Athena

Athena
Camp



"Sudah siap?" tanya Run.


"Sudah, kak" jawab keenam remaja itu bersamaan.


Run, Raga, Eros, Kevin, Wildan dan Darren terlihat sangat keren dengan carrier yang berada dibelakang mereka. Athena hanya menggendong daypack, berisi perlengkapan pribadinya.


"Sekarang sudah pukul 2 siang. Agak terik memang, tapi saat memasuki hutan, teriknya gak terasa sama sekali. Semuanya baik-baik aja kan?"


"baik , kak."


"Baiklah. Mari kita sama-sama berdoa untuk keselamatan kita semua"


Masing-masing menundukkan kepalanya, bermunajat pada sang pencipta agar dilindungi dari segala marabahaya dan bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Berdoa selesai. Let's start our adventure" seru Run.


Medan yang mereka lewati cukup berat, kemiringan lereng bahkan 72° . Hutannya juga sangat lebat. Benar apa yang Run bilang, terik matahari gak terasa jika sudah memasuki kawasan hutan.


Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Mereka sampai di puncak pukul 16.37 waktu setempat.


"Finally" lega Wildan.


"AAAAAAAAAAAAAA" teriak Kevin.


"Lega, Vin?" tanya Athena.


"Lega banget" jawab Kevin kemudian terkekeh kecil.


"Yang habis putus beda yah. Teriak teriak segala" cibir Darren.


Athena kaget.


"Oh, habis putus ternyata"


"Hooh, The" kata Darren.


"Kok bisa, Vin?" tanya Athena.


"Doi lihat ceweknya jalan sama cowok lain. Di insta story sih." Wildan dan mulut lemesnya.


"Mereka sodaraan kalii" kata Athena.


"The, cowoknya teman gue di club golf, gak punya sodara." kata Darren.


"Atau bisa jadi mereka temenan, kan?" Athena masih dengan pendiriannya.


"Heh, tuh si Dinda orangnya kalem abis, gak pernah terlihat dengan laki-laki kecuali sama si Kevin. Ehh, sama selingkuhan nya juga sih" jelas Wildan.


"Jadi officially jomblo nih?" goda Athena.


"Hooh, teman kita Kevin O'Leary diputuskan, man" kata Darren kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Sampai kapan gosipnya? Gak bangun tenda?" tanya Raga datar.


Athena menepuk jidatnya.


"Lupa"


Mereka membangun 2 tenda. Satu tenda berukuran 2 person, satunya lagi untuk 5 person.


Athena mengeluarkan makanan jadi yang ia bawa dari rumah. Ia menyusunnya di atas matras.


"Kak, ayo cobain masakan The" ajak Darren.


Run melihat ke arah Athena sejenak. Sambil memohon maaf dalam hati.


"Enak kan, kak?" Wildan meminta persetujuan Run.


Run tersenyum.


"Enak" jawabnya singkat.


Athena membawa nasi, perkedel kentang, juga mie goreng yang ia titip di carrier Raga.


"Jangan buang sampah sembarangan. Sampahnya di isi plastik yah" Run mengingatkan.


"Siap, kak" jawab Wildan, Eros dan Darren semangat.


Yah, Athena membawa kertas makanan yang biasanya penjual kecil-kecilan gunakan. Athena membelinya di pasar beberapa waktu lalu. Ia juga tak lupa membawa piring plastik. Piring plastik itulah yang ia alasi kertas makan sebelum menuang makanan.


"The, lihat deh mataharinya. Besar gitu kelihatannya, mana warnanya juga merah keemasan" beritahu Darren semangat.


Athena yang sedang menyusun kembali piring, segera menyelesaikan kegiatannya. Ia lalu duduk di atas batu yang ukurannya cukup besar.


"Wah, keren" Athena lagi-lagi takjub akan pesona jingga.


"Athena" panggil Raga.


Athena menoleh ke arah Raga.


Cekrek


"Ragaaaa" teriak Athena.


Raga terkekeh. Ia melihat hasil jepretannya. Lumayan, Athena dan senja adalah perpaduan yang begitu menakjubkan.


Raga mengangguk.


Darren melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum.


"Jangan upload deh" peringat Athena.


"Kenapa The, cemburu Lo?" goda Darren.


Athena memutar bola matanya. Darren tertawa melihat ekspresi Athena.


"Ga, gue juga mau" Wildan mendorong Darren.


Raga tetiba menjadi fotografer untuk teman-temannya.


"Lo masuk deh, gue yang fotoin" tawar Run.


"Gak apa-apa, kak?" tanya Raga tak enak.


Run menggeleng.


"Santailah, kayak sama siapa aja" katanya.


Raga memberikan kameranya kepada Run. Run juga ahli dalam memotret. Segala dokumentasi tentang Athena ia kirim kepada Lathief.


"The, foto berdua sama gue mau?" tanya Raga pelan.


Athena mengangguk. Teman-temannya yang lain sedang asyik bercerita.


"Ayo, mumpung langitnya masih cantik"


Athena mengode Run, agar memotretnya dengan Raga. Run mengangguk. Mengerti kode Athena.


Raga berdiri disamping Athena. Mereka tersenyum manis. Run memotretnya berkali-kali.


"Wah curang nih foto berdua" teriak Kevin.


"Iri aja kerjaan Lo" cibir Raga.


Athena kembali duduk di samping Kevin.


" Udah, Vin. Jangan dipikirin lagi. Kita harus kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu."


"Thanks, The." ucap Kevin.


"Atau Lo kali yang bakal datang, makanya gue kehilangan dia" goda Kevin sambil menatap Raga.


Raga menatap Kevin tajam, sambil mempraktekkan memotong leher.


Tawa Kevin meledak.


"Ngapa deh? Gak stress kan?" tanya Wildan heboh.


Athena memegang jidat Kevin.


"Gak panas, gak dingin juga" kata Athena polos.


Darren menepuk pelan kepala Athena.


"Lugu bener teman gue" katanya prihatin.


Angin berhembus, membuat udara terasa semakin dingin. Run dan Raga menyiapkan api untuk membakar daging, sosis dan juga bakso. Run dengan baik hati mengajak mereka barbeque di puncak, tapi dengan cara lain, menggunakan api. Mereka tak perlu khawatir daging grill, sosis beku dan juga baksonya basi, udara disini mampu mempertahankan kondisi makanan agar tetap baik.


"Apinya segini aja, kak?" tanya Raga.


Run mengangguk. Ia mengambil talang yang akan dipakai untuk membakar. Tak lupa saos juga mayonaise. Run tentu tak lupa akan kesukaan nonanya.


"Wah, kak Run totalitas banget" kata Wildan.


"Maaf kak Run, merepotkan sampai segininya" ucap Eros tak enak.


"Bukan hal yang besar" kata Run.


Udara malam dan makanan hangat adalah best collaboration malam ini. Athena terlihat imut dengan jacket kebesaran yang menutupi tubuhnya. Alih-alih meminjam jacket Alda semasa sekolah, ia malah meminjam punya Mika, padahal Renal juga memiliki jacket.


"The, gak apa-apa kan tidur sendiri?" tanya Run.


Athena mengangkat jempolnya,


"aman, kak" jawabnya.


Malam semakin larut, Athena pamit untuk tidur. Para lelaki masih ribut membahas satu hal hingga hal lainnya.


"Kalian tidur di dalam gih, gue di luar" suruh Run.


"Kak Run aja yang di dalam bareng yang lain, gue yang di luar deh. " kata Raga.


Run mengangguk. Setelah memastikan apinya aman, mereka mencoba memasuki alam mimpi.


Athena melihat jam ponselnya, pukul 05.00 pagi waktu setempat. Ia bangun dari tidurnya, memperbaiki perasaannya, melap wajahnya menggunakan tissue basah kemudian merapikan bekas tidurnya. Ia membuka pintu tendanya, dan sangat terkejut mendapati Raga yang tidur di depan tenda.


Raga terlihat sangat imut seperti kepompong. Tubuhnya masuk ke dalam sleeping bag. Bisa-bisanya ada sleeping bag seukuran Raga. Tinggi Raga kira-kira 181 CM. Athena yang tingginya sudah ideal pun terlihat mungil jika sedang bersama Raga. Athena menggelengkan kepalanya.