Athena

Athena
Di Desa Kenangan



Athena yang melihat pemandangan di depannya menjadi begitu menyesal. Ia seolah lupa jika Ayra baru saja kehilangan sandaran terbaiknya. Ayra tadi baru mencoba mencari kenyamanan dan keamanan dalam sosok Raga, tapi Athena menggagalkan percobaan itu.


"Kamu kenapa sih The?" tanya Raga.


"Maaf, Ga" ucap Athena.


"The, Ayra adik kamu lho. Ia baru saja kehilangan ayahnya, wajar jika ia bermanja-manja dengan kita semua, kalau kamu dia kembali seperti dulu lagi, tunggu, setidaknya sampai kesedihannya tidak nampak lagi. Dan lagi, ia masih anak kecil The, umurnya masih kurang dari 7 tahun, dan kamu memperlakukan seolah dia umur belasan tahun." Raga mulai mengeluarkan bisanya untuk membuat orang-orang diam.


"Kamu istirahat gih, ini udah larut malam" suara Raga kembali melemah, ia tak lupa mencium puncak kepala Athena.


Athena berlalu masuk ke dalam rumah. Ia ke kamar Jake terlebih dahulu untuk mengecek apakah Ayra sudah tertidur atau belum, tapi saat akan membuka pintu, pintunya terkunci. Hati Athena kembali mencelos, ia kemudian berjalan ke kamar opanya yang akan ia tempati selama berada di sini.


Pagi kembali menyapa. Semua orang sudah berada di ruang makan, kecuali Ayra.


"Ayra belum bangun?" tanya Wildan.


Athena segera berdiri dari duduknya dan berlari kecil menuju kamar Jake. Ia memutar kenop pintu, dan pintunya sudah bisa di buka. Ayra tidak ada.


"Ayra tidak ada di kamarnya" beritahu Athena.


"Lho, ini masih pagi lho. Masih dingin juga" kata Eros.


"MIN" teriak Athena.


Min mendekat.


"Ayra kemana?" tanya nya.


"Tadi pagi sekali ia pergi keluar nona, tapi Run ikut kok. Waktu saya tanya mau kemana, nona kecil menjawab mau ke makam papa, mama dan kakaknya" jawab Min sopan.


Athena mengangguk.


Tidak lama kemudian, Ayra sudah kembali. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum menarik salah satu kursi di meja makan.


"Maaf yah kakak-kakak semuanya, Ayra telat pulangnya, dan sarapannya jadi tertunda" ucap anak kecil itu.


"Nggak apa-apa, dong. Hayuklah kita makan" Darren mencoba mencairkan suasana.


Ayra mengambil nasi sendiri dengan tangan kecilnya, ia juga hanya mengambil beberapa potong tempe.


"Supnya dek?" tanya Athena.


"Nggak usah, kak. Terima kasih" jawab anak kecil itu.


Athena tentu saja heran. Makanan wajib anak ini adalah sup. Sup harus terhidang di atas meja makan rumah.


"Lho. Kakak ambilin yah?"


Athena hendak menyendok sup ke dalam piring Ayra.


"Ayra sendiri aja, kak. Ayra sudah besar kok." katanya. Ia berdiri di atas kursinya agar bisa menjangkau mangkuk sup yang berada di tengah-tengah meja.


Ucapan Ayra lagi-lagi menampar Athena secara tak kasat mata.


"Sini, kak Kevin bantu" Kevin membantu menyendokkan sup ke dalam piring Ayra.


"Terima kasih, kak Vin" ucap Ayra.


Anak itu kemudian makan dengan lahap. Setelah makan, ia membawa piringnya ke wastafel dan berlalu masuk ke kamarnya.


Raga yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia dan yang lain kemudian ke depan.


"Ayra, ini akak" teriak Athena dari luar pintu.


Ayra membuka pintu kamarnya, rupanya ia baru saja mandi. Handuknya masih menggantung di bahunya.


"Kenapa kak?" tanya nya.


Athena berlutut di depan Ayra, ia memeluk tubuh anak kecil itu.


"Kakak minta maaf" ucapnya.


"Kakak kenapa?"


"Maafin kakak yah"


"Kakak gak salah. Ayra yang salah sudah minta dipangku padahal udah besar ,udah sekolah juga hehhe" Ayra terkekeh kecil diakhir kalimatnya.


"Maafin kakak." ucap Athena.


"Ayra harus kembali seperti adik kakak yang dulu lagi. Yang selalu meminta bantuan pada kakak"


Ayra mengangguk.


"Terima kasih, kakak" ucapnya.


Athena mencium kening adiknya.


"Ayo, kita ke depan" ajaknya.


"Tapi rambut Ayra belum kering."


Mereka berjalan ke ruang keluarga, dimana para lelaki sedang nonton berita.


"Ehh, udah mandi ternyata" kata Wildan.


"Iya dong." bangga Ayra.


Ia duduk di depan Athena yang sedang menggosok-gosok rambutnya menggunakan handuk.


"Rumah kenangan gimana yah sekarang?" tanya Kevin.


"Ya masih seperti dulu, menjadi posko buat adik-adik yang ditempatkan di desa ini" jawab Athena.


"Emang iya The?" tanya Wildan.


"Iya, beneran" jawab Athena.


Rambut Ayra sudah di sisir rapi. Kini ia nyaman bersandar di dada Athena.


"Ga, Athena udah cocok tuh jadi mama muda" kata Darren.


Raga melihat ke arah Athena, dimana Ayra sedang bersandar nyaman di dada perempuan itu.


"Doakan aja" ucap Raga.


"Wahh, udah ada tanda-tanda kayaknya" Eros tertarik dengan percakapan ini.


"Kasih tahu dari jauh-jauh hari lah, habis dari sini gue juga akan berangkat" lanjut Eros.


"Aman lah" Raga menaikkan jempolnya.


"Raga udah ada tanda-tanda, Lo berdua apa kabar?" tanya Kevin pada Wildan dan Darren.


"Santai dikit napa" jawab Wildan.


Darren mengangguk.


"Diam seperti tak punya pawang, bergerak menyebar undangan. Tahu-tahu gue yang nyusul habis Raga hahhahaha"


"Sekarang lagi jaman friendzone, sana gih kejar Dwi" kata Eros.


"Dwi banget yah?" tanya Kevin.


Kevin dan Raga mengangguk kompak.


"Paket komplit juga itu" kata Eros.


"Boleh lah sarannya di jalankan" Wildan menimpali.


Athena hanya mampu menggelengkan kepalanya heran mendengar percakapan absurd kelima laki-laki di depannya.


"Kak, aku mau main sama teman-teman" izin Ayra dengan suaranya yang terdengar begitu kecil.


"Teman-temannya udah pulang sekolah?" tanya Athena.


"Belum, kak. Nanti siang, The takut lupa izin, terus kakak nyariin" jawab Ayra.


Salah satu pemuda mendekati mereka.


"Maaf, nona. Makanan ringan untuk teman-teman nona sudah ada di depan" beritahu pemuda itu.


Semua mata menatap ke sumber suara.


"Terima kasih kak Jo" ucap Ayra.


"Makanan ringan? Siapa yang pesan?" tanya Athena.


"Saya sendiri yang membelinya di kota Thaenk, nona. Bapak memerintahkan setiap nona kecil datang kemari, saya mesti menyiapkan makanan ringan yang tidak dijual di desa ini untuk anak-anak di sini" jawab Jo sopan.


"Uangnya dari mana Jo?" tanya Athena.


"Bapak memberikan kepada saya sebuah kartu, nona. Kata bapak, uangnya dipakai untuk membeli makanan ringan setiap nona kecil datang kemari untuk dibagi-bagikan ke teman-temannya"


Athena mengangguk mengerti.


"Apalagi yang ayah dan kakek sering lakukan Jo?"


"Setiap bulan bapak akan membagikan sembako, nona." jawab Jo.


"Baiklah, Jo. Terima kasih yah" ucap Athena.


Jo membungkuk sejenak, kemudian meninggalkan ruang keluarga.


"Jadi Ayra kalau main sambil bagi-bagi snack buat teman-teman?" tanya Raga.


"Iya, kakak. Teman-teman Ayra suka makanan yang Ayra bawa." jawab Ayra.


"Wah, keren nih Ayra nya kakak" Wildan bertepuk tangan.


"Sore nanti gue mau ngajak tim krucils main bola, semoga aja mereka ingat gue" kata Darren.