Athena

Athena
Just With You



Hari ini Kevin akan kembali ke negara sebelah untuk melanjutkan kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai. Athena masih dalam perjalanan menuju bandara, ia dijemput oleh Raga.


"Udah minta izin kan sama om?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


"Udah, Ga. Ayra pengen ikut tapi cepat dibujuk sama Nevan buat ke Timezone" jawab Athena.


"Ehh, padahal kalau ada Ayra juga nggak apa-apa. Malah biar makin ramai" kata Raga.


"Next time deh kita bawa Ayra"


Raga mengangguk. Ia mengelus rambut Athena menggunakan satu tangannya.


"Gue kira Lo berdua gak kemari" kata Kevin saat melihat keberadaan Raga dan Athena baru muncul.


"Maaf, Ga. Tadi mesti bujukin Ayra dulu" ucap Athena.


"Santai kali, The. Gue cuma bercanda"


Athena terkekeh.


"Penerbangan Lo jam berapa?" tanya Eros.


"Bentar lagi. Kalau Lo pada sibuk, bokek kok balik sekarang" jawabnya.


Wildan menjitak jidat Kevin.


"Nanggung banget ini. Semalam siapa yang merengek minta diantar hah? Sekarang malah ngusir"


"Omelin, Dan" Darren membuat panas keadaan.


"Sorry lah kawan-kawan semua. Mami papi lagi sibuk, gak bisa nganter. Makanya punya sahabat yah dibuat repot aja sesekali" ucap Kevin tak tahu diri.


"Ba**ke emang" umpat umpat Darren.


Lalu mereka semua tertawa.


Seperti perkataan Kevin tadi, jadwal penerbangan nya sebentar lagi. Kini Kevin sedang antri untuk check-in. Sementara yang lainnya berjalan ke parkiran.


"Lo berdua mau kemana?" tanya Darren.


"Mau ikut Lo?" tanya Raga balik.


"Ogah gue jadi obat nyamuk" jawab Darren sarkas.


"Yaudah, ngapain nanya." seloroh Raga.


"Jangan aneh-aneh Lo Ga. Pengawalnya nih orang pasti ngintilin dimana mana" kata Wildan.


"Astaga, mulutnya" ucap Athena.


"Pikiran Wildan udah gak benar kayaknya" Eros menoyor kepala Wildan, berharap otak sahabatnya kembali suci.


Mereka mengakhiri percakapan singkat itu, kemudian berpisah. Ada yang ke kampus, kembali ke rumah dan ada yang berangkat ke pinggir kota. Yang berangkat ke pinggir kota tentu saja Athena dan Raga.


Tadi Raga terlambat buat jemput Athena karena ia sibuk mengurus bingkisan yang akan di bawa ke panti jompo yang biasa papa dan mamanya datangi. Papa dan mamanya sedang ke kota C untuk membuka cabang perusahaan, kebetulan waktunya sudah tiba untuk mereka kembali menengok panti yang dibangun dan di sponsori sendiri oleh Baskara, jadilah mereka minta Raga yang mengunjungi.


"Jangan kaget yah kalau mereka tiba-tiba mengurumuni kamu" Raga mewanti-wanti agar Athena tidak kaget saat mendapatkan perlakuan tidak biasa dari para orang tua disana.


"Nggak sampai ngelukain kan?" tanya Athena.


"Nggak, The" jawab Raga.


Mobil sudah terparkir rapi di halaman yang cukup luas. Pagarnya dibuat begitu kokoh, agar tidak ada yang lolos sampai keluar. Orang-orang yang berada di sini berasal dari banyak cara. Ada yang sedang tertidur di trotoar beralaskan beton dengan perut lapar, ada yang sedang menangis sambil merintih kesakitan dan ada juga yang menyerahkan dirinya sendiri karena anaknya sudah tidak ada. Ada sekitar 20 jiwa yang ada di panti ini, tidak termasuk pengurusnya yang berjumlah 10 orang.


"Lho mas Raga" sapa kepala panti. Namanya ibu Irna.


"Maaf Bu, kami datangnya terlambat" ucap Raga.


"Nggak apa-apa, mas. Ayo sekalian ke dalam" ajak Bu Irna.


"CUCU RAGA DATANG" seru salah satunya.


Mereka lalu berkerumun di sekitar Raga dan Athena sambil tersenyum.


"Halo kakek dan nenek semuanya. Ayo kembali duduk. Raga bawa teman nih, mau dikenalin" ucap Raga hangat.


Orang-orang lansia itu duduk di atas tikar. Raga dan Athena duduk di depan mereka.


"Ini temannya Raga, namanya Athena"


"Dewi Athena" celetuk seorang kakek yang duduk di belakang.


Athena terkekeh mendengarnya.


"Halo kakek dan nenek semuanya. Aku Athena, temannya Raga. Dalam kenal" sapa Athena.


Para lansia itu terlihat senang akan kehadiran Raga dan Athena. Mereka duduk bersama sambil makan kue brownies yang dititipkan Alda untuk mereka.


Sekarang waktunya makan siang, mereka makan bersama. membentuk lingkaran besar dan makanan berada di tengah.


"Terima kasih mas, mbak sudah berkunjung" ucap Bu Irna.


"Sama-sama, buk. Mereka semua baik-baik. Gak ada yang galak." jawab Athena.


"Iya, mbak. Makanya para petugas di sini pada betah. Semuanya pada lembut gitu, kalau di kasih tahu yah mengerti, meski ngenyel yah tetap dilakuin. Anak saya yang kebetulan kerja di sini meminta mereka menanam sayuran di belakang, ehh pada senang gitu ada kegiatan setiap sore. Beberapa waktu kadang sifat anak-anaknya muncul, tapi yah mesti di mengerti mereka ini para orang tua." jelas Bu Irna.


"Wah, sabar sekali ibu Irna ini." takjub Athena.


"Kami permisi dulu, Bu" pamit Raga.


Bu Irna mengantar mereka sampai ke mobilnya. Mobil perlahan kembali ke pusat kota. Jam menunjukkan angka 2 lewat 30 menit.


"Mau ke apartemen nggak?" tanya Raga.


"Boleh deh" jawab Athena.


Raga merangkul bahu Athena, berjalan masuk ke lift. Setelah sampai di apartemen, Athena menyimpan tasnya di meja ruang TV kemudian ke dapur untuk mengambil minum.


"Segernya" ucap Athena kemudian memasukkan kembali botol air mineral ke dalam kulkas. Athena berbalik, dan mendapati Raga tepat berdiri di depannya. Raga memeluk pinggang Athena, menempelkan badannya pada badan Athena, kemudian menjilat sisa air yang berada pada bibir atas Athena. Bermula dari situ c*uman panjang terjadi. Athena juga ikut menikmatinya. Ini bukan kali pertama mereka melakukannya, ini sudah menjadi yang ke beberapa kali.


Athena menepuk dada Raga, tanda ia sudah tidak sanggup lagi mengimbangi l*matan Raga pada lidahnya. Athena mendongak menatap Raga. Raga membersihkan sisa Saliva mereka yang ada di sekitar bibir Athena, kemudian mencium kening Athena lama.


"Aku ngantuk" kata Athena.


Raga membawanya ke kamar. Ia tidur telentang.


"Kamu tidur di atas. Biar tahu nyamannya kayak apa" kata Raga.


Athena mengangguk. Ia menindih tubuh Raga, menyimpan wajahnya di ceruk leher Raga. Mereka tumbuh bersama-sama, mengarungi indahnya menjalin kasih.


"The, lidahnya please" tegur Raga saat lidah Athena bermain di lehernya.


"Kamu sering giniin aku. Kayak gini juga" Athena lalu menjilat pelipis Raga hingga ke telinganya.


Karena tidak sanggup menahan kejahilan Athena, Raga dengan cepat membalik posisi mereka. Kini ia yang berada di atas tubuh sang kekasih.


"Udah berani yah jahilin aku" Raga mencium lembut telinga Athena.


"Geli Ga" Athena terkekeh.


Raga seolah tuli, ia melanjutkan kegiatannya hingga gadis dibawahnya meronta sambil tertawa lepas.


"The, jangan pernah raguin aku. Kamu satu-satunya perempuan yang membuat aku sehangat dan sesabar ini" ucap Raga.


Athena mengangguk. Ia memeluk kepala Raga yang berada diatas perutnya.


"Iya, Ga. Ayo tidur" Athena perlahan menutup matanya.