
Athena terlihat cantik dengan rok pensil selututnya yang dipadukan dengan kemeja dan sepatu yang heels nya hanya setinggi 3 cm.
"Anak Daddy cantik banget. Auranya kuat gini" Renal mengelus rambut anaknya yang sengaja diurai pagi ini.
"Thank you, Daddy" Athena mencium pipi Daddy nya.
"Bueehh, jadi gini kalau kakak lagi pakai baju kerja" Nevan saja yang baru bergabung di dapur ikut tepana melihat pemandangan di depannya.
"Pantes bang Raga uring-uringan" lanjutnya.
"Uring-uringan gimana, Van?" tanya Alda.
"Yah uring-uringan gitu, mom. Gelisah terus, ehh ternyata akak The emang se-waw ini" jawab Nevan.
Hanya Ayra yang tidak banyak berbicara pagi ini. Anak itu bahkan menempelkan kursinya dengan kursi Alda agar tidak berjauhan. Ia terbiasa melihat kecantikan kakaknya saat mengenakan pakaian kerja.
Mereka kemudian sarapan sebelum memulai aktivitas hari ini.
"Mau diantar Daddy nggak?" tawar Renal pada kedua anaknya.
"Daddy anterin adik aja. The naik motor kok" jawabnya.
"Tapi sama mommy yah?" pinta Ayra.
Alda dan Renal mengangguk bersamaan.
Sebuah mobil tanpa flat memasuki pekarangan rumah Athena. Terlihat Raga turun dari mobil itu.
"Baru bang?" tanya Nevan.
Raga mengangguk. Lelaki itu terlihat tampan dengan setelan jasnya dan juga sepatu pantofel nya.
"Bang Raga!" Seru Ayra senang. Anak kecil itu memeluk pinggang Raga.
Raga tersenyum sambil mengelus kepala Ayra.
"Udah mau ke sekolah?"
Ayra mengangguk.
"Mau bang Raga anterin?"
"Dianterin mommy sama Daddy kok. Bang Raga anterin akak The aja"
"Yaudah, The berangkat gih"
"Ga, hati-hati yah nyetirnya. Anak om udah cantik gini, jangan sampai make up nya luntur" Renal menggoda anaknya.
"Baik, om" kata Raga.
"Tante anterin Ayra dulu yah. Kakak, semangat kerjanya, Raga juga. Nevan, jangan tiduur lagi" pesan Alda.
"Siap, mommy"
"Terima kasih, Tante"
Ucap ketiganya bersamaan.
Setelah mobil yang dikendarai Renal tidak terlihat lagi, barulah Raga dan Athena berangkat. Masih belum ada percakapan diantara mereka. Baik Athena maupun Raga sama-sama hanya diam.
"Kok beli mobilnya tiba-tiba? Padahal di rumah ada mobil yang bisa kamu pakai selama di sini" Athena akhirnya mengalah.
Raga hanya menggelengkan kepalanya.
Raga menginjak pedal rem mobilnya saat sudah sampai di depan lobi kantor Atthena. Ia mencium kening gadis itu, sebelum turun membuka pintu untuk gadisnya.
Athena begitu dibuat bingung akan perlakuan Raga. Lelaki itu tidak berbicara, tapi tindakannya juga begitu manis hari ini.
Setelah Athena turun dari pintu, Raga tak lupa mengelus kepala gadisnya sebelum menaiki mobilnya kembali.
Orang-orang yang berlalu lalang tentu melihat hal itu. Apalagi beberapa malam yang lalu Athena pernah membuat postingan baru bersama dengan seorang lelaki tampan, yang bisa mereka lihat pagi ini. Athena melangkah dengan anggun, seperti biasa. Tak sedikit mata yang mengikuti kemana gadis melangkahkan kakinya. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Udah ada yang punya ternyata"
"Mana cowoknya juga keren abiss"
"Pak Andika mah masih kalah"
"So sweet banget tadi"
"Di foto nya juga mesra banget"
"couple goals sih mereka. Athena cantik, pacarnya juga cakep banget"
"Yang cantik memang beda sih"
"Kita lihatnya sering sendiri, ehh pas upload foto crush nya ternyata high class banget"
Athena membuka pintu ruangannya, ternyat Hana dan Yudha sudah datang.
"Buehh, gue kira jomblo, ternyata udah ada pawang" ejek Yudha.
"Pawang nya gak main-main pula" sambung Hana.
Athena terkekeh mendengar ucapan dua orang temannya.
"Aku bawa bolu kukus nih, ayo dimakan dulu" Athena menyimpan sekotak bolu kukus diatas mejanya.
Hana dan Yudha tanpa diminta 2 kali segera mendekati meja Athena.
"Enak banget" komentar Yudha.
Pintu ruangan kembali terbuka. Nampak Andika yang berdiri di pintu.
"Lagi makan-makan?" tanyanya.
"Iya pak, mari makan bolu kukus" jawab Yudha. Ia tentu tak lupa mengajak bossnya.
Andika juga ikut mencicipi bolu kukus yang Athena bawa.
"Kuenya beli dimana?" tanya Andika.
"Gak dibeli, pak. Mommy saya yang buat" jawab Athena.
"Wah, hebat mommy kamu. Kuenya enak gini" kata Andika.
"Terima kasih, pak" ucap Athena.
Setelah bolu kukusnya habis, barulah Andika meninggalkan ruangan bawahannya.
"Kuenya enak banget, The. Pak Andika aja sampai ketagihan gitu" kata Hana.
Athena mengangguk.
"Kue buatan mommy memang selalu enak"
"The, crush kamu kerja di kota ini juga?" tanya Yudha.
"Nggak. Kebetulan aja dia ada kerjaan selama seminggu di sini, jadinya ke sini. Dia kerja di kota A" jawab Athena.
"Dapat crush cakep gitu dimana The?"
"Di sekolah sih" jawab Athena kemudian tertawa kecil.
"Ehh, seriusan?" tanya Yudha tidak percaya.
Athena mengangguk.
"Iya, sejak sekolah. Sekolahnya sama-sama di SMA Maheswari"
"Bisa awet gitu yah?"
"Aku pakein formalin sih" ucap Athena polos kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Syalan bener" umpat Hana.
"Nggak, aku tuh bercanda." kata Athena.
"Pantas aja gak nerima sinyal dari pak Andika, ternyata sudah ada pawangnya" Kata Yudha.
"Ini mah namanya patah hati se-kantor" Hana menimpali.
"Apaan pula patah hati se-kantor?"
"Lo nggak sadar sih, para kaum Adam di sini pada mandang lo. Lo tahu nggak sih, sejak gue masuk kantor tadi, orang-orang pada ngomongin Lo setelah Lo upload foto bareng doi" cerita Hana.
"Emang iya?" tanya Athena.
"Iyaaa, The" Hana jadi gregetan.
"Padahal kan cuma foto. Biasa aja pula, gak ada yang istimewa"
"Gak istimewa matamu" Hana mendelik.
"The, sejak Lo datang, Lo udah jadi center, apalagi bagi kaum laki-laki. Apapun yang menyangkut diri Lo, pasti jadi bahan omongan. Lo ngobrol bareng pak Andika aja jadi omongan, apalagi mereka lihat foto Lo sambil dirangkul mesra gitu. Gue yakin banget mereka menjerit iri liat itu" Hana begitu menggebu-gebu saat mencoba membuat temannya mengerti.
"Gue gak termasuk yah, The. Gue tim yang milih jadi teman Lo aja, ketimbang jadiin Lo crush gue" kata Yudha.
"Mau Lo jadiin crush juga yah gak bakal dapat" ucap Hana pedas.
Athena terkekeh mendengar ucapan pedas Hana. Ia tidak menyangka jika fotonya dan Raga menjadi bahan gunjingan orang-orang. Memang itu kali pertama Athena menjadikan foto mereka feed di ig, tapi seharusnya orang-orang menjadikan itu hal biasa kan?
Athena dan kedua temannya bekerja dengan tenang. Sesekali melempar pertanyaan kemudian di jawab oleh dua orang lainnya. Hingga jam makan siang telah tiba, mereka meninggalkan meja kerjanya dan segera melangkahkan kakinya menuju kantin kantor yang berada di lantai 1 gedung ini.