
Di Bandara
Athena berjalan dengan cepat ke pintu depan, dimana opa dan Daddy nya sudah menunggu. Sampai di depan, ia begitu kaget saat mendapati sebuah limosin yang sangat dikenalnya terparkir rapi. Mobil sedan mewah itu tentu saja menarik perhatian sekitar. Bahkan ada yang sudah mengerumuni mobil tersebut.
Athena kembali memperhatikan sekitarnya. Ia memperhatikan dengan detail orang-orang tersebut. Setelah memastikan nya, ia dengan cepat naik ke Limosin tanpa melepas bunga yang ia dapatkan.
"Telat satu menit, keluarga Perdanakusuma bisa mengetahui identitas kamu." kata Lathief.
Athena melihat sekitar. Raga berdiri bersama orang tuanya sambil melihat ke mobil yang dinaikinya.
"Maaf, opa" ucap Athena.
Lathief terkekeh. Ia memeluk cucunya.
"Kamu perlu banyak waktu untuk mengambil keputusan. Yang seharusnya bisa selesai dalam 5 menit, kamu memikirkannya hingga 10 menit. Tapi opa suka ketelitian dan kewaspadaan kamu, sayang"
"Terima kasih, opa" ucap Athena yang mendapat balasan kecupan di pipinya.
Athena lalu memeluk Daddy nya.
"Rindu Daddy"
Renal mengelus pundak anaknya.
"Udah ketemu kok rindu lagi?" goda Renal.
Athena terkekeh mendengar godaan Renal. Ia lalu melepaskan pelukannya, kemudian kembali melihat ke tempat Raga berdiri, menunggu jemputan.
"Dia tampan dan tinggi, udah masuk kriteria opa" ucap Lathief.
Athena melihat ke arah Opanya.
"Gimana opa?" tanya nya.
"Cowok yang di depan." tunjuk ya menggunakan dagunya.
"Yang lagi berdiri bersama orang tuanya, tapi mamanya sesekali melihat ke mobil ini" lanjut Lathief.
"Raga kenapa Opa?" tanya Athena.
"Dia tinggi dan juga tampan" jawab Lathief.
Athena mengangguk.
"Tinggi, seperti raksasa" ucap Athena yang mengundang tawa dari Lathief dan Renal.
"Ada-ada aja kamu, nak" Lathief mengelus rambut cucunya.
"Kok mobilnya gak jalan?" tanya Athena.
"Gak nungguin mereka pergi dulu?" tanya Renal balik.
Athena mengangguk.
"Mereka gak bakalan tahu ada aku di mobil ini. Kacanya tebal gini, gelap pula. Jendelanya juga bisa di tutup" jawab Athena.
Lathief dan Renal menggelengkan kepalanya mendengar jawaban polos Athena. Padahal tadi Renal berniat menggoda anaknya.
"Yaudah yuk berangkat" ucap Lathief.
Dua orang yang berpakaian hitam rapi yang berdiri di depan mobil dengan cepat memasuki mobil. Satu duduk di kursi kemudi, yang satunya lagi duduk di kursi penumpang samping kemudi.
"Kok tumben pake yang ini? Yang lain kan bisa" tanya Athena.
"Gak tahu. Opa lagi pengen naik Limosin aja sih malam-malam gini" jawab Lathief.
"Tumben sih opa." heran Athena.
"Kamu gak seneng di jemput pakai ini?" tanya Renal.
"Bukan gak seneng. Tapi mobil ini terlalu mencolok dan menarik perhatian orang lain. The gak suka diperhatiin" jawab Athena jujur.
"Kenapa gak suka di perhatiin?" tanya Lathief.
"Athena malu, opa. Untuk apa juga mereka perhatiin The. The gak ada apa-apanya kok" jawab Athena.
"Emang harus punya apa-apa dulu biar diperhatiin?" tanya Renal.
Athena mengangguk.
"Of course. Kayak opa yang punya Limosin, Raga dan keluarganya sampai merhatiin opa. Atau kayak daddy yang punya wajah tampan, teman-teman sekolah The langsung diam terus perhatiin Daddy berpidato" jawab Athena.
"Terus The gak punya itu semua?" tanya Lathief.
Athena menggeleng.
"The biasa aja" jawabnya.
"Athena, listen to me. Tuhan menciptakan setiap hambanya dengan masing-masing kelebihannya. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Jadi jangan pernah berpikir diri kamu itu biasa aja. Kamu sempurna dan juga punya kelebihan. Mungkin sekarang belum nampak, tapi belum tentu tidak ada." ceramah Renal.
Athena mengangguk.
"Kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang." tanya Athena.
"Kamu salah kali." goda daddy nya.
"Dad, sejauh dan selama apapun The pergi, The gak akan lupa jalan pulang" kata Athena tegas.
"Wuihh, sweet banget nih ngomongnya anak Daddy" Renal mengelus rambut anaknya.
"Kita malam ini tidur di hotel dulu yah" beritahu Lathief.
"Oma gimana? Mommy dan Nevan gimana?" tanya Athena.
"Mereka nunggu kita di sana, sayang" jawab Lathief.
Mobil terparkir di lobi AR Hotel.
"Daddy dan opa turun duluan gih, The lewat belakang aja" ucap Athena.
Lathief dan Renal mengangguk.
"Nanti ada Min yang jemput di pintu belakang yah. Nanti Min yang nunjukin kamarnya." beritahu Renal.
Athena mengangguk.
Limos itu kembali berjalan ke pintu belakang. Sudah ada Min yang berdiri membukakan pintu untuk Athena.
"Selamat datang kembali, nona" sapa Min.
"Terima kasih, Min" ucap Athena.
Min memencet tombol lift yang akan dituju.
"Tumben banget ke rooftoop segala. Malah udah malam gini" heran Athena.
"Nyonya besar Aina sedang ingin makan malam di rooftoop, nona" beritahu Min.
Athena mengangguk mengerti.
Ting
Mereka sudah sampai di lantai tujuan.
"Bisa, Min. Terima kasih sudah mengantar saya. Silahkan istirahat" jawab Athena.
Min membungkuk sejenak kemudian meninggalkan Athena di depan pintu rooftoop.
Athena membuka pintu berwarna putih di depannya. Ia tinggal berdiri mematung.
"HAPPY BIRTHDAY" teriak Nevan, Arvin dan Arion.
"Siapa yang ulang tahun sih?" tanya Athena.
"Ya kakak lah" jawab Nevan sambil memeluk kakaknya. Athena juga memeluk Nevan.
"Happy birthday, kak. Nevan always love you "
"Love you more my Lil bro" Athena mengucap rambut Nevan yang sudah sampai dagunya.
"Gue lagi Nevaaan" Arion tak mau kalah. Ia memeluk Athena,
Kemudian giliran Arvin.
"Selamat ulang tahun, kak." ucapnya. Tak lupa mengecup pipi kakaknya.
"Enak bener, serasa dunia milik berempat" nyinyir Ivana. Yah, beberapa tahun belakangan Ivana semakin bawel. Semua suka akan perubahan Ivana, ekspresi Ivana semakin lepas setelah masuk ke keluarga Arunika.
"Maaf, mama" ucap mereka berempat.
Ivana dengan cepat memeluk Athena.
"Ayo sayang" Ivana menggandeng tangan Athena menuju sebelah barat rooftoop. View dibagian barat ini terlihat sangat cantik.
Happy birthday kakak
Happy birthday kakak
happy birthday happy birthday
happy birthday kakak
Nyanyi Ivana, Mika, Renal, Alda, Nevan dan juga si kembar. Lathief dan Aina hanya bertepuk tangan. Athena mengusap air matanya.
"Wah, kakaknya nangis nih" Alda memeluk anaknya. Sudah tiga bulan ia tidak memeluk tubuh anaknya. Ia mencium seluruh permukaan wajah anaknya. Athena juga memeluk Alda tak kalah erat. Ia sangat merindukan mommy nya.
"I miss you, mom" lirih Athena.
"Udah, nangisnya nanti aja. Lilinnya udah hampir habis ini" kata Mika.
Alda melepaskan pelukannya. Mengusap air matanya juga air mata anaknya.
"Tiup lilin dulu, sayang" suruh Alda.
Athena meniup lilin yang ada di depannya. Kemudian memotong kuenya. Kue pertama untuk mommy nyaa.
Potongan ke dua untuk Daddy nya.
"Selamat berpetualang di usia 15 sayangnya Daddy" ucap Renal.
"Terima kasih, Daddy" Athena memeluk Daddy nya.
Athena memotong-motong kue di depannya. Membawanya menuju opa dan opanya.
Athena memeluk tubuh omanya, kemudian Opanya.
"Thank you both" ucapnya.
Lathief dan Aina terkekeh mendengar ucapan cucunya.
"Kadonya nanti yah sayang" kata Lathief.
Athena mengangguk senang. Ia bertepuk tangan.
"Sana, ke papa mu dulu" suruh Aina.
Athena duduk di sebelah Mika. Ia memeluk pinggang papanya.
Mika merangkul bahu anak perempuannya yang semakin terlihat menawan.
"Happy birthday anak gadisnya papa. Maaf yah kalau papa ada salah sama The"
Athena menggeleng.
"The yang seharusnya berterima kasih. Makasih udah besarin, udah sayang dan udah jadi The sepenuh hati sampai detik ini" ucap Athena.
Mika mencium puncak kepala Athena. Ivana menepuk nepuk pelan pundak suaminya, ia tahu suaminya akan menangis.
"Akak, ayo minta kado sama papa" teriak Arion.
Athena dan yang lain terkekeh mendengar teriakan Arion.
"Minta yang mahal kak" kompor Nevan.
"Minta RelFath, kak" Arvin ikut bicara.
"Kalau akak The minta RelFath terus di kasih, Lo berdua bakal nangis darah bang" kata Nevan.
"Jadi mau minta apa?" tanya Ivana.
"Nggak minta apa-apa." jawab Athena.
"Yahh" desah Ivana dan Alda kecewa.
"Minta yang mahal napa kak?!" greget Arion.
"Yang ulang tahun siapa yang greget siapa" seloroh Lathief.
"Kakak nih opa, gak tahu cara ngabisin duit" Nevan ikut greget.
"Yah bagus dong. Daripada hamburin uang yah kak" kata Renal.
"Ayo, mau hadiah apa dari papa?" tanya Mika.
"Aku tuh sebenernya lupa kalau hari ini ulang tahun. Jadi aku belum ada list barang impian" jawab Athena jujur.
"Owalah" ketiga remaja lelaki beda usia itu menepuk jidatnya.
"Akak The, pulang nanti Arvin bantuin yah" tawar Arvin.
"Boleh. Nevan dan Arion juga bantuin kakak yah" Athena menyetujui tawaran Arvin, ia tak lupa mengajak dua adiknya yang lain.
"Siip dah" seru Arion dan Nevan kemudian berhi-five.
Alda mengedipkan sebelah matanya ke arah Mika.
"Rasain" lirihnya.
Sementara Aina dan Lathief hanya terkekeh melihat kesengsaraan Mika. Ia tahu cucu-cucunya hanya sekedar bercanda.
"Makan malamnya udah boleh belum? Oma udah lapar." tanya Aina.
"Lupaa aku" kata Alda dan Ivana bersamaan.
Mereka lalu makan malam bersama disaat jam sudah menunjukkan angka 22.27 malam.