
"Harsha, saya akan pulang ke kota A, dan tentu saja membawa Aurora" beritahu Athena.
"Tidak masalah, nona. Tapi apakah keluarga nona akan menerima nona kecil kami?" tanya Harsha khawatir.
Athena tersenyum.
"Tentu saja Harsha. Papa mertua saya tanpa ragu menambah namanya dibelakang nama Aurora" jawab Athena.
Harsha bernapas lega.
"Maaf kalau nona kami membuat anda kerepotan, nona. Sungguh, kami sudah melakukan usaha agar nyonya percaya kepada kami untuk membesarkan nona kecil, tapi nyonya menolak."
"Saya tidak keberatan, Harsha."
"Dari keluarga manakah nona berasal?" tanya Harsha.
"Keluarga Mahendra" jawab Athena.
"Keluarga Mahendra yang menjalin hubungan baik dengan keluarga Athena yah?" tebak Harsha, ia menggaruk pelipis nya.
"Ehh, iya bukan sih? Kayaknya iya deh" Harsha jadi bingung sendiri.
"Emang iya?" tanya Athena.
"Kata kakek iya."
"Kakekmu tahu dari mana?"
"Dulu kakek menjadi salah satu orang yang dekat dengan tuan Ares. Ia menceritakan kepada kami tentang Arunika dan beberapa keluarga yang berhubungan dekat dengannya" jawab Harsha.
Athena tersenyum.
"Kamu baik-baik yah. Saya akan berusaha menjadi mama yang baik untuk Aurora " ia menepuk pelan bahu Harsha.
"Tentu saja, nona. Terima kasih " ucap Harsha.
"Saya akan mengantarkan nona ke bandara " tawar Harsha.
"Tidak perlu, Harsha. Sudah ada J yang mengantar. Bibi Harsha, Aurora pamit yah" Athena menirukan suara anak kecil diakhir kalimatnya.
Harsha mencubit pelan pipi Aurora, kemudian menciumnya. Ini juga hal yang sulit menurutnya, Aurora sudah bersamanya sejak bayi itu lahir.
"Jangan bersedih begitu. Kamu bebas nemuin Aurora kapan pun kamu mau" kata Athena.
"Iya, nona. Terima kasih" ucap Harsha.
"The, ayo" ajak Raga.
Athena mengangguk, ia sekali lagi menepuk bahu Harsha sebelum melangkah meninggalkan kediaman Amrita Lysanne.
Kedatangan mereka disambut meriah di kediaman 03, lebih tepatnya kedatangan Aurora, si pemegang tahta tertinggi dalam silsilah keluarga. Orang-orang mengatakan, perempuan, anak pertama, cucu pertama, cicit pertama dan ponakan pertama adalah pemegang tahta tertinggi.
"Curang nih jemput cucunya gak ngajak aku" kata Alda.
Vania terkekeh.
"Awalnya gak ada niat, ehh malah dikasih, yaudah. Senang banget rasanya udah jadi nenek"
"Anaknya malah anteng begini, yah sayang yah" Alda mengayunkan Aurora ke kiri ke kanan.
"Benar-benar datang dari cara yang gak bisa kita tebak" Kata Ivana.
"Ayo, Al, gantian sama aku" rengeknya.
Alda mencium pipi Aurora sangat lama, lalu memberikannya kepada kakak iparnya.
"Bawa sini Van cicit oma" kata Aina.
Ivana duduk disamping mertuanya.
"Cantik yah ma?"
Aina mengangguk.
"Cicit oma harus cantik yah sayang yah. Mamanya cantik, papanya ganteng, yah anaknya juga harus keren dong" Aina lalu mencium pipi empuk cicitnya.
Sementara di lingkaran para pria, Baskara pamit untuk pulang.
"Saya pamit pulang dulu, om, Ka, Ren. Ga, papa pamit yah"
"Ehh, kok pulang?" tanya Lathief.
"Kami udah ninggalin rumah cukup lama, om" jawab Baskara.
Lathief mengangguk mengerti.
"Ma, ayo" ajak Baskara.
Vania lalu pamit kepada besannya, juga kepada menantunya.
"Anaknya mama bawa yah The?" tanyanya.
"Ehh, jangan ma" Athena dengan cepat melarang.
Semua terkekeh mendengar jawaban spontan Athena.
"Mang Udin, tolong antarkan besan saya yah?" kata Renal.
"Baik, tuan" patuh mang Udin.
Setelah mengantarkan mertuanya hingga ke teras rumah, Athena kembali memasuki rumah orang tuanya.
"Katanya pergi liburan, pulang-pulang bawa cucu segede ini" kata Mika.
Raga dan Athena terkekeh.
"Selamat anda semua menjadi opa oma di usia muda" kata Athena.
"Sebagai penyambutan kedatangan Aurora, 2 hektar kebun anggur papa untuk cucu cantik papa" kata Mika.
"Wehh, keren nih." Athena bertepuk tangan.
"1 bangunan resort di Ath resort yang ada di Thaenk City untuk Aurora, cucu dari kakek Renal" Renal tentu tak mau kalah.
"Karena opa Lathief udah gak punya apa-apa, sini opa kasih pelukan saja" Lathief ikut memeluk cicitnya yang ada dipangkuan istrinya.
Raga yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mau heran tapi ini adalah Arunika.
"Papa mah suka melucu, apaan gak punya apa-apa?" Alda tentu protes dengan sang papa.
"Papa udah tua, semuanya milik kalian, papa udah bagi dengan adil dan makmur. Awas aja kalau ada yang berselisih kalau papa udah nggak ada"
"Papa, omongannya tolong " ucap Alda cepat.
"Gak tahu nih papa" Mika menimpali.
Lathief menatap Athena, tanpa sepengetahuan orang-orang ia menggelengkan kepalanya pelan. Mereka seolah berbicara lewat tatapan.
Suara langkah kaki terdengar, rupanya Ayra baru tiba di rumah. Ia dengan cepat memeluk kakaknya, Athena.
"Kakaaaaak, Ayra cari gak ketemu. Kakak dari mana?" tanya anak kecil itu.
Athena terkekeh.
"Kakak dari luar kota sayang. Kakak ada kejutan buat Ayra."
"Apa kak?" tanya Ayra penasaran. Ia seolah tidak menganggap keberadaan orang lain saat sudah bertemu kakaknya.
"Coba balik kanan" kata Athena.
Ayra balik kanan. Ia lalu menggaruk pelipisnya dan meringis.
"Maaf mommy, daddy, Ayra lupa salim" ucap anak itu polos. Lalu mendekati mommy dan daddy nya. Ia juga salim kepada Ivana dan Mika, kemudian pada Raga.
"Kak Raga gak nakal kan?" tanyanya.
Raga menggelengkan kepalanya.
"I'm sorry " ucapnya.
"Ra, sini, kakak ada kejutan" Athena dengan cepat memanggil adiknya sebelum ia menodong Raga dengan pertanyaan nya.
Ayra kembali mendekati kakaknya.
"Ayra udah ada saingan lho, kak The punya adik baru" Mika memulai perkara.
"Pa" tegur Ivana.
"Kenapa kak?" tanya Ayra tanpa menghiraukan ucapan Mika.
"Kamu gak lihat oma dan opa?" tanya Athena.
Ayra kemudian meneliti satu persatu anggota keluarganya. Ia menepuk jidatnya. Ia dengan cepat mendekati Lathief dan menciumi punggung tangan opanya. Saat akan melakukan hal yang sama kepada Aina, tubuhnya terasa membeku, ia menatap takjub yang ada di pangkuan Aina.
"Hayo lho" kini Alda yang ngomong.
"Boneka buat Ayra yah?" tanya nya polos.
Mika yang mendengar pertanyaan Ayra pun hanya mengusap wajahnya kasar, anaknya ini benar-benar polos.
"Bukan boneka sayang, tapi adik barunya kakak" beritahu Athena.
Mata bulat Aurora berkedip-kedip, seolah berkata dirinya bukan boneka.
"Bentar lagi kakak The gak sayang Ayra, udah ada Aurora yang gantikan" Mika kembali menggoda Ayra.
"Nggak apa-apa, Ayra kan udah besar" setelah mengucapkan hal demikian, ia berjalan menaiki tangga.
"Mikaaaa" Lathief menegur anaknya.
"Marahin tuh pa. Marahin Alda juga, suka banget godain anaknya" kata Renal. Ia lalu menyusul Ayra ke kamarnya.
Raga menepuk pelan pundak Athena.
"Sana gih jelasin ke Ayra dulu" katanya.
Sementara Mika meringis karena telinganya ditarik oleh Lathief.