Athena

Athena
1st Birthday



Dua hari yang lalu Alda, Vania dan Ayra tiba di pulau ini. Alih-alih menuju mansion, mereka bertiga malah ke rumah Athena, tidur di rumah yang sederhana itu. Yang lain menyusul hari ini.


Rencana Athena untuk membuat birthday party sederhana tentu saja tinggal angan. Rumahnya tidak cukup untuk menampung keluarganya. Dengan sangat terpaksa ia memboyong yang lain untuk tinggal di mansion hingga semuanya kembali ke kota A.


"The makin subur aja tinggal di sini" ucap Vania.


Athena tersenyum.


"Senangnya pasti nambah ini, gak ada yang recokin. Beda kalau di kota A, adik-adiknya kadang rewel" kata Alda.


"Nggak, mom, ma. Sama kok." timpal Athena.


"Itu baby A udah bisa jalan lama lho. Padahal baru mau setahun. Gak rewel kan dianya?" tanya Vania.


"Nggak, ma. Anaknya anteng banget malah, suka main sendiri. Papanya bahkan kadang kesal kalau manggil anaknya, terus anaknya malah cuek, asyik nonton lah, asyik main lah" cerita Athena.


"Perasaan waktu kakak kecil, kakak gak gitu deh. Atau nurun dari papanya kali yah?" tebak Alda.


Kini Vania yang terkekeh.


"Kayak papanya sih. Cueknya dibawa sampai besar. Sekarang udah mendingan, bisa dengar tawanya, dulu mah boro-boro, senyum aja susah."


Athena dan Alda tertawa mendengar gerutuan Vania. Anak-anak memang punya karakternya masing-masing.


Sementara yang sedang menjadi bahan perbincangan sedang ke bandara untuk menjemput keluarga yang lain. Raga tentu saja pergi bersama J.


Hari sudah sore, barulah yang lain tiba di mansion. Sejak tadi Baskara berdecak kagum, ia sampai meringis.


"Jangan kaku begitu, Bas" kata Renal.


Raga, Renal dan Raga berada di mobil yang sama.


"Ini gimana ceritanya ada tempat seperti ini?" tanya Baskara.


"Aku juga kurang tahu gimana ceritanya." jawab Renal jujur.


"Kamu juga kan seorang Arunika" Baskara mendelik kepada besannya.


Renal terkekeh.


"Orang luar yang kebetulan memiliki nasib baik menjadi bagian dari Arunika, sama seperti Raga"


Raga yang sedang menjadi sopir untuk papa dan mertuanya pun menggelengkan kepalanya.


"Pulau ini hadiah dari kakek Ares untuk Athena. Gak tahu juga gimana ceritanya ini pulau bisa jadi asset Arunika, tapi cerita dari pulau-pulau sebelumnya, pulaunya dulu terbelakang, ada tekanan dari luar yang merampas hasil bumi dan lain sebagainya. Mungkin cerita pulau ini dulu gak jauh beda. Kakek Ares membeli pulau nya, meng-klaim nya agar tidak ada pihak luar yang ikut campur. Beliau tentu tak lupa memberikan edukasi kepada orang-orang pribumi di pulau, memajukan sumber daya manusianya, baik dari segi pengetahuan, perlindungan diri dan juga kesejahteraan. Sejauh ini yang saya ketahui, tidak ada satu jiwa pun yang masuk dalam kategori menengah ke bawah dalam ruang lingkup Arunika. Para pendahulu berhasil mendongkrak semangat para penduduk yang dulunya hidup terbelakang, kini bisa bergerak maju." Renal bercerita.


"Apakah sejauh ini tidak terjadi pemberontakan?" tanya Baskara.


"Belum pernah saya mendengar nya. Baik dari orang Arunika itu sendiri maupun yang lain. Loyalitas mereka saya akui sangat baik. Jika dipikir secara logika, mereka seharusnya bisa meninggalkan tempat yang bagi mereka pernah mengukir rasa sakit, tapi tidak ada satupun yang melakukan demikian. Beberapa ada yang keluar dari pulau, tapi hanya untuk belajar. Setelah pendidikan nya selesai, mereka kembali ke pulau, bekerja di pulau itu sendiri dan memajukan pulau tersebut. Tidak pernah terjadi pengkhianatan diantara mereka." jawab Renal.


Baskara tentu saja merasa takjub. Apalagi yang menjadi narasumbernya adalah besannya sendiri.


"Sesayang itu tuan Ares kepada anak kita" ucap Baskara.


Renal terkekeh.


"Jika ada alat yang bisa mengukur kasih sayang seseorang, saya yakin, saya akan berada di urutan ke tiga. Bukan karena saya tidak menyayangi Athena, tapi saya belum mampu memberikan apa yang kakek Ares dan papa berikan kepada Athena." kata Renal.


Renal dan Baskara terkekeh.


"Iya, daddy tahu" ucap Renal.


✨✨✨


Pada akhirnya Athena dan Raga sepakat untuk membuat pesta ulang tahun Anne dengan tema bola, tapi dengan syarat dekorasi nya berwarna biru muda dan putih. Ornamen-ornamen bola dibuat menjadi warna biru muda dan putih. Athena tentu menyiapkan nya dengan sangat sempurna dan totalitas. Mereka semua bahkan mengenakan jersey berwarna biru muda sebagai dasar dan kombinasi warna putih.


Tidak banyak yang datang, hanya keluarga dari Raga dan Athena, juga orang-orang kepercayaan nenek Amrita.


"Terima kasih, nyonya. Baby A tumbuh dengan sangat baik dan begitu beruntung mendapatkan keluarga yang begitu hangat seperti kalian" ucap Harsha sopan.


Athena tersenyum.


"Kami yang beruntung mendapatkan putri secantik baby A, Harsha."


"Nenek Amrita, nyonya dan tuan pasti sedang tersenyum bahagia melihat baby A mendapatkan kasih sayang tak terhingga di bumi ini. Mereka akan hidup damai di sana, tidak perlu mengkhawatir kan baby A. Saya pun juga sangat senang melihat ini, Nyonya" Harsha menangis haru. Ia dengan cepat mengusap air matanya.


"Sore nanti saya akan membawa Baby A untuk ziarah di makam nenek Amrita dan kedua orang tua baby A" beritahu Athena.


Harsha mengangguk setuju. Ia tentu saja senang mendengar ide dari orang tua sambung nona kecilnya.


"Terima kasih, nyonya" ucapnya.


"Ini bukan hal yang besar" Athena tersenyum.


Raga menggendong anaknya, Athena berdiri di sampingnya. Lagu happy birthday dinyanyikan oleh para kerabat, mengiringi Athena yang meniup lilinnya mewakili Anne. Anak itu belum tahu apa-apa. Tadi tangan kecilnya bahkan akan mencabut lilin yang ada di atas kuenya.


"HOREEEEE" heboh Arion dan Nevan.


Arvin hanya menggelengkan kepalanya. Kedua saudaranya ini masih sama, masih sangat semangat dan heboh.


Semuanya tersenyum bahagia merayakan hari istimewa buat Anne. Aurora Lysanne Perdanakusuma, seorang balita yang akan menjadi bagian dari cerita hidup mereka kini dan di masa depan. Bayi kecil itu akan tumbuh besar dan membawa kedamaian juga kesejahteraan bagi orang lain.


Lathief mengelus bahu istrinya. Cicit pertamanya sudah berusia 1 tahun hari ini. Kedua orang tua itu berharap agar diberikan umur yang panjang untuk melihat anak dan cucu-cucu serta cicitnya tertawa bahagia seperti hari ini.


"Baby A minta kado apa nih sama Daddy Nevan?" tanya Nevan pada anak kecil yang masih berada dalam gendongan Raga.


Anak kecil itu hanya tertawa dan bertepuk tangan.


"Cucu kita makin bulat " Vania gemas.


Alda terkekeh. Ia mengusap rambut Ayra yang duduk disebelahnya.


"Bulat seperti mamanya dulu" kata Alda.


"Baby A bawa pulang aja, mom" usul Ayra.


Vania dan Alda tertawa mendengar ucapan Ayra.


"Gimana kalau mamanya kangen?" tanya Vania.


"Yah biar akak ikut pulang juga" jawab Ayra enteng.