Athena

Athena
Renalda's Island



"Berapa budget Vin?" tanya Eros di hari Rabu sore.


"Senganu" jawab Kevin.


"Nanti gue transfer deh. Thanks udah susah-susah cari ini itu buat liburan kita" kata Wildan.


"Santailah. Habis liburan kita sudah sibuk, masing-masing punya urusan. Sebelum itu terjadi liburan dulu lah" ucap Kevin.


Pulang dari kafe O, Athena memberitahu Daddy nya berapa banyak budget yang dibutuhkan untuk liburan nanti. Renal dengan cepat mentransfer ke rekening anaknya, lalu Athena meneruskan ke Kevin.


"Kevin ini kayaknya cocok jadi tour guide" kata Renal.


"Iya dad, wawasannya luas sih" Alda mengiyakan.


"Besok Daddy minta PA buat transfer uang jajannya" Renal mengelus kepala anaknya.


"Padahal papa udah transfer"


"Itu dari papa, Daddy gak mau kalah" ucap Renal final.


Jum'at siang, Athena, Raga, Eros, Kevin, Wildan dan Darren sudah berada di bandara De Luna. Hanya bandara inilah yang menyediakan jasa penerbangan ke pulau Athena.


"Bandaranya makin kesini makin megah, berkelas gitu" komentar Darren sambil melihat sekitarnya.


Kini mereka sedang berada di ruang tunggu.


"Mana satu-satunya bandara yang menyediakan jasa penerbangan ke pulau Renalda pula" kata Wildan.


"Udah yuk, masuk" ajak Eros.


Mereka lalu menaiki pesawat dan duduk di kursi masing-masing. Kevin tentu saja memilih business class untuk mereka, dia benar-benar totalitas.


"Diam aja dari tadi" Raga mengajak Athena bercakap.


"Ayra baik-baik aja nggak yah?" tanya Athena tiba-tiba.


"Anak yang di desa itu?" tanya Raga balik.


Athena mengangguk. Aira tiba-tiba melintas dalam ingatannya, jantungnya juga berdetak lebih cepat.


"Gak minta tolong orang-orangnya pak Abraham aja buat cek?" saran Raga.


"Kakek sedang sakit, gak enak kalau mau minta tolong" jawab Athena.


"Jangan terlalu dipikirkan" Raga mencoba menjangkau kepala Athena agar bisa mengelus rambut gadisnya itu.


Perjalanan udara mereka tempuh selama 7 jam. Tadi sempat transit di kota C.


"Welcome to Renalda Island" Kevin merentangkan kedua tangannya saat sudah berada di bandara Renalda.


Sebuah mobil Van menjemput mereka untuk membawa mereka ke AN resort. Ya, Kevin lebih memilih resort daripada hotel. Di resort mereka lebih mudah untuk saling berkomunikasi.


Jam sudah menunjukkan angka 9 malam, mereka bergegas mencari warung di sepanjang jalan. Warung disini masih ramai, meskipun sudah malam. Mereka memilih untuk memasuki salah satu warung yang menyediakan menu Coto kesukaan sang gadis yang mereka bawa.


"Habis ini singgah di supermarket yah" pinta Athena.


"Mau ngapain The?"


"Beli cemilan." jawab Athena.


"Boleh deh. Gue juga mau beli minuman" kata Wildan.


Setelah Eros membayar makanan mereka, mereka lalu berjalan ke supermarket terdekat.


"Enak juga jalan malam-malam begini." kata Darren.


"Sejuk gitu udaranya" Eros menimpali.


Athena mengambil sebuah trolly untuk menaruh belanjaannya. Ia menyusuri satu persatu rak yang ada di dalam supermarket. Sesekali tangannya mengambil sesuatu, hingga trolly nya penuh.


"Buset, banyak amat The" kaget Kevin saat melihat jajanan Athena.


Athena hanya nyengir. Semuanya masing-masing menyimpan belanjaannya di depan kasir.


"Disatuin aja mbak?" tanya kasirnya.


"Iya, mbak" jawab Athena.


Athena mengeluarkan kartu saktinya yang diberikan Renal. Kata Renal uang didalamnya banyak, kini ia mencoba menggunakannya. Selama ini ia selalu berbelanja mengunakan uang tunai.


"Gue aja, The" kata Wildan cepat.


"Hilang harga diri gue" lirih Darren.


Wildan mengusap wajahnya pasrah.


"Nggak gitu yah. Ini kebetulan aku belanja banyak, yaudah sekalian. Masih banyak waktu kok buat ngabisin duit kalian" Athena mencoba menjelaskan.


"Ini kali terakhir yah Lo ngeluarin duit" Kata Wildan.


Athena mengangkat bahunya.


"Nggak janji" ucapnya.


"The" tegur Raga.


"Iya-iya" kata Athena pasrah.


"Nurut banget yah sama pawangnya" kata Eros saat mereka melanjutkan perjalanannya.


"Yang pawang Athena apa Raga nih? Biasanya sih Raga yang suka ngamuk" Kevin bertanya.


"Sama-sama butuh pawang kedua teman kita ini" Darren menjawab pertanyaan Kevin.


"Ehh gimana?" tanya Athena.


"Lo cewek, tapi berpendirian, gak neko-neko" kata Wildan.


"Kata mommy perempuan juga harus berpendirian dan mandiri"


"Tapi jangan terlalu mandiri The. Ntar laki-laki pada insecure sama Lo" Eros memulai ceramahnya.


"Gue aja insecure pas lihat Athena dengan santainya memakai sepatu kets keluaran terbaru yang kita semua tahu harganya selangit" jujur Wildan.


"Wil, kita lagi liburan lho. Aku gak ada yah niat kayak gitu" kata Athena.


"Iya, The. Gue cuma me-review aja" Wildan mengelus rambut Athena.


"Belanjaannya mau di taruh mana The?" tanya Raga.


"Di meja dapur aja. Nanti aku susun." jawab Athena. Ia berlalu ke kamarnya untuk bersih-bersih. Ini sudah larut malam, ia harus segera bersih-bersih. Setelah bersih-bersih, Athena hanya menggunakan celana piyama yang menutupi hingga kakinya, juga baju kaos yang cukup longgar.


"Lo mandi The?" tanya Kevin saat melihat rambut Athena masih basah. Para lelaki sedang nonton film action sambil makan kacang kulit.


"Pake air hangat kok" jawabnya.


"Lain kali jangan sampai mandi selarut ini The" kata Darren.


"Iya, sekali ini aja kok" ucap Athena.


"Mau nitip dibuatin coklat hangat?" tawar Athena.


"Mau" jawab Wildan, Kevin dan Darren cepat.


"Okay, just a moment" Athena berjalan ke dapur. Ia memasak air sambil menyusun belanjaannya tadi. Sebagian ia masukkan ke dalam kulkas, sebagiannya lagi ia masukkan ke dalam kitchen set.


Setelah menyusun belanjaannya, airnya juga mendidih. Ia membuat 6 gelas coklat hangat untuk menemani mereka menghabiskan malam.


"Ehh" kaget Athena saat melihat adegan di dalam film action. Ia menutup matanya.


Semuanya tertawa melihat reaksi spontan Athena. Gadis di depan mereka benar-benar sepolos itu.


"Gak pernah nonton film ginian The?" tanya Eros.


"Nggak pernah" jawab Athena.


"Terus tv di rumah Lo, Lo pake nonton apa?" tanya Wildan.


"Nonton kartun"


"Yaaa salaaaam" Wildan menepuk jidatnya sendiri setelah mendengar jawaban Athena.


"Nonton Drakor juga nggak?" tanya Darren penasaran.


"Nonton sih kalau sama mommy"


"Ehh anak orang polos benar" Kevin berkomentar.


Raga sedari tadi menahan tawanya melihat ekspresi teman-temannya. Athena hanyalah gadis yang masih berusia 16 tahun 6 bulan yang lalu. Ia dikawal banyak orang, penjaganya bejibun, muncul seperti hantu, tentu saja ia begitu terjaga. Renal meskipun membebaskan anaknya, tapi ia tidak benar-benar melepaskannya. Apalagi dibelakang Athena ada seorang Lathief Arunika, penguasa seperdua semesta, ia tentu tidak ingin cucunya terkontaminasi dengan hal negatif. Ketiga adik laki-laki Athena saja hidupnya lurus, tanpa neko-neko, hanya Arion yang kadang bandel tapi tidak benar-benar keluar dari garisnya.