Athena

Athena
Classroom



Waktu berjalan dengan sangat cepat. Bahkan Anne saja sudah menyelesaikan ujian penaikan kelasnya menuju kelas 2 SD.


"Kamu nggak apa-apa temanin kakak ke sekolah nya?" tanya Athena.


Athena hari ini ada kesibukan bersama Alda dan Vania. Aidan tentu saja ikut dengannya, tidak mungkin Raga yang akan mengurus dua orang anak.


"Yah nggak apa-apa. Gampang kok ini. Terima raport aja kan?"


"Iya, tapi kan kamu duduk dulu di kelas, terus dengarin penyampaian wali kelasnya. Semester kemarin kebanyakan ibu-ibu yang hadir. Kamu nggak apa-apa kalau misalkan kamu sendiri yang laki-laki?" Athena tentu mewanti-wanti sebelumnya, takut Raga akan merasa bosan di sana.


"Yah dicoba dulu kan" ucap Raga santai.


Athena mengangguk.


"Baiklah. Aku berangkat dulu yah" Athena mencium punggung tangan Raga, yang dibalas kecupan di keningnya oleh sang suami.


"Kak, mama pergi dulu yah. Nanti papa yang akan terima raport kakak" Athena mengelus lembut rambut anak perempuannya.


"Okay, mama." Anne memamerkan susunan giginya yang rapi.


"Anak mama makin cantik" dan Athena akan selalu merasa gemas ingin terus menciumi wajah anaknya.


Anne hanya terkekeh, ia melambaikan tangannya pada sang mama yang sudah dijemput.


Aidan jangan di tanya lagi, sejak pagi ia menjadi tahanan Ayra di rumah Alda. Ayra, si gadis manis sudah memasuki masa SMA. Hal itu tentu saja menjadi kewaspadaan bagi Renal.


"Kak, terima raport nya jam berapa kata ibu guru?" tanya Raga.


"Jam 9, papa" jawab Anne.


"Berangkat sekarang yah. Bentar lagi udah jam 9 lho"


"Iya, papa"


Raga menggandeng tangan anaknya hingga ke mobil. Jalanan cukup padat, hari ini menjadi hari pertama anak sekolah libur. Hanya ada beberapa sekolah yang belum libur, itu pun hanya untuk membagikan raport. Sekolah Anne contohnya. Tapi meskipun begitu, besok sekolah Anna juga sudah libur.


Sampai di sekolah, Raga membukakan pintu mobil untuk anaknya, menggandeng tangan Anne memasuki kelas. Perjalanan menuju kelas tentu saja menjadi tantangan bagi Raga, karena sejak mobilnya memasuki gerbang sekolah, ia sudah menjadi bahan perhatian orang-orang. Raga terlihat tampan dengan celana kain hitamnya, yang dipadukan dengan kemeja polos berwarna biru langit. Kakinya di alasi oleh sepatu hitam mengkilap. Anne jangan ditanyakan lagi, anak perempuan itu tentu saja semakin cantik.


Bisik-bisik mulai terdengar. Ada yang terdengar lirih, juga ada yang cukup jelas di pendengaran Raga.


Raga duduk di kursi sebelah Anne, sesekali tangannya akan merapikan rambut anaknya.


"Nene monyet" sebuah kalimat ejekan terdengar. Anak perempuan di depan Anne menghadap ke belakang dan mengucapkan ejekan tersebut.


Ibu-ibu yang mungkin orang tua dari murid tersebut hanya menepuk pundak anaknya, seolah menegurnya. Tanpa meminta maaf.


"Nene monyet, Anne jelek" lagi-lagi ejekan terdengar.


"Tolong bu, anaknya diajar" suara berat Raga terdengar, mampu menarik perhatian orang-orang di dalamnya.


Ibu-ibu tersebut menoleh.


"Jangan salahin anak saya dong pak. Namanya juga anak-anak" katanya dengan begitu angkuh.


Raga tersenyum miring.


"Justru karena masih anak-anak, seharusnya ibu bisa mengajarkan hal yang baik dan sebaliknya"


"Bapak jangan nyari ribut deh. Namanya anak-anak yah memang begitu" ibu-ibu tersebut semakin nge-gass.


"Papa, udah" suara lembut Anne mengalun, tangannya juga tak lupa mengelus lengan papanya, seolah meredam emosi sang papa.


Raga menghela napasnya kasar.


"Nene monyet, Anne monyet"


Tangan kecil Anne mendorong bangku yang diduduki teman yang mengejeknya, hingga membuat anak itu terjatuh. Dengan gerakan yang sangat cepat, Anne sudah berdiri di samping temannya yang terjatuh. Tangan kecilnya berhasil membuat temannya berdiri.


"Kamu yang jelek, kamu yang nakal" ucap Anne.


"Kamu apain anak saya?" murka ibu dari Indah sambil menunjuk tepat di muka Anne. Sementara Indah sudah menangis tersedu-sedu sambil memeluk pinggang ibunya.


Tatapan teduh Anne seketika menjadi begitu tajam saat mendapati jari telunjuk ibu Indah.


"Sayang, hei" Raga menepuk pelan pundak anaknya.


Anne dengan cepat menatap papanya.


"Dia jahat papa. Selalu bilang Anne jelek, Anne monyet. Indah juga sering ganggu kakak, buang bekal kakak dan teman-teman."


Suara anak-anak lain terdengar, mengiyakan ucapan Anne, mereka seolah mengadu kepada orang tua mereka yang sedang mendampingi.


Pintu terbuka, membuat perhatian teralihkan.


"Ada apa ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian?" tanya wali kelas Anne saat menyadari ketegangan dalam kelasnya.


"Murid ini mendorong anak saya" lagi-lagi ibu itu menunjuk Anne.


Wali kelas tentu saja kaget.


"Apa benar, Aurora?"


"Iya, ibu" jawab Anne jujur.


"Minta maaf pada Indah dan ibunya" suruh wali kelas.


Anne tentu saja menggelengkan kepalanya tidak mau.


"Ibu wali kelas yang terhormat, apakah ibu tidak bertanya kenapa anak saya sampai mendorong bangku temannya? Ibu bahkan langsung menyuruh anak saya meminta maaf, seolah kesalahan ada pada anak saya" ucap Raga.


"Fakta sudah di depan mata, pak. Anak anda melukai murid lainnya."


"1x24 jam anak ini tidak meminta maaf, saya akan memberitahukan ayah saya" ucap ibu-ibu tadi, ia sudah berdiri dan merapikan tasnya.


Wali kelas tersebut tentu saja merasa terancam. Indah adalah cucu dari pejabat penting di kota A, bisa hancur karirnya.


"Aurora, minta maaf sayang" wali kelas tersebut mencoba bersikap tenang.


"Tidak ibu guru. Saya tidak bersalah. Indah yang selama ini nakal, suka gangguin saya, tapi saya hanya diam. Hari ini saya melawan karena tidak ingin papa dimarahi oleh ibunya Indah" bukan lagi suara lembut Anne yang terdengar, tapi teriakan khas anak 6 tahun.


"Pak, tolong anaknya diajar. Jika tidak, anak bapak akan terancam" wali kelas kini memberikan pengertian kepada Raga.


"Terancam kenapa yah, bu guru?" Raga tentu saja heran.


Dengan pelan ibu guru itu berucap,


"Kakek indah adalah pejabat penting di kota ini"


Raga mengangguk mengerti. Hal itu membuat ibu Indah tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi sayang sekali ibu guru, saya tidak akan melakukan hal yang ibu guru inginkan. Anda akan mengeluarkan anak saya dari sini? Silahkan." ucap Raga enteng.


"Berikan raport anak itu dan coret dari sekolah ini " kata ibu tersebut.


Dengan cepat wali kelas mengambilkan raport milik Anne dan memberikannya.


"Su-....."


"Terima kasih kerjasamanya. Ayo kak, kita pulang " ucap Raga tenang sebelum menarik pergelangan tangan anaknya.


Belum sampai di pintu kelas, Anne berhenti, membuat Raga juga ikut berhenti.


"Bye-bye teman-teman. Terima kasih sudah baik sama Anne" Anne berucap dengan begitu riang, seolah tidak terjadi apa-apa.


Raga mengelus rambut anaknya dan membawanya ke mobil.