Athena

Athena
Sebelum LDR



Pagi sekali Athena bersiap-siap. Ia dan Raga akan menghabiskan waktu bersama hari ini. Keberangkatannya ke kota C kian dekat.


"Akak mau kemana?" tanya Ayra yang berada di pelukan Alda. Anak itu masih mengenakan piyamanya dan terlihat masih mengantuk.


"Mau keluar bentar dek" jawab Athena.


"Mau ikut?" tawarnya.


Ayra menggeleng.


"Masih ngantuk, mau peluk mommy aja" jawabnya.


"Manja bener" ucap Renal yang sedari tadi membaca koran.


"Kan masih kecil" kata Ayra.


"Sekarang aja ngatain anaknya manja, besok-besok kalau rindu jangan merengek-rengek" omel Alda.


Renal dan Athena terkekeh mendengar omelan Alda. Suara langkah kaki terdengar, rupanya Nevan baru pulang dari kegiatan lari paginya, di sampingnya ada Raga yang ikut berjalan bersamanya.


"Udah datang ternyata" kata Renal.


"Selamat pagi om, Tante, Ayra" sapa Raga.


"Selamat pagi, nak" balas Alda.


"Bang, lanjut aja. Aku mau bersih-bersih dulu" pamit Nevan. Ia tak lupa mengoleskan keringatnya pada baju yang kakaknya pakai.


"Nevan!" Athena merengek.


"Nevan nih, godain kakaknya terus" Renal menggelengkan kepalanya.


Raga lalu pamit pada keluarga Athena setelah mengantongi izin membawa Athena pergi pagi ini.


"Udah sarapan?" tanya Raga.


"Udah. Kamu?"


"Belum" Raga nyengir.


"Cari sarapan dulu kalau gitu" ucap Athena.


Raga mengangguk. Ia mencari penjual bubur ayam sepanjang perjalanannya, kemudian berhenti di salah satu kedai.


"Mau ikut nggak?" tanyanya.


"Mau"


Raga menggandeng tangan Athena memasuki kedai.


"Mas, bubur ayamnya dua di bungkus" pesan Raga.


"Kok dua?"


"Kamu satu, aku satu." jawab Raga.


Tidak perlu menunggu lama, Athena mengambil kantongan dari penjual buburnya, sementara Raga membayarnya.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah Raga. Orang tua Raga sedang tidak di rumah, Baskara sedang ada perjalan bisnis ke kota Thaenk dan Vania tentu saja ikut. Sambil nyelam minum air, katanya. Menemani Baskara perjalanan bisnis sekaligus liburan.


Sesampainya di kediaman Raga, Athena memindahkan bubur yang tadi dibelinya ke dalam mangkuk. Ia kemudian duduk di samping Raga.


"Mbak gak masak?" tanya Athena.


"Kalau mama dan papa lagi nggak di rumah, mbak gak masak di sini. Mama yang minta sih. Mbak masaknya di paviliun buat yang lain. Kalau masak di sini, takut kebuang soalnya" jawab Raga.


"Terus kalau kamu lapar gimana?"


"Pesan, The. Atau ke rumah Eros"


Athena mengangguk. Ia lupa jika Raga dan Eros bertetangga.


Setelah sarapan, Raga membawa Athena ke kamarnya. Ia mendudukkan Athena di meja belajarnya sementara ia berdiri di samping Athena. Ia memperlihatkan sesuatu di laptopnya. Sebuah bisnis plan aplikasi membaca dan menulis yang bisa di unduh pada komputer maupun android.


"Kenapa milih bidang ini?" tanya Athena sambil melihat bisnis plan yang Raga buat.


"Yah karena keadaan. Kita lihat sekarang orang-orang sudah mengenal teknologi, mulai dari yang kecil hingga yang tua sekalipun tidak pernah lepas dari yang namanya ponsel. Apalagi kalangan muda seperti kita, apa-apa pasti berbasis teknologi. Kalau ada kesempatan begini yah mending berenang sambil minum air." Raga menjelaskan.


Athena mengangguk. Bisnis plan Raga sangat rapi dan jelas.


"Udah sampai mana prosesnya?"


"Udah setengah jalan"


"Pendanaannya gimana?"


"Minta bantuan papa sih, hasilnya nanti aku 70%, papa 30% . Itu hasil bersih yang dibagi" jawab Raga.


"Papa kamu pasti keluar banyak uang" kata Athena.


"Cukup banyak sih."


"Gak minta bantuan yang lain?"


"Nggak. Papa bilang gak usah, biar gak ribet nanti" jawab Raga.


"Cielah, bentar lagi jadi founder anu"


Raga terkekeh.


"Biar uangnya cepat terkumpul, terus halalin kamu"


Tawa Athena meledak mendengar ucapan Raga.


"Makin jago ngalus ternyata" ucap Athena.


"Aku udah 22 tahun, udah plan menikah di umur 25 tahun. Semoga kesampaian sih"


"Jauh banget planningnya"


"Harus The. Yang bakal aku nikahin kamu, bukan orang lain. You are Arunika's , semuanya harus jelas sebelum memulai melangkah menuju kesana"


Athena memeluk Raga. Menyembunyikan wajahnya pada perut berotot milik pria yang sedang berdiri di depannya.


"Terima kasih, Ga, udah buat aku menjadi perempuan yang beruntung seperti ini" ucapnya.


Raga mengelus rambut Athena.


"Sabar yah. Tunggu aku, jangan sampai bosan dan mencari yang lebih baik. Aku punya banyak kekurangan The, berharap kamu tidak ninggalin aku dengan kekurangan itu"


"Raga mah kurangnya yah kurang ngomong aja" Athena terkekeh.


Raga tersenyum saat ditatap oleh Athena.


"Kurang senyum juga" lanjut Athena.


"Terus?"


"Nggak ada terus-terusan" ucap Athena.


"No body is perfect, Ga. Kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Aku, kamu dan semuanya sama-sama manusia biasa. Oleh karena itu, kita semua diciptakan saling berpasang-pasangan, agar bisa saling melengkapi."


Raga mengangguk mengerti mendengar ucapan gadisnya.


"Love you" ucapnya kemudian mencium kening Athena cukup lama.


"Love you too" Athena mengalungkan tangannya dileher Raga yang membungkuk. Ia kemudian mencium sudut bibir Raga.


"The, can I?"


Athena mengangguk.


Raga lalu me**mat bibir Athena, mereka menyalurkan cinta lewat ciuman panjang itu.


"Pengen halalin kamu sekarang aja deh" ucap Raga saat ciumannya berakhir.


Athena terkekeh.


"Sabar yah" Ia mengelus rambut Raga.


✨✨✨


Athena tertidur di sofa ruang Tv apartemen milik Raga. Tadi mereka nonton film barat, dan Athena tertidur saat film belum selesai. Melihat Athena tertidur, Raga kembali memasuki kamarnya untuk mengecek pekerjaannya. Ia sudah mengambil posisi sebagai kepala devisi di perusahaan, tidak lagi menjadi seorang office boy.


Raga melihat jam tangannya, sudah pukul 2 siang, dan mereka belum menyantap apapun lagi setelah sarapan tadi. Raga mengambil ponselnya dan memesan makanan lewat aplikasi. Tidak perlu menunggu lama, pesanan makanannya datang.


Athena masih tidur nyenyak. Raga mencoba membangunkan Athena, menepuk pelan pipi gadis itu.


"The, bangun. Makan dulu"


Athena membuka matanya dengan perlahan. Wajah tampan Raga langsung terlihat oleh panca indera penglihatannya.


"Ayo, makan dulu"


"Nanti aja, Ga" ucap Athena. Ia malah membelakangi Raga, menghadap ke punggung sofa.


Raga menghela napasnya. Ia ikut berbaring dibelakang Athena, memeluk pinggang gadis itu. Bibirnya sudah tak tinggal diam, satu tangannya menyibak rambut Athena yang menutupi leher dan punggung wanita itu.


"Geli, Ga"


Raga pura-pura tidak mendengarnya. Bibirnya bahkan sudah berkelana ke belakang telinga Athena, tangannya pun ikut mengelus perut Athena dari luar bajunya


"Ga, ampun"


Raga tidak memperdulikan rengekan Athena, ia bahkan sudah berada di atas Athena sekarang. Mencium bibir wanita itu, saling bertukar sa**va .


"Mau makan sekarang atau kamu yang aku makan?" tanya Raga.


"Kamu aja yang makan aku" goda Athena.


Raga tanpa aba-aba menggendong Athena ke dapur, mendudukkan wanita itu di kursi meja bar.


"Makan dulu biar ada tenaga" Raga ikut menggoda Athena.


Athena tertawa terbahak-bahak mendengar godaan pria kaku di depannya.