
Karena menghindari Fany yang berniat menjemputnya di rumah, Athena berinisiatif terlebih dulu untuk menjemput Fany di rumahnya. Baru kali ini ia pergi menggunakan mobil dan supir. Supirnya tentu saja bukan Min, tapi mang Udin.
"Bagus deh, akak The sudah ada kemajuan. Udah mau pake mobil" kata Nevan.
"Seandainya bukan karena Fany pun, kakak akan tetap naik motor" ucap Athena.
"Gak bareng Nevan aja kak?" tanya Nevan.
Yah, Nevan juga akan ikut menonton turnamen ini, tentu saja bersama Renal, Alda, Mika dan juga si kembar Arion. Ivana tidak mengerti basket, ia lebih memilih untuk mengurus bunga-bunganya.
"Kakak udah janji sama Fany, dek. Kalau sama Nevan, ntar ketahuan lagi" jawab Athena.
"Gak mau banget ketahuan?"
Athena tersenyum.
"Tidak untuk sekarang." jawabnya.
Mang Udin sudah siap. Mobilnya juga baru saja dikeluarkan dari carport.
"Berangkat sekarang, nona?"
Athena mengangguk.
"Bentar yah pak, pamit sama Daddy dan mommy dulu"
Athena berlari kecil memasuki rumahnya. Ia pamit kepada Daddy dan mommy nya.
"Akak berangkat dulu yah. Bye Nevan" Athena mengelus rambut adiknya.
"Hati-hati pak bawa kakaknya Nevan" pesan Nevan pada pak Udin.
"Baik, tuan muda" jawab mang Udin sopan.
"Ke kompleks anu dulu bentar yah pak" kata Athena.
"Baik, nona"
Setelah menjemput Fany, mereka lalu menuju lokasi pertandingan. Fany tentu saja tidak bisa ikut dengan Eros, karena tim inti basket sudah berangkat sejak kemarin sore.
"Tumben ikut nonton?"
"Udah janji sama yang lain"
"Lo pasti bakal terpana dehh liat tim sekolah kita main" kata Fany yang terlihat begitu semangat.
"Kamu kali yang terpana apalagi pas lihat Eros" goda Athena.
Fany terkekeh mendengar godaan Athena.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai tempat turnamen. Ada banyak orang yang datang hanya untuk menyaksikan pertandingan babak final ini. Kursi penonton yang berkapasitas 2.000 orang mulai terisi. Kursinya juga terdiri dari beberapa class. Ada Class VIP, kelas 1, 2 dan 3. Nampak di class VIP bagian timur sudah ada Renal, Alda, Nevan, Mika dan juga si kembar. Ada orang tua pemain inti juga dan dewan guru. Kursi VIP yang hanya berkapasitas 300 orang terlihat sudah penuh.
Athena dan Fany sepakat membayar kursi penonton class 1. Karena semua temannya juga memilih tempat duduk yang sama. Mereka kompak untuk mendukung Irvandi.
"The, Fany" sapa Dwi.
"Udah lama Dwi?" belum terlalu lama kok.
Jam sudah menunjukkan angka 9. Wasit meniup sumpritan nya tanda pertandingan sudah di mulai.
Suara gemuruh penonton terdengar. Masing-masing mendukung timnya.
MAHESWARI
MAHESWARI
Teriak dari kubu Maheswari. Pihak lawan juga melakukan hal yang sama.
Athena cukup takjub atas hal baru yang dirasakannya ini. Ia tidak menyangka, suasananya akan sangat ramai dan meriah seperti ini.
Renal tentu tak lupa akan janjinya pada Randi, Angga dan Okan. Ia menyiapkan beberapa kameraman di setiap sudut untuk merekam pertandingan ini, yang langsung terhubung ke tiga orang eksekutif tersebut.
Renal melihat ke arah Alda yang terlihat begitu serius menonton pertandingan. Istrinya mengeluarkan beberapa ekspresi. Kadang terlihat begitu senang sampai bertepuk tangan, kadang terlihat kecewa.
Renal jadi ingat, ia pernah membawa Alda ke pertandingan nya beberapa tahun lalu. Jika Athena tidak sedang menutupi identitasnya dan Raga juga sedang tidak menyembunyikan identitas Athena di depan papanya, mereka pasti akan terlihat begitu romantis dengan Athena yang duduk di kursi VIP sambil menunggu Raga istirahat.
"Jadi rindu waktu masih muda" ucap Alda.
Renal terkekeh kecil mendengar ucapan istrinya.
"Daddy juga sedang mengingatnya, mom" kata Renal.
Ia mengelus rambut istrinya yang sekarang sudah duduk tenang, karena permainan sedang dihentikan untuk sementara.
Karena teriakan ketiga anak itu, semua mata memandang ke arah mereka.
"Kenal Raga, nak?" tanya Vania pada Revan yang kebetulan duduk di sampingnya.
"Kenal, ibu" jawab Nevan.
"Bang Raga kakak kelasnya Arvin dan Arion" lanjut Nevan memberitahu.
"Halo ibu. Saya Arion, dan ini kakak saya Arvin" Arion mencium punggung tangan Vania. Arvin dan Nevan juga melakukan hal yang sama.
"Wah, adik kelasnya Raga ternyata" kata Baskara yang ikut menimpali.
Yah, ketiga bocah itu duduk di baris belakang. Dua baris di belakang Alda, Renal dan Mika. Kursi lainnya tentu diisi oleh pengawal banyangan.
"Iya, pak" jawab ketiganya kompak.
Sumpritan kembali berbunyi. Semua fokus kembali ke lapangan. Sesi inilah yang menjadi penentu juaranya. Pertandingan semakin memanas. Saat Raga akan melakukan shoot, seorang pemain dari pihak lawan menghalangi nya, pemain pihak lawan itu ikut melompat seolah akan merebut bola tapi ternyata mendorong dada Raga. Keseimbangan Raga menjadi terganggu, hingga tubuhnya langsung jatuh di lapangan.
Prit
Wasit mengeluarkan kartu kuningnya untuk pihak lawan.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Kevin.
"Bahu gue sakit" jawabnya.
Kevin meminta pergantian pemain. Ia meminta Irvandi untuk menggantikan Raga.
"Lo bisa kan?" tanya Raga.
Irvandi juga baru saja beristirahat setelah tadi menggantikan Wildan di sesi sebelumnya.
"Aman." kata Irvandi.
Pertandingan kembali berlanjut. Sisa waktunya tinggal dua menit.
Di kursi penonton, Vania sudah gelisah ingin segera mengetahui keadaan anaknya.
"Sabar ma." ucap Baskara menenangkan.
"Iya, Van. Raga pasti baik-baik saja" Windi juga ikut menenangkan.
"SHOOT EROOS" teriak Fany dan Athena nyaring.
YEEEEEEEEEE
MENAAANG
Perhatian Vania kembali ke lapangan. Tim anaknya berhasil memenangkan pertandingan.
Nampak Renal, Alda dan Mika berdiri sambil bertepuk tangan. Tidak banyak yang menyadari kedatangan mereka. Arvin dan Arion pun yang bersekolah di Maheswari hanya beberapa orang yang mengetahui identitasnya sebagai Arunika. Nevan juga, nama belakangnya disingkat menjadi M saja.
"Anak kita menang" teriak Luna senang.
"Anak kita yang terhebat" sambung Wenda.
Alda melihat ke belakang sebentar. Ia melihat ekspresi senang dari orang tua para pemain.
"Mereka menang, The" Fany begitu excited.
Athena mengangguk.
"Mereka luar biasa" katanya.
"Raga gimana tuh?" tanya Fany penasaran.
"Gak tahu. Belum bisa gerak ini" jawab Athena.
Sementara di lapangan, Wildan dan Darren melakukan aksinya. Ia berjoget sambil bernyanyi dengan lirik yang mereka buat sendiri.
"GAK MAU PULANG
MAUNYA JUARA" nyanyi nya.
"Udah udah, jangan malu-malu in" tegur Eros.
Pak Irwan bertepuk tangan. Ia meminta tim yang dibinanya untuk berkumpul sebentar. Usianya sudah tua. Ia melatih basket sudah sangat lama.
"Bapak ucapkan selamat kepada kalian. Bapak berterima kasih atas kerja keras kalian, atas usaha kalian memenangkan pertandingan ini. Kita semua tidak hanya memenangkan pertandingan ini, tapi juga berhasil mempertahankan juara. Maheswari sudah berhasil mempertahankan gelar juara ini sejak 43 tahun yang lalu. Bapak sekali lagi mengucapkan terimakasih" ucapnya.
"Kami yang seharusnya berterima kasih, coach" ucap Kevin mewakili timnya. Mereka semua memeluk Pak Irwan, membentuk lingkaran lewat pelukan.