Athena

Athena
Plan



Weekend kali ini, Athena memilih mengundang Tristan dan Regan untuk bermain ke rumahnya. Dua orang anak laki-laki itu dijemput oleh Min.


"Halo kakak" sapa Tristan.


Regan yang berdiri di samping Tristan hanya tersenyum kecil.


"Halo sayang. Udah dapat izin kan dari orang rumah sebelum kesini?" tanya Athena.


"Sudah, kakak." jawab kedua anak itu.


"Ayo masuk. Ayra masih tidur, semalam begadang nonton kartun" Athena mengajak mereka duduk di ruang keluarga.


Kedua anak itu duduk di karpet.


"Kakak, pinjam PlayStation nya boleh?" tanya Tristan.


"Boleh, dong. Kalian main gih. Kakak mau buat kue dulu" kata Athena.


"Kue buat siapa kak?" tanya Tristan lagi.


"Buat Ayra, hari ini kan hari ulang tahunnya, makanya kakak undang kalian kemari buat bantu kakak ngasih surprise"


Tristan menepuk jidatnya.


"Aku gak bawa kado kak" katanya.


"Regan juga gak tahu" ucap anak lelaki itu.


Athena tersenyum.


"Nggak masalah. Yang penting kalian hadir" katanya.


"Baiklah kak. Atau kakak butuh bantuan kami buat dekor ruangan?" tawar Tristan.


"Terima kasih, sayang. Tapi ruangannya sudah kakak hias sebelum kalian datang. Kalian main dulu deh." kata Athena.


Kedua anak itu fokus pada layar besar di depannya, tangannya bergerak lincah memainkan stick yang ia genggam.


"Kamu gak bilang kalau Ayra ulang tahun" kata Regan.


"Aku juga lupa, Gan" ucap Tristan membela dirinya.


"Ayra suka apa?" tanya Regan.


"Suka main sama kita berdua" jawab anak kecil itu ngasal.


Regan hanya mengangguk-angguk mengerti.


Hari sudah sore, Tristan dan Regan sudah berada di sebuah ruangan kosong yang sudah di hias oleh Athena. Sedangkan Athena sedang menguncir rambut Ayra di ruang keluarga. Anak itu baru bangun saat Athena membangunkannya.


"Matanya kakak tutup yah" ucap Athena.


"Mau kasih surprise yah kak?" tanya Ayra.


"Yah, ketebak" Athena berekspresi seolah ia sedang sedih.


Ayra hanya bisa tertawa ringan melihat ekspresi kakaknya.


"Ayo kak, tutup mata Ayra" ucapnya.


Athena menutup mata Ayra menggunakan kain yang sudah ia siapkan. Ia lalu memapah anak kecil itu memasuki ruangan yang sudah ia dekor. Regan tadi menawarkan diri untuk memainkan piano saat melihat ada piano dalam ruangan. Athena tentu setuju dengan tawaran Regan.


Alunan piano terdengar saat Ayra sudah berdiri di depan meja bundar ukuran sedang. Sudah ada kue tart diatasnya dengan angka 9 yang menancap.


Athena membatu Ayra melepaskan kain yang menutupi mata anak kecil itu.


"Surprise" teriak Athena dan Tristan. Sementara Regan masih memainkan pianonya dengan irama lagu happy birthday.


Ayra bertepuk tangan melihat kejutan yang dibuat oleh kakaknya.


"Ayra ulang tahun yah?" tanyanya.


"Ayra lupa?" tanya Tristan.


"Tadi lupa, kak. Tapi sekarang udah ingat kok" jawabnya.


"Ada Regan juga"


"Selamat ulang tahun temannya Regan!" ucap lelaki itu.


Athena terkekeh mendengar cara penyampaian ucapan Regan.


"Yuk tiup lilinnya!" kata Athena.


Ayra berdiri persis di depan kue yang Athena buat. Athena, Tristan dan Regan bernyanyi mengiringi Ayra yang akan meniup lilin.


"HOREEEEE!" teriak Tristan dan Athena cukup heboh.


"Terima kasih akak The, kakak Tristan dan kak Regan" ucap Ayra.


"Kak Bagas nggak nih?" tanya Bagas yang memasuki ruangan.


"Kak Raga juga nggak?" tanya Raga.


Athena yang melihat kedatangan Raga cukup terkejut.


"Eh, kapan ke sini nya?" tanya Athena.


"Tadi pagi, The" jawab Raga.


"Boleh di buka?" tanya Ayra.


Bagas menggeleng.


"Potong dulu kuenya. Habis itu baru boleh buka kado" jawabnya.


Ayra mengangguk. Ia memotong kuenya menjadi beberapa bagian dan membagikannya.


"Kue pertama buat kakak The" ucapnya.


Athena mengacak pelan poni Ayra.


"Terima kasih"


Ayra mengangguk. Ia kemudian membagikannya secara random kepada yang lainnya.


"Buka deh kadonya" perintah Bagas.


Athena mendekati kado yang Bagas bawa. Ia membukanya dengan hati-hati.


Bagas ternyata mencetak fotonya dengan Jake dengan ukuran yang cukup besar. Foto itu diambil saat mereka akan pergi bermain golf yang juga menjadi hari terakhir mereka bersama.


"Terima kasih, kak" ucap Ayra. Ia mengusap air matanya yang menetes.


"Udah yah jangan nangis lagi. Nanti ayahnya Ayra juga sedih kalau Ayra nangis" Kata Raga.


Ayra mengangguk. Ia kemudian tersenyum.


"Kak The, nanti fotonya pajang di dinding kamar Ayra yah?"


"Oke, sayang" jawab Athena.


"Kak The, kalau Tristan ulang tahun, buatin juga yah kue yang begini?" pinta Tristan.


"Ingatin kakak yah. Regan juga mau?"


Regan hanya nyengir lucu.


"Pada mau main sepeda nggak?" tanya Bagas.


"Mauuu" jawab Ayra, Tristan dan Regan kompak.


"Yoklah" seru Bagas yang menjadi pemimpin krucil.


Di rumah ini masih ada sepeda bekas Nevan dulu, ada punya si kembar juga. Tristan dan Regan menggunakan sepeda tersebut. Sementara Ayra menggunakan sepedanya sendiri. Bagas yang menjadi pemimpin krucil menggunakan sepeda milik Athena. Mengingat ia sendiri belum terlalu lama di kota dan sering bepergian, jadilah ia tidak memiliki sepedanya sendiri.


Kembali ke kediaman Athena, ia membersihkan bekas perayaan sederhana tadi dibantu oleh Raga.


"Kamu kok gak bilang kalau mau kesini?" tanya Athena.


"Kan biasanya juga gitu" jawab Raga.


Athena terkekeh kecil mendengar jawaban Raga.


"Iya juga yah" katanya.


Ponsel Athena berdering, ia segera mengangkatnya.


"Iya"


"Terima kasih"


"Tadi yang nelpon manajer hotelnya papa" beritahu Athena tanpa di minta.


"Ada masalah?" tanya Raga.


"Nggak. Waktu aku ulang tahun kemarin, ia bilang mau yang seperti itu juga. Makanya aku minta bantuan papa" jawab Athena.


"Best sister in the world"


"Thank you so much, Mr. Perdanakusuma" ucap Athena sambil membungkukkan badannya sejenak.


Bel rumah berbunyi, Min mencari Athena. Katanya ada tamu.


Athena ke depan, ternyata desainer yang bertanggung jawab atas gaun Ayra.


"Terima kasih, mbak" ucap Athena.


"Dengan senang hati, nona" kata desainer itu sebelum meninggalkan kediaman Athena.


Raga yang sedang duduk di ruang keluarga pun bertanya.


"Apa lagi itu?"


"Gaun buat Ayra." jawab Athena.


"Sedetail itu ternyata" gumam Raga.


"Sekarang hanya kita yang ia punya. Sudah seharusnya kita memberi apa yang membuatnya bahagia. Sejak dulu Ayra selalu ikut kemana aku pergi, bahkan ke kota ini pun ia ikut, sebelum ayahnya meninggal, beliau menitipkan Ayra kepada aku." kata Athena.


"Semangat yah." ucap Raga.


"Tentu saja. Aku diberikan amanah yang luar biasa, sudah seharusnya aku menjaga amanah itu. Ayra akan menjadi gadis yang paling bahagia di dunia, gadis yang anggun dan juga tangguh"


Raga mengelus kepala Athena.


"Proud of you, sayang" ucap Raga.