Athena

Athena
Part 182



Pernikahan Raga dan Athena sudah berjalan selama 6. Semuanya berjalan seperti sedia kala, nyaris tidak ada masalah, karena keduanya mengerti betul cara berkomunikasi yang baik.


Bulan kemarin Nevan, Arvin dan Arion baru saja mendapatkan gelar sarjananya. Arvin dan Nevan tentu langsung memilih untuk melanjutkan studi ke jenjang magister, sambil bekerja.


Athena berencana untuk membersihkan ruang kerja Raga, memisahkan buku-bukunya dan menyimpannya di perpustakaan yang berada tepat diberada disebelah ruang kerja milik Raga.


Athena mulai memilah buku-buku yang akan ia pindahkan, mengambilnya dalam rak kaca. Saat hendak mengambil sebuah buku yang berada di sela-sela map, sebuah kertas jatuh, juga sebuah kotak persegi panjang yang berukuran tidak terlalu kecil.


Athena menghela napasnya, ia segera menunduk dan mengambil beberapa lembar kertas yang jatuh, juga kotak persegi tersebut. Namun naasnya saat akan kembali berdiri, kepalanya terbentur pada pintu rak, sehingga benda persegi itu jatuh, menggelinding dan terbuka.


Sebenarnya Athena tidak begitu penasaran akan isi dari benda tadi, sebelum benda itu terjatuh. Tapi sekarang rasa penasarannya membuncah saat melihat sebuah benda isi dari kotak tersebut. Ia segera mengambilnya, dan jatuh terduduk ke lantai. Ia juga segera membaca dengan teliti kertas yang jatuh tadi. Kertas yang menyatakan bahwa Clara Devanka sedang dalam keadaan hamil.


Air mata Athena jatuh begitu saja setelah membacanya. Ingatannya jatuh pada beberapa bulan kemarin saat ia melihat Raga bersama Clara menaiki mobil yang sama. Ia tentu bohong kepada adiknya, Ayra, jika itu bukan Raga. Nyatanya ia juga melihat Raga dengan jelas.


Setelah dirinya kembali tenang, Athena lalu menyimpan apa yang ia lihat kembali ke tempatnya semula. Seperti tujuan awalnya, ia hanya mengambil buku yang akan ia pindahkan tadi, lalu menutup kembali rak kaca tersebut. Rasa sakit kepalanya akibat benturan tadi tidak lagi terasa.


Hingga waktu menunjukkan waktu untuk makan siang, Athena masih sibuk menyusun buku-buku di perpustakaan. Sudah ada 1 set sofa juga meja di dalam perpustakaan yang kini ia gunakan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia berharap isi kepalanya juga bisa diam dan ikut beristirahat.


Alih-alih berdiri untuk memasak dan makan, Athena malah menutup matanya, berharap ia bisa tidur dan melupakan hal yang tadi ia lihat dan ketahui.


Jam 5 sore, Raga sudah berada di rumahnya. Ia mencari keberadaan Athena di setiap sudut rumahnya, tapi tidak mendapati keberadaan istrinya. Ponsel istrinya juga berada di kamar. Sebelum melanjutkan pencarian istrinya, Raga terlebih dahulu membersihkan dirinya dan mengganti bajunya menggunakan pakaian rumahan. Setelah itu barulah ia menuju rumah mertuanya untuk mencari istrinya.


"Athena ada nggak mom?" tanya Raga setelah menyapa mertua perempuannya.


"Lho, dia nggak izin yah sama kamu? Tadi katanya mau ngajak Ayra liburan dulu" Alda tentu heran.


Demi menghindari kecemasan mertuanya, Raga segera mengambil ponselnya dan berpura-pura membaca pesan Athena. Ia menepuk keningnya.


"Sorry, mom. Raga baru buka ponsel" ucapnya bohong.


Alda terkekeh ringan.


"Yaudah, Raga balik ke rumah dulu mom. Salam buat daddy" pamit Raga.


Ia segera pulang dan mencari keberadaan Min.


"Min, The kemana?" tanya Raga.


"Nggak tahu, tuan. Nona gak mau saya ikutin." jawab Min sopan.


"Tumben kamu gak ngikutin The?" heran Raga.


"Setelah nona menikah, Tuan membebaskan saya untuk mengikuti perintah nona. Saya tidak lagi berada dalam tekanan tuan, tapi berada dalam kuasa nona Athena. Perintah nona Athena tentu menjadi kewajiban saya" beritahu Min.


"Kok begitu?"


"Kata tuan besar, nona sudah punya privasi sendiri. Tuan tentu tidak lepas tangan, ia hanya menghargai privasi cucunya yang sudah memiliki kehidupannya sendiri" jelas Min.


Raga mengangguk mengerti. Ia kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan untuk mengetahui dimana keberadaan istrinya. Baru kali ini Athena pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Biasanya Athena selalu meminta izin, entah dekat atau jauh, entah perginya lama atau sebentar.


Hingga jam 10 malam belum ada tanda-tanda Athena akan pulang. Ponsel Raga berdering, ada telpon dari Vania.


"Kamu bertengkar sama anak mama?" tanya Vania diseberang sana.


"Nggak, ma. Mama kok bertanya kayak tadi?" Raga tentu heran.


"The ada di sini, sama Ayra. Katanya udah kabarin kamu. Tapi mama tahu, anak perempuan mama tidak jujur hari ini." jawab Vania.


"Yaudah, ma. Terima kasih infonya. Ini Raga segera kesana." ucap Raga sebelum mematikan panggilannya. Ia segera ke kamarnya untuk mengambil ponsel Athena yang tertinggal.


Dengan kecepatan tinggi Raga mengendarai mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya.


"Athena mana ma?" tanya Raga langsung.


"Di kamar kamu. Jangan ganggu dulu. Sini bilang sama mama kenapa sampai The pergi gak izin sama kamu?"


"Nggak tahu, ma. Tadi sore Raga pulang dan Athena sudah nggak ada. Habis bersih-bersih Raga ke rumah mommy cari Athena, tapi kata mommy Athena keluar ngajak Ayra main." cerita Raga.


"Ia, tadi Athena menemani Ayra ke Dufan, mereka tiba saat hari sudah gelap. Alasan tadi Athena ke sini karena kangen mama, mau pulang juga jaraknya cukup jauh. Sebagai sesama perempuan mama tentu tahu ada hal yang ia sembunyikan" Vania menepuk pelan bahu anaknya.


"Bicarain baik-baik yah nak" katanya.


Raga mengangguk.


"Papa belum pulang?"


"Ini udah dijemput sama sopir, bentar lagi tiba" jawab Vania.


"Yaudah, aku temanin mama nungguin papa. Habis itu baru ke atas" Raga menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


Tidak lama kemudian, Baskara tiba. Tiga hari yang lalu ia ke kota C untuk urusan pekerjaan. Dan malam ini ia tiba di kediamannya. Setelah menyapa papanya sebentar, barulah Raga melangkahkan kakinya menuju lantai dua rumahnya. Ia membuka pintu kamarnya dengan pelan, agar tidak menggangu ketenangan Athena dan Ayra yang mungkin sedang terlelap.


Ayra sedang berada dalam dekapan Athena. Ayra juga sama posesif nya, ia memeluk pinggang kakaknya. Raga menghela napasnya, ia harus menunggu waktu yang pas untuk berbicara dengan Athena.


Athena menoleh saat merasakan pergerakan di belakangnya. Ia mendapati Raga yang sedang menatapnya begitu dalam.


"Maaf udah bangunin kamu" ucap Raga.


Athena tersenyum.


"Nggak apa-apa" katanya.


Perut Raga bunyi, rupanya lelaki itu sedang lapar. Dengan pelan-pelan Athena melepaskan pelukannya pada Ayra, dan melepaskan tangan Ayra pada pinggangnya.


"Kamu belum makan?" tanya Athena setelah berhasil duduk di samping Raga.


Raga tentu saja menggeleng.


"Belum" jawabnya jujur.


"Ayo makan dulu. Aku temanin" ajak Athena. Ia mengikat rambutnya dengan asal-asalan dan segera ke dapur. Raga hanya pasrah mengikuti langkah istrinya.