
Sudah satu minggu lamanya Raga, Athena dan kedua anaknya berada di pulau Athena. Bukan hal yang mudah bagi mereka untuk kembali ke sini. Ada banyak drama ala Vania dan Alda yang begitu berat melepaskan anak-anak dan juga cucu-cucu mereka.
"Jadi kakak dan adek biar sekamar dulu?" tanya Raga.
"Iya, Ga. Supaya kita juga gak jauh-jauh ngecek anak-anak kalau malam." jawab Athena.
Sejak tadi mereka memikirkan untuk memisahkan kamar buat Anne. Aidan akan ditidurkan di kamar Anne, dan Anne akan pindah ke kamar yang ada di depan kamar orang tuanya.
"Berarti kita butuh keranjang buat Aidan?"
"Nggak usah, Ga. Keranjangnya kakak kan masih bisa. Kakak tidur di kasur. Lagian kasurnya aman, ada pembatasnya"
"Tapi kan mau beli buat Aidan juga."
Athena menepuk jidatnya.
"Bapak Raga yang terhormat, uangnya ditabung aja bisa kan?" sarkas Athena.
"Nyonya Athena yang tersayang, uang untuk ditabung sudah dipisahkan." balas Raga.
Athena mencebik.
"Maaa, dek nen" adu Anne.
Athena melihat ke arah anak bungsunya, kepalan tangan Aidan sudah berada di dalam mulutnya.
"Makasih yah kak, udah mengerti adeknya kalau mau nen" dengan lembut Athena mengelus rambut tipis Anne.
Anne hanya mengangguk. Perhatiannya kembali ke televisi besar di depannya.
Athena lalu memangku Aidan, memberikan bayi laki-laki itu ASI.
"Matanya tolong" tegur Athena saat menyadari pandangan Raga.
Raga terkesiap. Ia lalu terkekeh.
"Pengen juga" ucapnya frontal.
Athena menepuk pelan lengan Raga.
"Kakak nonton apa hmm?" tanya Raga. Ia mengangkat Anne agar duduk dipangkuan nya. Menyandarkan tubuh kecil anaknya pada dadanya yang bidang, lalu melingkarkan kedua tangannya ditubuh sang anak.
"Tun" jawab Anne singkat.
"Ngomongnya jangan singkat- singkat gitu nak, nanti cowok-cowok pada menjauh" khawatir Athena.
"Bagus yah nak yah. Judes tapi cantik, kesayangan papa Raga" Raga mengecup singkat pipi anaknya.
"Asal jangan salty dan dingin kayak papa yah kak" ucap Athena.
Raga langsung menatap istrinya.
"Dinginnya sama orang lain aja yah, ma. Kalau di rumah mah yah hangat, apalagi ada istri dan anak-anak yang lucu-lucu"
Anne yang berada di pangkuan papanya hanya diam, ia masih begitu kecil untuk mengerti ucapan orang tuanya. Aidan jangan di tanya lagi, mata bayi itu sisa 5 watt, sudah akan tertutup.
"Anaknya ngantuk itu" kata Raga pelan.
"Capek main sama kakaknya" ucap Athena sambil mengelus dahi Aidan.
Setelah anaknya benar-benar tertidur, Athena memindahkan nya ke dalam kamar khusus untuk dua anaknya.
"Kakak belum ngantuk?" tanya Raga.
"Yum, papa" jawabnya.
"Adek udah tidur lho"
"Ton tun" tunjuk Anne pada televisi di depannya.
"Iya iya, kakak nonton kartun. Kalau kartunnya habis, kakak bobo yah"
Anne hanya mengangguk-angguk, menikmati kehangatan pelukan papanya.
Athena kembali bergabung dengan anak gadisnya dan suaminya.
Anne hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau di tanya, di jawab yah sayang" dengan lembut Athena mengajari putri nya.
"Yum, mama" jawab Anne kemudian.
"Nah, gini kan bagus. Mama bisa denger suara anak mama yang cantik ini" Athena mengelus kepala anaknya. Ia ikut menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"Kalau dalam keadaan seperti ini, aku merasa jadi lelaki yang paling beruntung, menjadi tempat bersandar untuk dua orang perempuan yang cantik dan aku sangat menyayangi nya" ucap Raga.
Sebelah tangannya ia lepaskan dari Anne, lalu melingkarkan tangannya ke bahu Athena.
"Nyaman sih. Pantas kakak sama adek suka nemplok" jujur Athena.
"Mamanya juga nggak nih?" goda Raga.
"Iya, mamanya juga" jawab Athena.
Serial kartunnya sudah habis. Tangan kecil Anne bertepuk tangan.
"Ayo, sikat gigi dulu" ajak Athena. Ia berdiri, diikuti Anne.
Athena menggandeng tangan kecil anaknya menuju kamar. Sementara Raga mengunci semua pintu dan jendela.
Anne sudah bersiap-siap untuk tidur. Bajunya sudah diganti dengan setelan piyama bermotif unicorn. Di sebelahnya ada Athena yang sedang membacakan dongeng, sambil mengusap dahi Anne.
Sementara Raga berdiri di dekat keranjang tidur Aiden. Ia menatap anaknya dengan begitu dalam sambil merapal kan doa serta harapannya untuk sang anak laki-lakinya.
Setelah puas menatap wajah lelap anaknya, barulah Raga berjalan ke tempat tidur putri kecilnya.
"Udah tidur?" tanya nya pelan.
Athena tersenyum dan mengangguk. Ia lalu mencium kening putri nya.
"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah" ucapnya, lalu bangun dan berdiri, memberi Raga kesempatan untuk mengucapkan selamat malam juga kepada putri nya.
Kini bergantian, Raga yang mengucapkan selamat malam kepada Anne dan Athena yang melihat putranya. Rupanya putranya sedang menggeliat dan mencari sumber kehidupannya. Athena mengambil Aidan dari tempat tidurnya dan memberikan ASI sambil menggendong nya.
"Kebangun?" bisik Raga.
Athena mengangguk.
"Keranjangnya bawa ke kamar aja, Ga. Aku gak tega ninggalin" ucap Athena.
"Baik, nyonya" Raga mencium sekilas pipi istrinya, kemudian mendorong keranjang bayi yang ukurannya cukup besar.
Athena sekali lagi melihat putri nya, sebelum melangkah ke kamarnya. Rupanya Raga menempatkan keranjang tidur Aidan ditempat semula saat mereka baru tiba pekan lalu. Ini tentu lebih baik ketimbang menidurkan Aidan di kamar sebelah. Jika keadaan tidak memungkinkan, Athena malah akan menidurkan Aidan di tempat tidurnya bersama Raga.
"Yahh, gagal dong" lirih Raga saat Athena sudah duduk di sebelahnya.
"Gagal kenapa, Ga?" tanya Athena tidak mengerti.
"Gagal anu" jawab Raga ambigu.
"Eh" kaget Athena.
"Aku udah puasa lama, hampir 4 bulan" kata Raga.
"Kan kamu sendiri yang nggak mau nyentuh aku" bantah Athena.
"Bukan nggak mau, The. Tapi aku takut, kamu baru melahirkan, nggak mau bikin kamu sakit" jujur Raga.
"Padahal aku lahirannya normal lho, Ga. Pemulihan nya lebih cepat ketimbang yang menjalani operasi." Athena menidurkan dirinya lebih dekat dengan Raga.
"Mau sekarang hmm?" tanya Athena ,ia menatap wajah suaminya. Rahang tegasnya, dagunya yang lancip, hidungnya yang mancung menjadikan Raga terlihat bak dewa.
"Nanti aja" jawab Raga. Ia ikut merebahkan dirinya di samping Athena, mengangkat sebentar kepala Athena, lalu menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Athena. Ia tidur menghadap istrinya, mereka saling berhadapan. Tangan panjang Raga memeluk pinggang istrinya, memberikan kenyamanan pada sang istri.
"Selalu suka posisi ini. Aku seperti menemukan rumahku, tempat yang sangat nyaman, aku juga merasa aman dan hangat" ucap Athena, ia menenggelamkan wajahnya di bawah dagu suaminya.
Raga menciumi puncak kepala istrinya.
"Terima kasih, The" Raga tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Seolah tidak ada kata yang bisa mewakili bagaimana bahagianya dia bisa menjadi bagian dari kehidupan Athena.