
"Dengan semua yang kamu miliki, kenapa kamu memilih Raga untuk membersamai langkahmu?" tanya Vania.
Athena menatap wajah Vania yang terlihat sedih, juga merasa bersalah.
"Ma, look at me" ucap Athena.
Vania menatap wajah menantunya yang sedang tersenyum begitu manis dan tulus.
"Ma, mama jangan sedih, apalagi merasa tidak enak dengan The. The juga anak mama sekarang. Tidak ada alasan bagi The untuk menolak niat baik Raga untuk menjadi The sebagai teman hidupnya. The sudah mengenal anak mama jauh sebelum hari ini. Mama jangan salahkan Raga, bisa jadi kesalahannya juga berawal dari The sendiri, makanya Raga gak ngomong."
"The, terima kasih" Vania memeluk menantunya.
"Kami sudah lama berteman, beberapa kali juga bertengkar seperti sepasang teman yang lain. Tapi ini adalah kali pertama Raga membohongi The, mungkin ada hal yang memang gak bisa dia jelasin, dan perlu waktu untuk menyelesaikan semuanya. Tapi maaf, Ma. Hati The tak selapang itu, sabar The juga masih begitu dangkal, hingga bisa membawa ke tempat ini"
"Nggak apa-apa, sayang. Mama senang temani The kesini, mama senang jadi teman cerita The. The memang perlu waktu untuk menenangkan diri dan juga istirahat yang cukup. Mama akan temanin The kemanapun The pergi." Vania mengelus rambut menantunya.
"Terima kasih, ma" Athena berbaring, menjadikan paha Vania sebagai bantalnya.
Tidak banyak orang yang seberuntung dirinya. Sejak kecil ia dibesarkan oleh orang-orang yang tulus dan penuh kasih sayang, sekarang ia juga mendapatkan mertua yang sama baiknya. Seorang mama mertua yang bahkan rela mengikutinya kemanapun ia pergi. Ia juga mengerti, masalah yang sedang menimpanya adalah badai dalam perjalanan kehidupan rumah tangganya. Ini masih hari pertama ia meninggalkan rumah, ia berharap Raga bisa menyelesaikan masalah yang ia buat secepat mungkin. Namun jika tidak, ia harus percaya, ada kejutan lain yang menantinya di hari esok.
"Mama kenapa gak pernah tanya-tanya soal cucu?" tanya Athena.
"Sayang, meskipun mama gak bertanya kalau waktunya di kasih yah pasti di kasih. Kamu jangan terlalu banyak berpikir, mama dan papa baik-baik akan baik-baik saja meskipun tanpa cucu. Yang penting anak-anak kami sehat semua, hidup bahagia dan penuh kebahagiaan." jawab Vania.
"Tadi mama bertanya kenapa harus Raga yang menjadi teman hidup aku kan? Sekarang mama bisa nemuin jawabannya. Diantara banyaknya keluarga di bumi, hanya Perdanakusuma yang tidak terlalu pusing dengan urusan harta dan cucu. The senang mama dan papa begitu tulus menerima The" ucap Athena.
Ponsel Vania bunyi, ada pesan yang masuk. Ia lalu mengambilnya dan membuka pesan. Rupanya sebuah foto yang dikirim oleh nyonya Devanka yang dibubuhi keterangan 'ini menantu kamu saat bersama seorang pria di pesta ponakan saya' .
Vania hanya menghela napasnya.
"The sama siapa saja saat di kota C sayang?" tanya Vania.
"Sama Ayra, Bagas, uncle Brian, Tristan dan juga Regan, temannya Ayra. Waktu ke akad perginya bertiga, The, Ayra sama Bagas. Waktu malam ke resepsi cuma berdua dengan Bagas. Besoknya The piknik, perginya sama anak-anak" jawab Athena.
"Emang kenapa, Ma?" tanya Athena.
Vania memperlihatkan gambar yang dikirim oleh nyonya Devanka.
"Ada-ada aja sih dia" katanya.
"Itu waktu The ke resepsinya Hana dan Yudha, perginya sama Bagas. Yang di samping The itu Bagas kok ma" jelas Athena.
Vania menarik pelan hidung menantunya.
"Mama percaya nggak kalau The bilang nyonya Devanka julid banget, sampai-sampai bilang The murahan. Ehh gak tahu apa anaknya hamil, malah telponan sama suami The"
"Ehh, tahu darimana?"
"Sebelum pulang kan The pamit ke toilet ma, terus dari bilik sebelah ada perempuan yang sedang telponan , suaranya juga cukup jelas, malah nyebut nama Raga. The dengan cepat keluar dan bercermin di ujung cermin supaya bisa memastikan, yang keluar benaran Clara, ma. The gak masalah kalau Raga telponan dengan Clara sebagai teman, yang bikin The marah karena Raga gak balas pesan aku padahal dia bisa telponan sama Clara" cerita Athena. Rem mulutnya benar-benar tidak berfungsi.
"Terus tahu Clara hamil waktu kapan?"
"Waktu The bersih-bersih ruang kerja Raga, terus mau mindahin buku-buku ke perpustakaan rumah, ehh ada testpack jatuh, kertasnya juga ikut jatuh, ternyata itu hasil pemeriksaan kehamilan Clara."
"Tapi kamu gak bertanya sama Raga saat itu?"
"The nggak bertanya, ma. The seolah nggak tahu apa-apa dengan mereka. The juga menunggu Raga untuk jujur dan cerita sendiri sama The, hingga kemarin The tahu mama dan papa juga tahu hal yang sama, seperti yang The ketahui" jawab Athena.
"Sebelum mama ke ruangan kamu, mama lihat Raga dengan Clara sedang duduk mengantri di depan poli kandungan. Mama dengan cepat menarik tangan Raga dan menuntut penjelasan. Maafin anak mama yah sayang"
Athena mengangguk, ia tersenyum. Kepalanya ia pindahkan ke bantal dan menepuk bantal disebelahnya, meminta Vania untuk ikut berbaring.
✨✨✨
Sementara di kota A, Baskara menekan Raga untuk segera menyelesaikan masalahnya.
"Jangan tunjukan wajah kamu sebelum mama dan istrimu kembali" kata Baskara.
Ini kali pertama Raga melihat papanya begitu marah. Jika biasanya Vania yang akan mengomel, menarik kupingnya dan bahkan kemarin mamanya menamparnya, maka tidak dengan papanya.
"Paa"
"Pergilah, segera selesaikan masalahmu. Jika benar dia bukan anakmu, kamu pasti bisa menyelesaikannya dengan cepat, namun jika sebaliknya, papa sendiri yang akan meminta The untuk berpisah dari kamu dan kamu bukan lagi seorang Perdanakusuma. Seorang Perdanakusuma tidak akan memainkan perasaan perempuan" kata Baskara sebelum menutup rumahnya.
Raga hanya bisa mengusap wajahnya. Ia segera menelpon seseorang untuk perkembangan kasus Clara.
"Jadi Clara sendiri yang meminta lelaki itu untuk menghamilinya agar bisa memancing saya?" tanya Raga pada orang yang ada di sebelah sana.
"Tahan orang itu, berikan dia makan yang cukup untuk bersaksi dihadapan istriku dan kedua orang tuaku" Raga menutup telponnya.
Ia sudah melakukan penyelidikan sejak Clara mengaku hamil di depannya sambil berurai air mata. Clara menceritakan bagaimana dirinya dip**k*** disebuah bar yang ada di kota ini, kemudian lelaki itu pergi dan hilang tanpa jejak.
Sekarang Raga sudah menemukan titik terangnya, ternyata Clara benar-benar adalah ular yang mengancam kehidupan rumah tangganya.
Raga segera meninggalkan rumah orangtuanya dan menuju rumahnya sendiri bersama Athena. Ia memasuki ruang kerjanya dan mengambil barang bukti yang Athena lihat beberapa hari lalu, yang menyebabkan istrinya salah paham dan begitu bersedih. Ia bertanggung jawab penuh atas ombak yang sedang menghantam kapal pernikahan mereka. Ia berjanji akan menyelamatkan kapal mereka dari hantaman badai tersebut.