Athena

Athena
Ars Area (2)



Travelator yang membawa mereka berhenti di depan sebuah pintu yang tidak tertutup. Kesan megah dan mewah tidak terlepas dari pandangan mereka. Bahkan Athena saja dibuat tercengang atas apa yang ia lihat kini. Sebuah ruangan yang sangat luas dan tanpa sekat. Nyaris semua sisi dinding dipenuhi oleh foto-foto yang dicetak dengan ukuran cukup besar. Di sudut ruangan ada satu set sofa sudut yang panjangnya kira-kira 15 meter jika di bentuk lurus. Ada meja kayu yang di pahat sempurna, diberi warna gold dan putih, persis seperti warna sofa sudut yang menjadi pasangannya.


Sementara di sudut yang sejajar dengan sofa tadi, ada sebuah mini bar. Meja bar yang memanjang, serta kursi yang berwarna bening seperti kaca yang dipahat. Ada dapur juga disana, sepertinya dapur bersih. Di sudut yang berhadapan langsung dengan set sofa ada lift.


"Ma, na?" Satu-satunya orang yang mampu mengeluarkan suara hanya Anne.


"Di rumah kakek Ares ,sayang" jawab Athena.


"Ga, sini aku bantu tarik kopernya. Kakak udah bisa kok di lepas" kata Athena.


Raga menggeleng. Tanda tidak mengizinkan istrinya.


"Ayo, kita harus makan dan istirahat. Sepertinya sudah sangat sore" kata Athena sambil berjalan menuju lift. Lagi-lagi Athena harus menggunakan sidik jarinya dan juga retina matanya untuk membuka pintu lift.


Lift berdentang, tanda sudah sampai. Cahaya matahari sore menyambut mereka dari jendela kaca tanpa kain yang menutupi nya.


"Benar kan, udah sore" kata Athena.


"Kak, main sama adek yah"


Anne mengangguk mendengar ucapan mamanya. Ia berlari ke depan Tv yang menempel pada dinding. Athena ikut dibelakangnya, lalu menyimpan Aidan bersama kakaknya di atas karpet tebal dan lembut.


"Koper nya di taruh mana The?" tanya Raga.


Athena menepuk jidatnya. Ia melihat sekelilingnya hingga pandangan nya berhenti disebuah pintu dengan tulisan Ath. Lagi-lagi ia harus menggunakan sidik jarinya untuk membuka pintu di depannya.


"Ini kamar atau rumah?" tanya Raga saat melihat betapa luasnya kamar ini.


"Kamar, Ga" jawab Athena.


Raga membuka salah satu pintu yang ada di dalam kamar, rupanya itu adalah walk in clothes.


"The, kamu benar-benar gak tahu tentang ini?" tanya Raga.


Athena menggeleng.


"Kita udah bawa pakaian sebanyak ini, ternyata semuanya ada di sini" kata Raga.


Athena ikut melihat. Benar, lemari kaca berdiri kokoh saling berhadapan memperlihatkan isinya.


"Ini gimana sih?" heran Athena.


"Kamu bersih-bersih dulu. Aku mau masak" kata Athena.


Raga mengangguk.


"Mamaaaaa" suara Anne menyambut Athena saat keluar dari kamar.


"Iya, sayang?" Athena mendekati anaknya.


"Dek bok" beritahu Anne sambil menunjuk adiknya yang sudah tertidur di atas karpet.


"Adeknya bobo yah sayang? Kakak mau bobok juga?"


Anne menggeleng.


"Ton" tunjuknya pada telivisi.


Athena terkekeh.


"Iya, mama nyalain." katanya.


"Mama masak dulu yah. Adiknya minta tolong dijaga, jangan diganggu yah"


Athena mencium puncak kepala kedua anaknya sebelum mencari letak dapur yang entah ada di mana. Ia hanya mengikuti instingnya berjalan ke pintu tanpa daun pintu. Ia disambut dengan kitchen set yang disusun sedemikian rupa dan megah juga satu set meja makan. Ia kembali keluar mengambil keranjangnya dan mengambil bahan masakan yang ia bawa.


Entah bagaimana tempat ini dibangun di tengah gurun hijau seperti ini. Gurun yang membentuk bukit-bukit bak di negeri dongeng. Ini masih bagian kecil yang Athena lihat. Belum memastikan sendiri apa yang ia lihat di dalam mimpinya dan petunjuk-petunjuk yang Ares tinggalkan.


Sebelum malam masakan Athena sudah jadi. Alih-alih keluar sambil melihat matahari terbenam, ia malah harus memandikan Anne.


"Kakak udah kamu mandiin?" tanya Athena saat melihat baju Anne sudah berganti.


Raga mengangguk.


"Kamu bersih-bersih dulu gih" katanya.


"Baiklah, tuan"


Athena berjalan memasuki kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Ada banyak jenis pakaian yang tersedia di sini. Athena sampai bingung harus memilih yang hendak ia gunakan.


Athena menoleh saat jendela tiba-tiba tertutup. Ia dengan cepat berlari keluar dari kamar dan melihat Raga juga sama kagetnya.


"The" panggil Raga saat melihat keberadaan istrinya.


"Sepertinya jendelanya otomatis deh, Ga" ucap Athena.


"Ini sebenarnya canggih, tapi kok aku malah takut yah" jujur Raga.


"Kakek sungguh luar biasa" kagum Athena. Ia menyibak gorden dan melihat lampu-lampu taman menyala, bahkan di bukit-bukit pun diberi lampu.


"Ma, mam" Anne melihat mamanya, matanya berkedip-kedip lucu.


""Anak mama gemasin banget " Athena mencium sekilas pipi anaknya.


Aidan juga ikut terbangun. Mereka lalu menuju ruang makan yang berada di ruang yang sama dengan dapur.


Anne makan dengan lahap, begitu juga dengan Aidan. Bayi itu dengan senang hati menerima suapan bubur dari papanya.


"The, kamu tahu tempat ini dari mana?" tanya Raga.


Seperti malam-malam sebelumnya, mereka akan berbincang sedikit sebelum menuju alam mimpi.


"Dulu, sebelum kita kembali ke kota A untuk aku lahiran, aku mimpi di datangin kakek Ares. Beliau tersenyum, mengusap rambutku dengan sangat lembut. Beliau memberikan aku sebuah kotak, yang isinya pun aku tidak tahu apa. Sore hari aku sedang merapikan bunga mawar hitam di taman rumah, aku menggali tanah untuk menanam lagi bibit bunga mawar. Kamu tahu? Ada yang aneh, aku kira tanahnya keras karena batu, tapi ternyata bukan. Karena aku penasaran, aku gali terus dan nampak lah sebuah kotak. Kotak yang sama persis dengan yang kakek Ares berikan kepadaku di alam mimpi. Isi kotak itu sebuah surat yang ditulis secara random, kata-kata yang tidak jelas, hingga aku mengerti, suratnya membentuk beberapa kalimat, juga nomor kapten. Aku tahu ini diluar nalar sebagai manusia seperti kita. Aku juga sama tidak percayanya seperti kamu. Tapi melihat yang sudah-sudah, melihat bagaimana 3 pulau lainnya maju dengan pesat, aku jadi percaya kalau ini adalah nyata. Ini adalah pulau terakhir yang kakek urus sebelum pergi meninggalkan kami. Jauh dari hiruk-pikuk kota, tempatnya begitu nyaman dan asri. Rumput hijau menyegarkan mata, bukit-bukit yang terpahat sempurna, entah ada apalagi di sini."


"Gimana kamu tahu kalau paving stone yang kamu angkat adalah kuncinya?"


Athena menggeleng tidak tahu.


"Entah lah, aku hanya mengikuti insting. Dari petunjuk yang aku tahu, paving stone nya akan bergeser sendiri." jawab Athena.


"Daddy tahu?" tanya Raga.


"Nggak tahu. Aku nggak yakin. Opa pun aku nggak yakin beliau tahu"


Raga menghela napasnya.


"Ga?"


"Kenapa sayang?"


"Boleh nggak kita di sini lebih lama? I mean seminggu "


"Boleh. Nanti aku telpon J. Aman kan?"


"Aman. Gak bakal terdeteksi kok"