
Athena sudah siap. Mobil off-road milik Daddy nya sudah terparkir rapi di depan rumah. Keadaan Athena benar-benar membaik, ia pilih sangat cepat. Semalam sebelum tidur Alda mengecek panas Athena, dan sudah kembali normal.
"Yakin nggak mau diantar?" tanya Renal. Entah sudah yang ke berapa kali.
Semalam setelah makan malam, Athena meminta izin untuk mengendarai motor milik trail adventure milik sang daddy. Tapi niatnya tentu saja ditolak mentah-mentah oleh sang Daddy. Alda akhirnya memberi jalan tengah, Athena lebih baik baik mobil saja, agar tidak terlalu diterpa angin. Padahal teman-teman lelakinya naik motor semua, membonceng kaum perempuan yang tidak ingin ribet mengendarai motor. Athena akhirnya mengiyakan ucapan sang mommy.
"The bawa mobil sendiri, dad." jawab Athena.
"Lagian mereka pasti ikutin The, dad. Atau mungkin ada yang sudah di jalan dan sudah ada yang tiba di villa" lanjut Athena.
Renal mengusap wajahnya. Alda yang berdiri di sampingnya hanya diam.
"Yaudah, The hati-hati yah bawa mobilnya" Renal mengusap kepala anaknya.
Athena mengangguk. Ia mencium pipi Daddy nya.
"The pamit, dad, mom"
Athena juga mencium pipi sang mommy.
"Hati-hati, sayang. Kabarin mommy kalau udah sampai" kata Alda.
"Kan nanti ada Min yang melapor"
"Mommy tunggu kabar dari The" ucap Alda tegas.
Athena mengangguk. Ia mendapat kecupan hangat di dahinya dari sang mommy.
Athena sudah bisa mengendarai motor sejak kelas 1 SMP, sementara bisa mengendarai mobil saat duduk di kelas 2 SMP. Beberapa kali ia ikut trip bersama Daddy nya, Mika atau hanya mereka berempat a.k.a Nevan, Arvin dan Arion. Ini bukan kali pertama Renal melepas anaknya mengendarai mobil sendiri, tapi sudah yang kesekian kali. Jika butuh me time, Athena akan pergi entah kemana dan mengendarai mobilnya sendiri, dengan syarat Min tetap ikut dalam jarak aman.
Athena datang lebih lama, teman-temannya sudah menunggu di batas kota, pertigaan perjalanan ke puncak. Banyak teman-temannya yang menggunakan motor, hanya beberapa yang jadi penumpang dan hanya dirinya yang mengendarai mobil.
Athena memimpin jalan, lokasi villa milik Arunika cukup tersembunyi. Orang yang hanya datang sekali belum mampu untuk menghapal dan akan kebingungan saat akan berkunjung kembali.
Athena mengehentikan mobilnya di villa yang Aina akusisi beberapa saat lalu, yang sempat ia bicarakan dengan Dina. Athena tentu saja mencari aman untuk tidak membawa teman-temannya ke villa yang sering ia dan keluarganya kunjungi. Sebelum turun dari mobilnya, ia segera mengambil ponselnya untuk memberitahu sang mommy jika ia sudah sampai di villa.
^^^Athena MA^^^
^^^Mom, Athena sudah tiba di villa.^^^
Renalda Arunika
Have fun, sayang!
"Gue kira tempatnya kayak yang biasa aja gue datangin" ucap Irvandi.
"Hooh, ternyata beda dari yang lain" kata Audy.
Perjalanannya memang lebih jauh, tapi itu semua terbayar saat menginjakkan kaki di villa ini.
"Mau tidur di tenda apa di dalam?" tanya Athena.
"TENDA" jawab teman-temannya kompak.
Athena mengangguk.
"Oke deh. Yang bawa tenda siapa?" tanyanya.
Bastian, Dwi, Soni, Alam dan Wulan mengangkat tangannya.
"Oke" ucap Athena.
Bastian dan Dwi membawa tenda kapasitas 4 orang, sementara Soni, Alam dan Wulan berkapasitas 3 orang. Punya Athena sendiri cukup besar, bisa menampung 5 orang.
Tenda sudah terbangun. Masing-masing 3 tenda untuk perempuan dan laki-laki. Tendanya disusun membentuk huruf U dan diarahkan ke daratan rendah. Kehidupan desa, kebun teh dan kota A bisa dilihat dari tempat ini.
"Senja di sini sangat cantik" ucap Fany. Ia duduk di kursi panjang yang ada di dekat pagar.
"Beban gue serasa hilang lihat indahnya sinar Surya yang akan tergelincir itu." Dwi menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya.
"Kita semua benar-benar kurang piknik ternyata" akui Wulan.
Athena datang sambil membawa kopi juga teh hangat. Ia dibantu oleh mbak-mbak yang menjaga villa.
"Udara sejuk, indahnya senja dan hangatnya kopi adalah perpaduan yang begitu sempurna" ucap Aldo.
"Kasian banget Lo, Do. Yang benar itu, udara sejuk, indahnya senja dan hangatnya pelukmu adalah perpaduan yang sempurna" Raina meralat ucapan Aldo.
"Maklumlah Na, Aldo jomblo sejak lahir soalnya" sarkas Irvandi.
Perkataan Irvandi benar-benar mengundang tawa teman-teman sekelasnya.
Galang sedang mengotak atik kameranya yang ia simpan di tripod. Mereka masing-masing mengambil posisi membelakangi senja dan berfoto bersama.
"Nanti malam kita barbeque aja yah?" Athena meminta pendapat teman-temannya.
"Tapi bakarnya di sini aja yah The, sekalian cuci mata lihat pemandangan malam hari" pinta Lala.
Athena mengangguk.
Saat malam tiba, teman-teman Athena masing-masing sibuk dengan tugasnya. Ada yang bagian membakar daging, sosis, bakso dan juga jagung manis. Ada yang menyiapkan minuman dan nasi, ada juga yang bertugas menghibur. Arsya dan Naufal ambil bagian dalam menghibur. Arsya memainkan gitar sedangkan Naufal bernyanyi.
Setelah semuanya siap, mereka semua duduk memanjang dan saling berhadapan. Makanan berada di tengah.
"Kok nggak dari dulu sih liburan barengnya?" tanya Bastian heran. Seharusnya mereka rutin mengadakan liburan bersama.
"Maaf yah, aku dulu masih malu-malu gitu sama kalian" ucap Athena yang membuat teman-temannya terkekeh kecil.
Mereka makan diselingi obrolan ringan, sesekali Soni mengeluarkan candaannya yang ditanggapi oleh Irvandi.
Setelah makan, Arsya melanjutkan tugasnya. Ia kembali memetik gitarnya. Bastian memainkan drum di ponselnya yang disambungkan ke speaker kecil yang dibawa Nindi.
"The, nyanyi dong" kata Fany.
"Ehh, aku?" tanya Athena sambil menunjuk dirinya.
Fany mengangguk.
"Mau lagu apa The?" tanya Arsya.
"True friend deh, tapi nyanyi nya sama-sama yah"
Semuanya mengangguk. Mereka menyanyikan lagu True Friend bersama-sama.
"Lagunya cantik dong" request Irvandi.
Arsya kembali memetik gitarnya. Suasananya kembali pecah saat tiba di liriknya, mereka tanpa malu-malu mengeluarkan suaranya yang selama ini jarang terdengar.
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Lagu dari Kahitna itu benar-benar membuat jiwa tenang.
"Jadi siapa nih orangnya?" goda Athena pada Irvandi.
"Nggak ada, The. Serius" Irvandi sampai menaikkan tangannya membentuk huruf V.
Athena terkekeh melihat wajah malu-malu Irvandi.
Di depan api unggun mereka menyatu, memperlihatkan sisi mereka yang tak banyak orang tahu. Mereka saling melemparkan candaan, tawa bahagia tak pernah berhenti terlihat dari wajah mereka. Sesuatu yang sederhana kadang bisa membuat bahagia lebih berarti.