
Setelah berhasil membuat obat untuk Ayra, Athena kini menghabiskan waktu liburnya bersama Tristan dan Ayra. Athena memapah Ayra, mengajar anak kecil itu untuk berjalan. Tidur terlalu lama membuat Ayra sulit untuk berjalan.
Ayra mulai menerima keadaannya, juga keberadaan orang-orang disekitarnya.
"Sebentar lagi kakak The bakal balik ke rumah kakak" Athena memberitahu Ayra dan Tristan. Mereka sedang berada di taman. Ada Wipo juga di samping Athena.
"Ikut ke kota C yok kak" ajak Tristan.
"Kakak udah terlanjur daftar kuliah di kota A" kata Athena.
"Ayra mau kemana kak habis ini?" tanya Tristan.
Ayra memeluk pinggang Athena.
"Mau ikut sama kakak nggak?" tanya nya pada Ayra.
Ayra mengangguk.
"Atau ikut sama Tristan aja mau nggak?" Tristan bertanya juga.
"Akak The" ucap Ayra.
Setelah menidurkan Ayra dan Tristan di kamarnya, Athena berjalan menuju ruang kerja Opanya. Ia mengetuk pintu yang menjulang tinggi di depannya. Hingga suara sang opa mengizinkan dia masuk, barulah ia membuka pintunya.
"Kenapa sayang?" tanya Lathief.
"The mau bawa Ayra pulang" jawab Athena.
"Ehh, gimana?" tanya Lathief kaget.
"Ayra ikut The pulang ke kota A" Athena mengulang jawabannya.
"Kakek Abraham sebenarnya mau membawa Ayra kembali ke desa, Abraham akan membesarkan Ayra di sana" jelas Lathief.
"Jake juga mau mengangkat Ayra menjadi putrinya" lanjut Lathief menjelaskan.
"Ayra maunya ikut sama The, opa" kata Athena.
"Gimana kalau teman-teman The bertanya tentang Ayra?"
"Tinggal The bilang, Ayra ini adiknya The. Baru diangkat jadi anak sama mommy dan Daddy"
"Udah dapat izin dari Daddy?"
"Belum minta izin, opa" jawab Athena.
"Bilang dulu sama kakek Abraham, sama uncle Jake juga" saran Lathief.
"Siap, opa" Athena mencium sekilas pipi Opanya sebelum meninggalkan ruangan yang berjejer rak-rak juga lemari kayu yang cukup besar yang dipenuhi buku juga miniatur benda-benda kuno.
Sepekan lagi Athena akan kembali ke kota A. Latihannya di sini sudah rampung. Latihan terakhirnya ia di bawa ke laut oleh Jake dan diminta berenang hingga ke tepi.
Perkembangan Ayra juga kian membaik, ia sudah bisa berjalan dengan normal. Kini ia bahkan sudah bisa bersepeda bersama Tristan.
"Mau jalan-jalan nggak?" tanya Athena pada kedua anak kecil di depannya.
"Kemana kak?" tanya Tristan.
"Ke mall deh. Kita ke Timezone" jawab Athena.
Keduanya mengangguk setuju.
Ayra juga kini lebih terawat. Anak kecil itu sudah punya pelayan pribadi yang akan membantunya juga menyiapkan segala kebutuhannya. Ia bak boneka hidup sekarang.
Athena mengendarai mobil ke pusat perbelanjaan. Ayra dan Tristan duduk di kursi penumpang belakang.
Athena membawa mereka ke lantai teratas mall ini, tempat khusus bermain. Athena membeli koin yang digunakan untuk bermain.
"Kalian main gih, kakak lihatnya dari sini" kata Athena.
"Baik, kakak" kompak Tristan dan Ayra.
Tristan menggandeng tangan Ayra menaiki mobil-mobilan yang bisa dipakai untuk berkeliling.
"Bye kakak" teriak Tristan.
Ayra melambaikan tangannya saat melewati tempat dimana Athena sedang duduk menunggunya.
Athena memotret keduanya dari belakang, lalu menjadikannya insta story, ia memberinya sedikit bubuhan kalimat 'Bro n sist' .
Setelah puas bermain, Athena membawa mereka ke kedai ice cream. Ayra yang paling senang saat makanan dingin itu berada di depannya.
"Kak, bawa pulang boleh?" tanyanya pelan.
Athena mengangguk.
"Boleh, sayang. Tristan juga mau nggak?" tanya Athena.
"Mau, kak. Sama yang kayak Ayra makan" jawab Tristan.
"Oke pangeran dan tuan putri" kata Athena.
Malam sudah menyapa dunia, barulah Athena dan kedua bocah itu sampai di kediaman Lathief.
"Kok rame?" tanya Tristan.
"Daddy" teriak Tristan. Ia berlari memeluk sang Daddy.
"Halo, son" Brian mengangkat Tristan dan memutarnya.
"Okay, cukup Daddy" kata Tristan.
"Sini sayang, sama Oma" Aina memanggil Ayra agar duduk di sampingnya.
Ayra mendongak melihat Athena. Athena mengangguk. Barulah Ayra mendekati Aina.
"The, mau ikut pulang ke desa nggak? Tinggal sama kakek Abraham." tanya Aina.
Ayra menggeleng.
"Mau tinggal di sini nggak sama ayah Jake?"
Ayra menggeleng.
"Mau ikut Tristan nggak?" tanya Tristan.
Ayra diam sejenak, lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Mau sama kakak Athena yah?" tanya Aina.
Ayra mengangguk cepat.
"Lihat sendiri kan?" tanya Lathief pada Abraham.
"Tapi orang desa pasti mempertanyakan keberadaan Ayra, kak" kata Abraham.
"Kamu bisa jawab kalau Ayra masih menjalani pengobatan, sesekali Ayra akan berkunjung ke desa" Lathief mengemukakan pendapatnya.
"Tapi aku juga mau Ayra, pa" Kata Jake.
"Yaudah, ikut papa ke kota A." Lathief tidak mau kalah.
"Tristan juga mau, opa" Tristan tidak mau kalah.
"Pindah yuk ke kota A" ajak Aina.
"Ma, kerjaan Brian ada di kota C" Brian menimpali.
"Kayak orang susah aja. Brandon kira kita semua masih mampu untuk saling mengunjungi, itu bukan hal yang sulit." Brandon menyarankan.
"Masing-masing punya waktu dihari Jum'at sore sampai Minggu sore, itu cukup untuk Tristan mendatangi Ayra, juga cukup untuk Jake ke kota A." lanjut Brandon.
"Tumben waras" celetuk Brian.
"Nah, betul" Lathief menyetujui.
"Jadi Ayra ikut pulang ke kota A kan Opa, Kakek?" tanya Athena.
Dua orang tua itu mengangguk bersamaan.
Ayra tersenyum senang. Ia memeluk Aina.
"Mommy sama mama pasti senang lihat Ayra nanti" kata Athena.
"Makannya kapan nih?" tanya Brandon.
"Mama lupa. Ayo, makan dulu semuanya" Aina berdiri, menggandeng tangan Ayra menuju meja makan.
Ada banyak jenis makanan yang tertata di atas meja makan.
"Lama banget gak makan bareng gini. Mentok berdua sama Tristan" ucap Brian sambil mengelus anaknya.
"Cari mama baru aja buat Tristan" celetuk Brandon.
"Kamu aja yang nikah sana" suruh Jake.
"Kayak udah nikah aja" Balas Brandon.
"Gak nikah tapi udah punya Ayra, another level of happiness" bangga Jake.
Ya, Jake yang menjadi wali bagi Ayra.
Ayra tersenyum mendengar perkataan ayahnya.
"Anak ayah seneng yah?" tanya Jake.
Ayra mengangguk.
"Cantiknya anak ayah, seperti kakak The" Jake mengelus kepala anaknya.
Jiwa kebapakan Jake perlahan muncul saat Ayra hadir dalam kehidupannya. Nama Ayra kini menjadi Ayra J. Abraham.
"Uncle Jake masih sayang sama Tristan nggak?" tanya Tristan.
"Sayang, dong. Semuanya uncle Jake sayang" jawab Jake.
Makan malam berlangsung dengan ramai. Abraham senang saat melihat ketiga anaknya ada dihadapannya, meskipun tanpa pendamping. Tapi itu bukan masalah untuknya, selagi anaknya bahagia, ia juga ikut bahagia. Apalagi sekarang sudah ada Tristan dan Ayra yang menjadi asset terbaik mereka di masa depan. Lathief juga merasa senang melihat raut bahagia pada wajah adiknya, Abraham.