Athena

Athena
Kesibukan Masing-masing



Athena masuk menjadi primadona baru di universitas Arunika. Tidak sedikit kakak tingkatnya yang mencoba mendekati gadis cantik itu. Kepintarannya bahkan sudah menjadi buah bibir sejak ia menginjakkan kaki di Arunika University.


Mengambil dua jurusan sekaligus tentu bukan hal yang mudah, apalagi ia mengambil dua jurusan raksasa, yakni bisnis dan hukum.


"Athena" panggil seseorang dari belakang.


Athena yang akan berjalan menuju kantin kampus pun, menoleh. Ia menghela napasnya. Kakak tingkatnya yang satu ini benar-benar membuat moodnya rusak.


"Kenapa kak?" Athena mencoba menekan mood swing nya.


"Nggak, cuman panggil aja. Mau kemana? Ke kantin yah, gue temanin deh"


"Nggak, kak. Aku mau pulang." jawab Athena cepat. Ia lalu pamit dan berjalan ke parkiran yang cukup jauh dari fakultas hukum.


Athena segera membuka pintu mobil Raga. Ya, Raga. Pagi tadi ia berangkat bersama Raga ke kampus. Raga memberikan Athena kunci mobilnya, berjaga-jaga jika gadis itu mood swing karena sedang datang bulan.


Athena lalu meminum air mineral yang ada dalam tasnya. Berusaha agar moodnya kembali baik. Tak lama kemudian, Raga datang dan mengetuk pintu mobil. Athena segera membuka kuncinya.


Raga tanpa bicara membawa Athena menuju apartemennya. Ia tahu gadis di sampingnya benar-benar sedang kesal.


Athena langsung saja memasuki kamar Raga dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Ia tidak perlu izin Raga untuk melakukannya.


Raga memberikan Athena waktu untuk menstabilkan emosinya sambil nonton berita.


Hari sudah begitu sore, Raga baru terbangun dari tidurnya. Ia mencium aroma masakan dari dapur. Rupanya Athena memesan makanan dari AN RESTO.


"udah lama bangunnya?"


"Belum terlalu lama." jawab Athena.


Ia menyiapkan dua mangkuk coto dan menyimpannya di meja bar.


"Cuci muka dulu gih" suruh Athena.


Sebelum beranjak dari tempatnya berdiri, Raga terlebih dahulu mencium sudut bibir Athena.


"Kebiasaan" cibir Athena.


Raga tertawa mendengar cibiran Athena.


Mereka kemudian makan sore.


✨✨✨


Rutinitas menjadi mahasiswa memang tidak pernah mudah. Ada-ada saja hal yang membuat setiap mahasiswa mengeluh. Setelah tadi pulang diantar Raga, Athena bersih-bersih kemudian mengerjakan tugas dari sang dosen.


"Kusut amat mukanya kak" kata Nevan. Ia membawakan kakaknya segelas jus alpukat dan juga kue brownies.


"Thanks, Van" ucap Athena.


"Jangan di paksain belajarnya kak. Kakak udah kurus gini lho" ceramah Nevan.


Athena menyimpan pulpennya, kemudian mematikan laptopnya.


"Iya, ini udah berhenti kok" katanya.


Nevan sudah memasuki masa SMA. Sedangkan Ayra masih TK. Masing-masing memiliki kesibukan di rumah ini.


Athena meminum jus alpukatnya, mencoba mencari ketenangan dalam tiap tegukan. Ia tak lupa memakan brownies buatan mommy nya.


Setelah habis, ia membawanya ke lantai satu rumahnya. Ia berjalan ke arah taman hanya untuk sekedar menikmati angin malam.


Alda, Renal dan Ayra sedang dinner bersama kolega Renal yang kebetulan mengajak keluarganya juga.


Pagi harinya Athena kembali berangkat ke kampus. Saat istirahat tiba, ia dihadang oleh dua orang perempuan.


"Lo gak perlu sok kecakepan karena di kejar Aldo. Asal Lo tahu, Aldo cuman mainin Lo" kata salah satu perempuan di depannya.


"Iya kak, terima kasih udah diberitahu" ucap Athena.


"Lo seharusnya cukup sadar diri, Lo itu hanya mahasiswa baru yang kebetulan wajahnya cantik. Modal cantik aja gak cukup dek buat narik perhatian Aldo"


Athena hanya mengangguk mendengar ucapan senior di depannya. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan hal seperti ini di kampus. Ini kampus lho, bukan sekolahan. Jika di sekolahan mungkin ini adalah wajar baginya, tapi tidak dengan di kampus. Ia masih bertanya-tanya adakah orang sedewasa itu berlaku hal memalukan seperti tadi?


Setelah selesai dengan urusannya, Athena kembali ke rumah. Ia bermain dengan ketiga hewan kesayangannya, Zoya, Wiyu dan Wipo. Ketiga hewan itu sudah tidak sebebas dulu keluar masuk rumah. Sekarang para manusia di kediaman Renal lebih berhati-hati. Pawang mereka akan berjaga 24 jam yang dibagi menjadi 3 shift. Ketiga hewan itu masing-masing mempunyai pawangnya sendiri.


"Akak" panggil Ayra.


Bocah itu sudah bisa bersepeda sendiri. Entah ke rumah Mika untuk mengganggu Ivana memasak, atau ke rumah Oma untuk minta dibuatkan mie goreng.


"Bentar, dek" kata Athena. Ia memasukkan kembali ketiga hewan itu di kandangnya, kemudian mencuci tangannya sebelum mendekati sang adik.


"Dari mana dek?" tanya Athena.


"Dari rumah Oma" jawab Ayra.


"Pasti minta mie goreng yah?" Athena mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga. Ia mengambil remot untuk menyalakan TV.


"Hehe, iya" jawab Ayra.


Athena tertawa kecil mendengar jawaban dari anak kecil yang sedang bersandar di tubuhnya.


"Gemes banget adiknya kakak The" Athena mencium kepala Ayra.


Mendapat tempat yang nyaman, mata Ayra perlahan tertutup. Anak itu tidur sambil duduk. Athena segera memperbaiki posisi Ayra, agar tidurnya nyenyak.


"Adiknya tidur?" tanya Alda yang baru saja tiba. Dibelakangnya ada Renal yang mengikuti.


"Iya, mom. Kayaknya kecapean. Baru pulang langsung tidur" jawab Athena.


"The gak ikut tidur juga?" tanya Renal.


"Mau nonton aja, dad" jawab Athena.


"Jangan dipaksa yah dirinya. The udah kurusan sekarang, jangan sampai terlalu lelah yah sayang" Kata Renal.


"Iya, Daddy" Athena mengangguk.


Renal lalu membawa Ayra ke kamar anak kecil itu, kemudian kembali ke kamarnya.


"Udah makan sayang?" tanya Alda yang baru saja mengganti bajunya.


"Habis ini, mom" jawab Athena.


"Mom, tadi ada kakak tingkat yang ngomelin The. Padahal The gak ada salah sih. Dia ngomel karena ngira The deketin temannya" cerita Athena.


"Athena balik ngomel nggak?" tanya Alda.


Athena menggeleng.


"Gak enak dilihat orang-orang" jawab Athena.


"The kaget banget mom. Tiba-tiba dihadang gitu terus diomelin. Ngeri sih, lucu juga, dapatnya pas kuliah, gak di SMA aja gitu"


Alda terkekeh mendengar cerita anaknya. Anaknya sudah sebesar ini, dan masih menjadikan dirinya sebagai tempat ceritanya. Alda berharap anaknya akan tetap seperti ini, mengeluarkan semua unek-uneknya di hadapannya, terbuka dengan dirinya.