Athena

Athena
Trouble Maker



"Gak mampir dulu?" tanya Athena.


"Nanti, yah. Sampaikan salam aku kepada Bagas" tolak Raga halus.


"Kamu habis ini mau ke mana?"


"Langsung pulang, The. Serius. Anak-anak nitip makan" jawab Raga.


Athena terkekeh mendengar jawaban Raga.


"Iya, aku percaya. Kamu hati-hati yah pulangnya" ucap Athena.


Raga mengangguk. Ia mencium kening Athena cukup lama.


"Masuk gih, aku liatin"


"Bye bye" Athena melambaikan tangannya kemudian melangkah memasuki rumahnya.


Melihat Athena yang sudah memasuki rumahnya, Raga mulai menginjak pedal gasnya. Wildan dan Darren benar-benar menjadikan dirinya kurir makanan dengan alasan malas keluar. Raga memarkir mobilnya di salah satu restoran yang sering ia datangi jika ke kota ini.


Saat sedang asyik bermain ponsel sambil menunggu pesanannya jadi, seseorang menyapa nya.


"Selamat sore, Raga" sapa orang itu.


Raga menoleh ke orang tersebut. Ia kemudian tersenyum kecil.


"Ehh, pak Andika" sapa Raga.


"Lagi nunggu pesanan juga pak?" tanya Raga. Ia mencoba bersikap ramah kepada atasan pacarnya tersebut.


"Iya. Oh iya tadi saya lihat seseorang mendatangi Athena di kantin kantor" beritahu Andika.


"Kerabatnya mungkin, pak" kata Raga.


"Mereka terlihat sangat mesra. Orang-orang bahkan menjadikannya bahan omongan. Kamu baik-baik saja kan dengan Athena?"


"Kami baik-baik saja, pak" jawab Raga.


Andika terlihat mengotak atik ponselnya, kemudian memperlihatkan nya pada Raga. Ia memotret dimana Bagas mencium kening Athena.


"Yakin kalian baik-baik saja?" tanya Andika lagi.


Raga menggelengkan kepalanya saat melihat potret Bagas dan Athena. Bagas ini benar-benar tidak tahu tempat.


"Sebelum melangkah terlalu jauh, sebaiknya kamu mencari lebih dalam lagi tentang dia." kata Andika.


"Terima kasih sarannya pak. Saya pamit dulu, pesanan saya sudah jadi" ucap Raga sopan.


Andika mengangguk. Sebuah smirk terlihat di wajahnya saat Raga berbalik membelakanginya.


Raga tentu tidak kaget akan langkah yang diambil oleh Andika agar hubungannya dan Athena retak. Seseorang bisa bertindak dibatas normal saat pikirannya sedang kalut. Andika salah satunya. Ia adalah seorang lelaki yang berpendidikan, punya jabatan bagus, dihormati oleh orang lain, tapi ia bersikap seolah bukan dirinya.


Bagas juga ada-ada saja. Diantara semua adik Athena, Bagas adalah pemegang gelar bandit.


"Lama banget perginya" kata Darren tidak tahu diri. Ia langsung saja membuka kotak makanan yang Raga bawa.


"Maaf tuan muda Darren" ucap Raga sarkas.


Kevin dan Wildan terkekeh mendengar ucapan sarkas Raga, sementara Eros hanya menggelengkan kepalanya. Kapan mereka bisa berubah, mereka sudah sebesar ini dan masih suka beradu mulut.


"Lo pada kesini cuma buat rebahan? Gak usah jauh-jauh lah kemari, di rumah kalian pada udah ada kasur" kata Raga.


"Mau healing, Ga. Tapi kita mulai dengan rebahan sampai puas" kata Kevin.


Wildan dan Darren mengangguk mendengar perkataan Kevin.


"Sekalian lah besuk Athena." kata Eros.


"Nyusul Lo juga" kata Wildan.


"Apaan coba mesti di susul? Jadi eksekutif kok pada kurang kerjaan" cibir Raga.


"Buat apa punya duit kalau masih harus capek kerja" Darren membela diri.


"Iyain deh yang punya pertambangan di sono" kata Wildan.


Sementara di rumah Athena, ia sedang menjewer telinga Bagas.


"Apa maksudnya coba datang ke kantor? Mana pake acara peluk cium" omel Athena.


"Buat usir buaya, kak. Sekalian mengurangi pekerjaan bang Raga untuk menyingkirkan para saingannya" Bagas mulai ngeles.


"Udah dong kak, tangannya di lepas. Kuping aku udah mau copot kayaknya" Bagas merayu Athena agar segera melepaskan kupingnya


"Pake ngeles segala kayak bajaj." dengus Athena.


"Yah maaf, kak." ucap Bagas. Ia memeluk kakaknya.


"Bagas rindu banget tahu. Makanya tadi dari bandara langsung nyamperin ke kantor" kata Bagas.


"Tapi kan orang pada lihat. Kayak gak bakal ketemu aja pas di rumah. Bagas, tidak ada orang yang tahu jika kakak adalah anaknya Daddy Renal, kakak cuma staf biasa di sana. Bayangin ekspresi dan pandangan orang-orang saat kamu udah resmi jadi CEO. Gimana tanggapan mereka ke kakak" Athena mencoba memberi pengertian kepada adiknya.


"Jangan selalu dengar omongan orang, kak." ucap Bagas.


"Kakak juga kenapa mesti jadi staf biasa, padahal udah bisa pegang perusahaan" kini Bagas yang mengomel.


"Udah berani yah ngomel-ngomel ke kakak. Sana mandi dulu, habis itu kita cari makan" suruh Athena.


"Siap kanjeng ratu" Bagas mengecup pipi kakaknya sebelum berlari kecil menuju kamarnya.


Ya, Bagas memilih untuk tinggal di rumah yang sama dengan Athena. Hal itu tentu saja disambut baik oleh Athena, Renal juga senang karena ada seseorang yang akan menemani Athena.


"Yuk, kak" Bagas merangkul Athena hingga ke halaman rumah.


Mereka lalu berangkat menuju bundaran kota yang terdapat banyak jajanan.


"Ayra pulangnya kapan kak?" tanya Bagas.


"Masih lama kayaknya. Liburnya juga kan masih lama." jawab Athena.


"Bang Raga katanya juga ada di kota ini yah?"


"Iya, atau sekalian ajak Raga aja yah sama yang lain"


"Yang lain?"


"Iya, teman kakak jaman SMA" jawab Athena.


"Terserah kakak sih. Aku mah yang penting kenyang aja"


"Ehh, atau nanti aja deh." ucap Athena pada akhirnya.


Bagas memarkir mobilnya di sekitar swalayan. Lelaki itu terlihat tampan dengan baju kaos juga celana pendeknya yang hanya menutupi hingga lututnya.


"Mau makan apa dek?" tanya Athena.


"Makan sate deh, kayaknya enak banget kalau pake lontong gitu" jawab Bagas excited.


"Oke, mari kita cari sate yang enak" ucap Athena.


Bagas merangkul bahu kakaknya.


"Yang kakak siapa yang tinggi siapa" ledek Bagas.


"Kakak udah tinggi tahu. Kamunya aja yang tingginya kebangetan seperti raksasa" bela Athena.


"Iyain"


Mereka duduk lesehan di trotoar jalan, di belakang gerobak sate. Bagas melihat sekelilingnya, ada banyak penjual makanan di sini. Itu tandanya ia tidak akan kelaparan di kota ini, ia hanya perlu menunjuk pada makanan yang ia inginkan.


"Belum ada niat untuk jadi istri?" tanya Bagas.


"Hah, gimana?" tanya Athena balik.


"Kakak belum ada niat untuk nerima lamaran bang Raga?"


"Kakak bingung, hehehe"


"Why? Tell me."


"Raga mau nggak yah tinggal di Arunika bareng kakak? Kakak rencana untuk menempati rumah papi Rafa"


"Kakak gak pernah bahas ini sama bang Raga?"


Athena menggeleng.


"Belum. You know lah, Raga anak tunggal, mamanya pasti berharap banyak agar kakak bisa tinggal di sana"


Bagas mengusap wajahnya.


"Bener sih. Tapi coba deh, kakak bicara pelan-pelan, barangkali bang Raga bisa mengerti. Kasihan juga sih, lamarannya belum ada jawaban."


"Nanti kakak coba deh bicarakan dengan Raga." ucap Athena.


Dua porsi sate datang, lontongnya di pisah, berada di piring lain. Athena tentu saja menambhakan sambel di bumbu satenya.


"Kak, sambelnya jangan banyak-banyak" tegur Bagas.


"Iya pak iya" pasrah Athena.