
Athena terlihat manis dengan celana 7/8 nya yang berwarna navy yang dipadukan dengan baju kaos berwarna mocca. Rambutnya ia ikat ala ekor kuda, juga sendal santai coklat yang menghiasi kakinya. Tak lupa ransel sedang yang menggantung di punggungnya.
"Rumahnya aman kan yah?" tanya Kevin.
"Iya, soalnya gue gak bawa laptop." Wildan ikut bersuara.
"Aman, kok. Pintu belakang udah dikunci?" tanya Eros.
"Udah" jawab Raga.
Eros mengangguk.
"Ayo berangkat" katanya.
Raga kembali mengunci pintu depan. Ia benar-benar berharap barang-barangnya aman di dalam sana.
"Kalian sudah datang rupanya" kata Abraham yang sudah berdiri di samping mobilnya.
"Maaf membuat bapak menunggu" ucap Eros.
Abraham melihat jam tangannya.
"Tidak. Sekarang baru jam 07.48, belum jam 8. Tapi kalian sudah disini, sebaiknya kita segera berangkat" jelas Eros.
Run yang menjadi sopir, Abraham duduk di kursi penumpang bagian depan. Rupanya mobil ini sudah di modifikasi, kelas tengah dan belakangnya masing-masing ada 3 seat.
"Orang tua kalian sudah tiba di sana?" tanya Abraham.
"Sudah, pak. Baru saja mendarat. Mereka sedang dalam perjalanan ke resort ATH" jawab Kevin.
"Resort ATH?" tanya Abraham.
"Iya, pak. Di sisi barat kota Thaenk" jawab Kevin.
"Pilihan mereka sangat tepat. Keindahan pantainya sangat indah." kata Abraham.
"Bapak tidak ingin bergabung dengan kami?" tanya Wildan.
"Wah, maaf sekali. Bapak ada urusan dengan pihak dinas pertanian di sana." jawab Eros.
"Ah, tidak apa-apa pak. Semoga urusan bapak lancar" ucap Eros.
"Kalian berapa lama disana?" tanya Abraham.
"Jum'at sore kami usahakan sudah ada di desa, pak. Kak Run harus menepati janjinya untuk membawa kami camp di bukit di hari Sabtu hingga Minggu" jawab Wildan sopan.
Run terkekeh.
"Yah, itu hal yang baik. Anggap saja hadiah perpisahan dari Run" kata Abraham kemudian terkekeh.
Perjalanan yang pernah mereka tempuh hingga nyaris memakan waktu hampir 7 jam lamanya, kini mereka bisa menempuhnya kurang dari 4 jam.
Run mengantarkan mereka hingga ke ATH resort.
"Terima kasih, pak. Maaf sudah merepotkan bapak lagi" ucap Eros.
"Bukan hal yang besar. Bapak pamit dulu. Have fun kalian" kata Abraham sebelum kembali naik ke mobil.
Mereka melambaikan tangannya hingga mobil itu menjauh.
"Pak Abraham baik banget. Sampai rela nganterin kita kemari" ucap Darren.
"Bersyukurlah kita menemukan orang-orang sebaik mereka" kata Athena.
"Ga, telpon bokap Lo gih!" suruh Wildan.
Raga menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu mengambil ponselnya. Baru akan membuka kuncinya, seseorang datang.
"Maaf, membuat kalian menunggu" ucap seseorang dengan pakaian hitam khas.
"Dari mana aja?" tanya Wildan.
"Tadi saya kebelet, tuan" jawab orang itu sopan.
"Udah yok, panas ini. Nggak apa-apa, pak" kata Eros. Mereka lalu menuju mobil yang sudah terparkir. Ada dua mobil disana. Athena naik dimobil yang sama dengan Raga dan Eros. Sementara Kevin, Wildan dan Darren di mobil lainnya.
Kurang dari 20 menit, mereka sampai di salah satu halaman bangunan yang cukup luas.
"Aku pulang aja deh" ucap Athena pelan.
"Apaan pulang pulang? Nggak yah" kata Raga.
"Anak orang itu, Ga. Jangan tarik kupingnya, kasihan" teriak seseorang dari dalam.
Semua temannya menoleh ke belakang. Raga dengan cepat melepaskan tangannya dari kuping dan bahu Athena.
Athena terlihat kikuk saat menjadi bahan perhatian.
"Raga narik kuping Lo?" tanya Wildan.
"Nggak, megang aja. Di cuman dorong bahu aku" jawab Athena pelan.
"Astaga, Raga. Jadi bener Lo narik kuping Athena sampai masuk sini?" tanya Darren dramatis.
Raga hanya menghela napasnya kasar.
"Aduh, ma sakit ma. Lepas" Raga mengadu kesakitan. Seorang perempuan yang terlihat sangat cantik menarik kuping Raga.
"Sakit kan. Tau rasa sekarang. Tadi aja narik kuping anak orang" omel Vania.
"Raga gak narik kuping aku, Bu. Tadi cuman megang aja, gak sampai di tarik" ucap Athena lembut.
"Terus kok tadi kayak narik gitu? Kamu sampai kayak terseret"
"Sebelah tangan Raga megang bahu aku, agar ikut masuk sini" jawab Athena pelan.
"Makanya dengerin dulu" sewot Raga sambil mengelus telinganya.
"Gitu yah ceritanya. Ayo sayang, masuk dulu" ajak Vania sambil merangkul pundak Athena.
"Ma, yang anak mami Raga lho ini." teriak Raga.
Vania hanya mendelik. Ia kembali melanjutkan langkahnya memasuki resort.
"Kasian, belum apa-apa udah jadi anak tiri" ejek Wildan.
"Apalagi nanti. Wussh, pasti jadi babu" Darren ikut memanasi suasana.
"Bentar lagi pasti dicoret dari kartu keluarga" Kevin ikut mengeluarkan suaranya.
"Fu*k" umpat Raga sambil menaikkan jari tengahnya di depan teman-temannya. Ia lalu memasuki bangunan resort.
Sampai di dalam resort, hal lain membuatnya menganga. Athena sedang jadi bahan rebutan para wanita dewasa tersebut. Mereka memperebutkan agar Athena duduk di samping mereka.
"Nggak, yah. Aku yang bawa dia masuk, berarti duduknya sama aku. Ehh nggak deh, aku bawa dia ke kamarnya aja. Ayo sayang" ucap Vania tegas kemudian menggandeng tangan Athena menuju kamar yang telah mereka siapkan.
"Wahai para ummi sekalian, Raga akan mengumumkan bahwa gadis tadi adalah calon menantu Mami Vania Perdanakusuma. Mohon pengertiannya untuk tidak memperebutkan dia lagi" Raga berbicara seolah mengumumkan sesuatu yang begitu penting.
"Yahh" pasrah Lana.
"Aku aman. Eros udah punya pacar" ucap Wenda lega.
"Ibuuuuu" Darren memeluk ibunya.
Lana juga memeluk tubuh anaknya, ia begitu rindu dengan anak semata wayangnya ini.
"Kok kelihatan gemuk yah?" tanyanya.
Bukan hanya Darren, Eros, Kevin dan Wildan juga ditegur gemuk oleh para ibunda mereka.
"Ini tuh berkat Athena, selalu masakin kita-kita. Masakannya enak gila, gak pernah tersisa. Tiap masak pasti habis" jelas Eros.
"Bunda berhutang banyak sama dia. Dia sampai rela masakin kalian" kata Wenda.
"Hooh, mama juga mesti ngucapin terima kasih ke dia" ucap Windi, mama Wildan.
"Dia gak suka berlebihan, ma. Menurut dia, masak itu udah kewajiban dia karena perempuan sendiri. Padahal awal kami sampai, kami udah nawarin buat bayar orang untuk masak. Tapi dia nolak" jelas Wildan.
"Dia manis sekalii" ucap Diandra pelan, mami Kevin.
"Mami tenang aja yah, nanti Kevin cariin menantu yang kayak The" Kevin menepuk bahu maminya, tak lupa menyematkan ciuman pada pipi sang mami.
Diandra mengelus rambut anaknya.
"Kalian istirahat dulu. Karena kamarnya terbatas, kalian ada yang tidur berdua dan bertiga yah." kata Diandra.
"Siap, mami" jawab Kevin, Eros, Wildan dan Darren bersamaan. Raga sudah lebih dulu kabur, setelah membacakan pengumumannya tadi.