Athena

Athena
Kabar Baik



Semua orang sedang duduk di kursinya masing-masing. Makan malam akan segera berlangsung.


"Semuanya, sebelumnya Raga minta maaf karena menyela acara makan malam ini. Raga hanya ingin memberi sebuah kabar baik. Athena sedang mengandung" ucapnya.


Athena yang sedang duduk di sebelah Aina pun mendapatkan pelukan dari sang oma.


"Selamat sayang" Aina mencium pipi cucunya.


Vania dan Alda tidak mau kalah, mereka melakukan hal yang sama dengan Aina.


Mereka semua tentu merasa senang akan kabar baik ini. Anggota keluarga mereka akan segera bertambah


Setelah makan malam, tim dibagi menjadi dua. Tim perempuan dan tim laki-laki. Tim perempuan menguasai ruang keluarga, sedangkan tim laki-laki berada di taman samping mansion.


"Ada dedek di dalam perut kakak?" tanya Ayra.


Athena mengangguk dan tersenyum.


"Adek senang gak?" tanyanya.


"Senang. Baby A juga pasti senang, nanti ada teman mainnya " jawab Ayra.


"The, udah berapa usianya?" tanya Vania.


"Udah masuk 12 week, ma" Athena mengelus perutnya.


"Ehh, mommy senang banget." Alda mengusap air matanya.


"Senang kok nangis" ucap Aina yang berhasil membuat orang-orang terkekeh.


"Nggak aneh-aneh kan yah ngidamnya?" tanya Vania.


"Nggak, ma. Cuman Raga sih yang kadang minta sesuatu. Seperti tema ulang tahun tadi, aku maunya tema baby shark, ehh Raga malah maunya tema bola" cerita Athena.


"Wahh, keren banget cucu oma. Pintar yah sayang diperut mamanya " Alda mengelus perut anaknya.


"Sayang, apa mungkin kamu ikut pulang aja ke kota A?" tanya Aina kepada cucunya.


Athena tersenyum.


"Nggak sekarang, oma. The rencananya lahiran di kota A. Pulangnya mungkin nanti" jawabnya bijak.


"Di sini gak ada yang bisa stay di samping kamu, nak" Vania setuju dengan Aina.


"Mama, di sini ada Raga."


"Tapi Raga kan kerja, sayang" Alda ikut membujuk.


"Nggak sekarang yah pulangnya. The suka tempat ini. Raga memang kerja, ma, mom. Tapi setiap kali The butuh apa-apa, Raga selalu ada. Di sini juga ada orang-orang kakek Ares, jadi aman kok" Athena memberi pengertian kepada oma nya, mommy nya dan mama mertua nya.


"Kamu harus jaga kesehatan lho yah"


Athena mengangguk mendengar peringatan oma nya.


"Iya, oma"


Sementara di luar sana, para lelaki sedang sibuk membicarakan tentang bisnis.


"Lihat tadi baby A ulang tahun, aku jadi pengen punya klub sepakbola sendiri. Keren banget kita semua pake jersey." celetuk Arion.


"Sama, bang. Sejak tadi aku juga mikirin. Terus nanti baby A ulang tahun lagi, kita udah bisa pakai jersey klub kita" Nevan sama semangatnya.


"Gak mudah lho ini" Lathief menimpali.


"Gak mudah bukan berarti gak mungkin kan , opa?"


Lathief mengangguk mendengar ucapan Arion. Cucunya yang satu ini cukup ambisius dalam beberapa kondisi. Perusahaan nya di AlThaf Island berkembang sangat pesat. Meskipun Arion kadang slengean, tapi ia bisa diandalkan.


"Jangan heran begitu, Bas." Renal menertawai ekspresi besannya.


"Habis mereka mau bikin klub bola kayak beli permen aja" ucap Baskara.


"Sim salabim yah" Lathief terkekeh.


"Idenya bagus. Daddy suka. Sejauh ini kita belum ada usaha dalam dunia olahraga. Ada, tapi hanya perlengkapan nya." kata Renal.


"Enak nih, sekali ngomong langsung dapat orang yang bisa diajak kerja sama. Pemegang sahamnya udah pada ngumpul " Raga menimpali.


"Fix dong yah?" tanya Arion.


"Arvin?" tanya Lathief.


"Ya kali aku gak ikut, opa. Arion pasti akan mengeluarkan segala jurusnya agar aku ikut" Arvin pasrah.


Renal, Baskara dan Lathief terkekeh mendengar jawaban pasrah Arvin. Sayang sekali Mika dan Ivana tidak di sini.


"Kalau semuanya berjalan lancar dan berhasil, tolong yah segera bawa cucu menantu untuk opa" ucap Lathief.


"Arvin dulu, opa"


"Bang Arvin dulu, opa"


Ucap Arion dan Nevan bersamaan.


"Kok aku?" Arvin menunjuk dirinya sendiri.


"Kan sekarang kamu yang paling bisa diandalkan. Uang ada, pekerjaan jelas, materi udah 100% lah" Arion tentu saja ngawur.


"Emang kalian gak ada kerjaan? Gak ada uang? Itu materi udah numpuk" sarkas Arvin.


Renal membisiki Baskara.


"Jangan sawan yah. Mereka ini selalu begini. Tolong dimaafkan"


Baskara terkekeh mendengar bisikan besannya.


"Opa sediakan ring, mau?" tanya Lathief.


"Sediain aja, opa. Raga bersedia cetak tiketnya, kita bisa dapat banyak keuntungan" Raga menimpali.


"BAAAANG" teriak Nevan, Arvin dan Arion bersamaan.


Raga, Renal, Baskara dan Lathief terkekeh mendengar teriakan ketiganya.


Perbedaan pendapat, pertengkaran kecil tidak terlepas dari mereka. Mereka tentu saja pernah beradu mulut, tapi tidak pernah saling menjatuhkan. Kekompakan mereka benar-benar luar biasa.


✨✨✨


Keesokan harinya, mereka semua kembali ke kota A. Raga dan Athena tentu saja mengantarkan mereka ke bandara.


"Gak pengen ikut opa pulang?" tanya Lathief pada cucunya. Sejak tadi ia merangkul cucunya.


"Nanti yah, opa. Opa jemput The di sini" jawab Athena.


Lathief mengangguk mengerti. Ia mencium kening cucunya sebelum melepaskan rangkulannya.


"Sana ke daddy mu dulu" katanya.


Athena terkekeh. Ia berjalan menuju daddy nya, lalu memeluk pinggang sang daddy.


"Anak daddy udah besar. Anaknya udah mau dua aja" Renal mengelus rambut anaknya.


"Daddy senang kan?" tanya Athena.


"Sangat senang. The akan jadi perempuan yang sesungguhnya. Sekarang sedang hamil, nanti akan melahirkan dan menyusui. Daddy senang sayang. The jaga kesehatan yah sayang" Renal mencium kening anaknya.


"Ga, jagain anak dan cucu-cucu daddy yah" kata Renal.


"Baik, daddy" Renal mengangguk.


Di atas pesawat, Alda duduk di dekat Vania.


"The sedekat itu sama Daddy nya?" tanya Vania.


"Iya, Van. Renal kadang uring-uringan mikirin anaknya, padahal anaknya sudah nikah. Tahu nggak, waktu kecil aku bawa The ke kantor Renal. Kebetulan di kantor Renal aku ketemu teman lama dan ngobrol, aku keasyikan ngobrol, Athena jalan sendiri ke jalan raya, terus ketabrak. Renal bahkan diemin aku lama" cerita Alda.


"Kelihatan sih gimana dekatnya mereka"


"Renal daddy-able sih. Waktu aku belum nikah aja, dia udah dekat banget sama The. Kemana-mana di bawa, gak malu gendong anaknya di tempat umum"


"Seru pasti yah punya anak perempuan?" tanya Vania.


"Seru, Van. Apalagi kalau anaknya udah sebesar Ayra. Udah bisa diajak kemana-mana. Ke salon, ke mall, udah bisa di ajak ke dapur juga buat temanin kita masak. Ehh, kalau daddy nya gak ada sih. Kalau daddy nya ada, anak-anak gak boleh masak. Takut anaknya kena luka"


"Iya, aku pernah denger cerita The kalau Ayra lagi sambat, daddy nya overprotektif "


Alda tertawa. Renal punya cara tersendiri menyayangi anak-anaknya. Ia tentu bukan tidak mengizinkan anaknya untuk masak. Ia akan mengizinkan nya saat usia mereka sudah cukup.