
"Buka bingkisannya besok aja yah. Badan gue rasanya remuk." keluh Darren.
"Hooh." Kevin menyetujui.
Athena membiarkan temannya bersih-bersih terlebih dahulu. Ia mengerti, teman-temannya pasti kelelahan. Berada di balai desa kurang lebih 6 jam, meskipun hanya duduk dan mendengarkan, tentu badan akan terasa pegal. Apalagi kalau mereka ikut membantu mengangkat sound sistem atau membantu mengurus yang lainnya.
"Pintunya udah dikunci kan?" tanya Athena.
"Sudah, The" jawab Raga yang baru keluar dari kamar mandi.
Athena mengangguk. Ia lalu menggantikan Raga masuk ke kamar mandi. Setelah bersih-bersih, Athena pamit masuk ke kamar terlebih dulu. Sejauh ini, teman-temannya tidak pernah tidur di kamar. Mereka tidur depan TV.
Athena merasa sangat senang hari ini. Ia bertemu Oma dan Opanya, menyempatkan untuk tidur siang dalam pelukan Oma dan Opanya. Athena membuka ponselnya, ada panggilan tak terjawab dari Nevan, Arvin, Arion dan kedua orang tuanya. Tadi ia benar-benar lupa membawa ponselnya.
Athena melihat jam yang tertera di ponselnya, jam 9 malam. Ia mencoba peruntungan untuk video call. Tentu saja menggunakan headset di telinganya.
Jaringan cukup bagus. Panggilan video tersambung.
"Anak Daddy" sapa Renal diseblah sana.
"Halo Daddy. Where is mommy?"
Renal terlihat berjalan menuju ruang keluarga. Nampak Nevan sedang tiduran, menjadikan paha mommy nya sebagai bantalan. Renal duduk di karpet, karena sofa sudah dikuasai oleh tuan muda Nevan.
"Mommy, Nevan" sapa Athena. Ia menggunakan senter, agar wajahnya terlihat jelas.
"Anak mommy" Alda begitu excited melihat wajah anaknya meskipun hanya lewat ponsel.
Ini kali pertama mereka melakukan panggilan video call, karena jaringan di tempat Athena tidak tertebak. Athena hanya mengabari orang tuanya lewat SMS dan juga panggilan seluler.
"Ada Oma dan opa disini" cerita Athena.
"Opa jahat, gak ngizinin mommy ikut" adu Alda.
Athena terkekeh.
"Opa dan Oma sampai segitunya. Sampai nyamperin kesini."
"Kakak kan kesayangan mereka" kata Nevan.
"Yeuh, sama aja kok. Pasti kalau Nevan jauh bakal dicariin juga"
"The baik-baik aja kan?" tanya Renal.
"I'm okay, Daddy. Daddy, mommy dan Nevan gimana?"
"Kami baik-baik aja, sayang" jawab Alda lembut.
Panggilan tiba-tiba terputus. Ternyata jaringannya hilang.
^^^Athena^^^
^^^Jaringannya hilang. Titip salam buat mommy dan Nevan.^^^
My Dad
Okay, dear.
Athena mencoba menutup matanya, berharap ia segera bisa masuk ke alam mimpi. Tapi ternyata tidak bisa. Tadi ia tidur begitu lama. Ia lalu duduk sambil bersandar, kemudian mengambil laptopnya. Ia menulis laporannya hari ini. Laporan ini akan mereka paparkan di depan dewan guru, penentu mereka bisa duduk di kelas 3.
Athena mengusap layar laptopnya. Ia menjadikan foto saat ia pertama kali datang ke Arunika sebagai background nya. Di foto itu ada mommy nya, ada papa Mika, Om Angga, Om Randi dan tentu saja papinya, Rafa. Ia masih terlalu kecil saat itu. Alda benar-benar bisa diandalkan untuk menyimpan sesuatu. Athena tidak pernah terlihat bermain laptop di depan teman-temannya, ia khawatir teman-temannya akan melihat foto tersebut. Athena bisa saja menggantinya, tapi ia tidak ingin.
✨✨✨
Pagi menyapa. Sekarang adalah hari pasar, Athena akan ke pasar bersama Kevin. Ia akan membeli beberapa bungkus kopi dan juga teh, serta keperluan dapur lainnya.
Sepulang dari pasar, teman-temannya masih pada tidur. Eros yang bahkan selalu bangun pagi pun masih tertidur.
"The, barangnya udah gue angkat ke dapur. Gue lanjut tidur nggak apa-apa kan?" tanya Kevin.
"Tidur gih. Lagian sekarang kan libur" suruh Athena.
Ia membawa bingkisan yang diberikan oleh Oma dan Opanya. Ternyata sangat banyak. Ada kue kering dan juga cemilan lainnya. Pantas saja kantongnya sampai sebanyak itu. Temannya yang 5 orang masing-masing kebagian untuk dibawa.
Athena kemudian menyeduh kopi dan teh, meletakkannya di gasebo yang ada di teras rumah. Ia lalu memotong tempe kemudian memasaknya sebelum digoreng. Ia tak lupa memasak nasi dan membuat sambel. Ia juga membuat perkedel dari kentang. Harum masakan Athena menjadi alarm alami untuk teman-temannya yang lain. Mereka akan terbangun saat mencium bau masakan Athena.
"Mau makan dulu apa minum kopi?" tanya Athena.
"Makan dulu, The" jawab Raga.
Athena mengangguk. Ia lalu menyusun makanan. Tugas Athena hanya memasak. Sementara yang bersih-bersih adalah tugas kelima lelaki itu.
"Athena udah masakin kita. Kita mesti tahu diri untuk nggak ngebiarin dia membersihkan piring bekas kita makan atau menyapu rumah dan halaman" kata Raga saat itu.
Setelah makan, Athena pamit untuk mencuci. Saat akan memasuki dapur yang berdekatan dengan ruang mencuci, ia melihat baju lapangan teman-temannya tergeletak di sofa. Athena tidak pernah melihat teman-temannya mencuci baju yang ini. Ia lalu mengambilnya. Meskipun mereka kebanyakan memakai baju kaos dan di lapisi baju lapangan tersebut, sudah pasti baju lapangan itu akan tetap kotor.
"Lo nyuci baju lapangan anak-anak?" tanya Wildan.
"Iya. Kalian kayaknya gak pernah nyuci yah?"
"Ngapain di cuci sih The?" tanya Kevin.
"Kita udah sebulan lebih disini, dan kalian bahkan gak sekali pun pernah nyuci baju lapangan kalian" omel Athena.
"Sorry, The. Gue pernah kok, sekali" kata Eros sambil meringis.
"Lain kali gak usah yah, The. Ntar Lo gak mulus lagi" kata Darren mencoba mencairkan suasana.
"Hooh, nanti bapak Lo marah-marah lihat tangan anaknya kasar" Wildan ikut menimpali.
Athena hanya mengangguk. Ia melanjutkan menjemur pakaian. Setelah selesai, ia ikut bergabung dengan yang lain.
"Kuenya dari mana The? Beli di pasar?" tanya Raga.
Athena menggeleng.
"Bingkisan yang di kasih ibu semalam" jawab Athena.
"Isinya apa aja, The?" tanya Kevin penasaran.
"Banyak. Isinya bejibun. Kue kering, cemilan, keripik pisang, keripik singkong, keripik kentang, permen juga sih. Dan jumlahnya gak main-main" jawab Athena.
"What the? Ibunya baik banget" ucap Darren.
"Pantes aja semalam tangan gue kaku. Ternyata isinya sebanyak itu" kata Eros.
"Mana kantongnya besar-besar" ucap Wildan.
"Yah, kita gak makan kue buatan The lagi dong" keluh Darren.
Athena terkekeh.
"Nanti aku buatin yah" katanya.
"Suruh bayar The" kata Raga.
"100 ribu perloyang yah"
"Satu juta per loyang pun akan ku beli, asal yang buat ikut pulang" kata Darren.
"Huhh" Wildan melempar bungkusan permennya pada Darren.
"Cemburu Lo, mas?" tanya Darren.
"Cemburu lah. Mau gelud Lo?" Wildan berdiri dari duduknya.
"Ya, hayooo" Darren ikut berdiri.
"Gak usah gelud Lo pada. Lo berdua yang gelud, ntar The sama gue" kata Raga sebelum memasuki rumah.
"Raga ketularan kalian kayaknya" kata Eros.
"Yap, betul. Tuh anak biasanya diam-diam, sekarang malah ngalus" Kevin setuju.