementara piringnya ia bilas dengan air mineral yang dibawanya. Tidak mungkin ia mencucinya di pinggir laut, ia khawatir lautnya akan tercemari.
Mereka duduk berdua di depan bara api sambil menikmati pemandangan dan hembusan angin malam.
"Aku nggak nyangka bisa hidup selama ini. Gak tahu kapan akhirnya, tapi aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk bernapas hingga sekarang" ucap Athena.
Raga merangkul pundak Athena.
"Kamu harus hidup lebih lama lagi, menemani setiap langkahku ke depannya, selalu berdiri di sampingku dan mendampingi ku hingga tua"
"Ketimbang sedih, Tuhan lebih banyak memberikan hal baik dan menyenangkan dalam hidup aku selama 23 tahun ini. Dan aku berharap akan selalu seperti itu. Ga, tahu nggak opa kasih kado apa ke aku?" tanya Athena pada akhir kalimat nya.
"Dapat kado apa hmm?"
"Island. Athena's Island." jawab Athena.
"Hah? Athena's apa?" tanya Raga. Ia berharap ia hanya salah dengar.
"Pulau Athena " jawab Athena lebih jelas.
"Are you serious?"
"Yes, of course."
"The..."
"No, Ga. Jangan bicara apapun yang bakal bikin aku sedih. Jangan merendahkan dirimu lagi. Aku memberitahu ini hanya kepadamu, karena kata opa kamu yang akan membantu aku membangun pulau itu" Athena dengan cepat menjelaskan maksudnya memberitahu Raga.
"The, ini pulau, bukan hal yang kecil. Aku benar-benar merasa seperti semut sekarang" kata Raga.
"Dan pulau itu hanya titipan. Kita sama, Ga. Hanya saja titipan dan tanggung jawabku lebih banyak." ucap Athena.
Raga mengelus pundak Athena, mencoba memberi semangat pada gadis itu.
"Akhirnya aku ngerasain gimana jadi Daddy kamu di masa lalu. Sebelum ini insecure ku sedikit hilang, tapi malam ini, ia kembali datang, bahkan dengan tingkat yang lebih tinggi. Sama seperti Daddy kamu, aku pasti akan tetap berjuang." Renal mencoba meyakinkan dirinya.
"Bantu aku yah" Athena menatap Raga.
Raga tersenyum, ia kemudian mencium kening Athena dengan sangat lembut.