
Kemarin pagi Raga membawa keluarga kecilnya liburan ke pulau Athena, menempati kembali rumah mereka jika berkunjung ke sini. Rumah yang luasnya tidak seberapa, tidak seluas dengan rumah-rumahnya yang lain. Hanya ada 4 kamar dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya, ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Tamannya juga tidak terlalu besar.
Sebelum ke rumah ini, Athena tentu ke mansion terlebih dahulu hanya untuk sekedar menyapa J dan yang lainnya, tak lupa ke rumah nenek Amrita dan berziarah ke makam orang tua Anne dan juga nenek Amrita. Harsha yang melihat tumbuh kembang nona kecilnya merasa begitu senang, nenek Amrita tidak salah dalam memilih orang.
"Papa, di panggil mama buat sarapan" suara halus Anne berhasil menghentikan Raga dari kegiatannya yang sedang merapikan tanaman milik Athena.
Raga menoleh dan tersenyum kepada putrinya.
"Baiklah nona, ayahanda akan segera membersihkan tangan" katanya lalu berdiri dan mencuci tangannya. Ada kran air yang sengaja di buat di luar, agar memudahkan Athena ataupun Raga saat berkebun.
Anne tersenyum.
"Papa" ternyata Aidan juga ikut dibelakang kakaknya.
Jadilah Raga menggendong kedua anaknya menuju ruang makan, dimana istrinya sedang menyusun sarapan.
"Ehh, kok digendong?" tanya Athena.
"Olahraga, The." jawab Raga, lalu menurunkan anak-anaknya dari gendongannya.
Anne sudah bisa duduk sendiri, begitu pun Aidan.
"Ga, bubur ayam dulu nggak apa-apa yah?"
"Aman, The. Aku apa aja suka kok" Raga memang suka semuanya, tapi jika diberi pilihan, ia akan memilih makan sandwich ketimbang bubur. Lelaki itu tentu mengerti, istrinya belum sempat ke supermarket. Mungkin siang nanti mereka harus keluar dan membeli bahan makanan, jika sempat ia akan membawa keluarganya jalan-jalan mengelilingi kota.
Setelah sarapan, Athena masih harus di dapur bersama anak perempuannya. Anne tentu membantu mamanya membersihkan meja makan, sementara Athena mencuci piring bekas mereka makan. Dengan tangan kecilnya yang lihai, Anne membersihkan meja makan hingga benar-benar kinclong.
"Pinter anak mama" Athena mengelus kepala anaknya.
✨✨✨
Menjelang siang, keluarga kecil Athena meninggalkan rumah untuk ke supermarket. Aidan duduk di atas troli belanjaan, sementara Anne menggandeng tangan mamanya yang bebas. Sebelah tangan Athena tentu saja memilah bahan-bahan makanan yang akan ia beli. Raga tentu saja mendorong troli belanjaan milik istrinya, dimana ada anak lelakinya juga di dalamnya.
"Mau ice cream?" tanya Athena.
"Mauuu" kompak Anne dan Aidan.
Athena mengambil beberapa cup ice cream dengan rasa yang berbeda, lalu memasukkannya ke dalam troli. Ice cream tentu saja list terakhir yang ia ambil sebelum ke kasir untuk membayar.
Dalam perjalanan, kedua anak Athena tertidur. Dengan hati-hati Raga menggendong anak-anaknya ke dalam kamarnya masing-masing. Anne dulu, kemudian Aidan.
"Mereka kayaknya kecapean. Tadi bangun cepat, langsung main sambil nunggu sarapan jadi, habis sarapan lanjut main, terus tadi ke supermarket " kata Athena. Ia sedang menyusun belanjaan nya ke dalam kulkas dan juga lemari makanan.
Raga duduk di kursi bar sambil menyaksikan istrinya. Ia tentu menawarkan diri untuk membantu istrinya, tapi di tolak mentah-mentah oleh Athena. Jadilah Raga mengolah dan memakan satu cup ice cream milik anak-anaknya.
"Biar tidur siang dulu. Nanti malam kita dinner deh"
Athena menoleh.
"Serius?" tanyanya senang.
"Serius, sayang" jawabnya.
"Habis itu, istirahat juga yah."
"Anak-anak kok cepat banget besarnya" lirih Athena. Ia berbaring menggunakan lengan Raga sebagai bantalnya.
Tangan Raga yang bebas mengelus rambut lembut istrinya.
"Aku juga berpikir kayak gitu, The. Kayak baru kemarin aja mereka masih tiduran, gak bisa apa-apa kalau gak ada kita, sekarang udah berkeliaran aja, jalan sendiri"
Athena terkekeh. Ia mengira hanya dirinya yang kepikiran dan juga galau, ternyata suaminya juga sama.
"Kamu bakal posesif gak yah nantinya?"
"Kalau sama kamu dan anak-anak mah jangan ditanya lagi." jawab Raga, ia lalu mengecup kening istrinya.
"Udah yuk tidur. Atau mau aku tidurin?"
Athena menepuk pelan dada Raga.
"Itu mah maunya kamu" katanya.
Raga terkekeh.
Baru saja gelap menyapa, Raga dan keluarga nya sedang dalam perjalanan menuju tempat dinner. Raga dan Aidan terlihat tampan dengan kemeja polosnya yang berwarna biru muda, lengannya digulung hingga ke sikutnya. Sementara Athena dan Anne terlihat cantik dengan gaunnya yang berwarna senada dengan kemeja dua lelakinya. Hanya saja model gaun Athena dan Anne dibuat berbeda. Rambut Anne di buat kepang, sementara rambut Athena diikat ekor kuda tapi tetap terlihat elegan.
"Ehh, gak ke hotel papa?" tanya Athena saat mobil Raga malah terparkir di salah satu restoran yang baru dilihatnya. Dari luar saja restorannya terlihat megah dan mewah. Bangunannya begitu kokoh dan besar.
"Nggak, The. Yuk turun" ajak Raga setelah menjawab pertanyaan istrinya.
"Adek sama papa, kakak sama mama yah " Athena menggandeng tangan Anne, begitupun Raga menggandeng tangan Aidan.
Seorang pelayan menyambut mereka dan membawa mereka ke lantai 9, menuju ruangan VVVIP. Ruangannya benar-benar privasi. Sudah ada makanan di atas meja bundar. Jendelanya yang terbuat dari kaca dibuka cukup lebar, ada satu set siva disana, dimana terdapat dessert dan beberapa jenis minuman yang melengkapi.
"Makan dulu aja yah, habis itu baru ke sana" kata Raga.
"Baik, papa" kompak Athena dan Anne, sementara Aidan hanya mengangguk pasrah karena dirinya sudah di dudukkan di salah kursi oleh papanya.
Makan malam berlangsung tenang. Tidak mudah bagi Raga dan Athena membentuk keluarga yang sedamai sekarang. Beberapa tahun lalu mereka sama-sama diterpa badai, keluarga mereka pernah tak baik-baik saja, dan pernah ada kesedihan di dalamnya. Hingga mereka berdua sama-sama menurunkan ego masing-masing, jadilah badai berlalu, perlahan-lahan membaik dan kesedihan berganti dengan bahagia yang amat sangat.
Anak-anak mereka tumbuh dengan limpahan kasih sayang dan juga cinta dari kedua orang tuanya dan juga keluarga besarnya. Mereka tumbuh menjadi sosok yang membawa berkah dan juga senyum bahagia terhadap orang lain.
"The, terima kasih." tak henti-hentinya Raga mengucapkan terimakasih kepada istrinya.
Athena tersenyum.
"Terima kasih kembali, Ga. Terima kasih telah menemaniku mengukir kisah bersama, kedua anak kita dan juga keluarga besar kita." Athena menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
Di depan mereka, Anne dan Aidan sedang menikmati puding lumpur coklat yang sangat lezat.
"With out you, I'm nothing" ucap Raga. Ia mengecup kening istrinya.
Athena berharap kebahagiaan akan selalu menyertai nya bersama dengan anak-anak dan keluarganya. Ia tentu tidak hanya berharap, tapi juga akan melakukan segala upaya untuk mewujudkannya.
Tidak seorang pun yang tahu bagaimana kehidupannya di masa yang akan datang. Seperti Athena yang tidak mengenal Raga sedikitpun, hingga praktek lapangan yang menjadi perantara diantara mereka untuk saling mengenal dan berbagi kasih. Teman-temannya yang lain pun sama, masing-masing bahagia dengan jalan hidup mereka. Siapa yang akan mengira jika Kevin malah memilih Dwi untuk dijadikan teman seumur hidup, Darren yang memilih Sarah, anak Dian sebagai pelabuhan terakhir nya dan Wildan yang lebih dulu kembali kepangkuan Tuhan. Alan tentu saja menikah dengan gadis incarannya semasa remaja.