Athena

Athena
Shocking



Athena sedang bersiap-siap untuk ke kantor. Hari ini ia berencana untuk membawa makan siang untuk Raga, dan mereka akan makan makan siang bersama.


Setelah selesai bersiap-siap, Athena segera ke carport yang ada di samping rumahnya. Mobil Rafa yang dihadiahkan oleh Alda, Mika, Angga dan Randi masih terparkir rapi. Mungkin Athena akan menggunakannya suatu hari nanti.


Ia kemudian kembali masuk untuk mengambil makan siang untuk Raga yang sudah ia siapkan.


"Lho, Ayra?" seru Athena saat ia akan kembali ke mobil dan melihat keberadaan Ayra di teras.


Ayra hanya cengengesan.


"Kakak mau kemana?" tanyanya.


"Mau ke kantornya bang Raga. Mau ikut?"


"Boleh?" tanya Ayra balik.


"Ya boleh dong" jawab Athena.


"Tapi kak, Ayra juga mau beli alat gambar. Tadi daddy dan kak Nevan sibuk, gak bisa nganterin Ayra. Makanya kesini mau minta tolong Min" ucap anak kecil itu.


"Yaudah, yuk sekalian. Ayra juga sekalian mau belajar kan? Sampai bukunya dipeluk segala" tebak Athena.


"Kakak tahu aja" ucap anak kecil itu.


Athena mulai menginjak pedal gas mobilnya. Ia akan ke toko alat gambar dulu seperti permintaan Ayra untuk membeli keperluan anak kecil itu.


"Itu aja?" tanya Athena saat Ayra hanya mengambil satu set kuas berbagai ukuran juga satu paket cat lukis.


"Iya kak" jawabnya sambil merogoh saku celananya untuk mencari uang.


"Ayra ngapain?" tanya Athena.


"Bentar, kak. Ayra ambil uangnya dulu"


"Ehh, kakak aja yang bayarin" cegah Athena.


"Mommy tadi ngasih uang kok"


"Uangnya buat keperluan yang lain aja dek" Athena mengusap rambut adiknya dan membayar barang yang Ayra beli.


"Terima kasih, kak" ucap Ayra.


Athena terkekeh.


"Sama-sama, sayang"


Pandangannya tiba-tiba berhenti pada cafe diseberang jalan. Ia melihat seorang lelaki dan perempuan hendak menaiki mobil yang sama.


"Kak" panggil Ayra.


Namun Athena tidak bergeming.


"Kak" panggil Ayra lagi sambil menepuk pelan lengan Athena.


Athena terkejut.


"Ehh, maaf" ucapnya.


"Are you okay?" tanya Ayra.


"I'm okay, sayang. Mampir ke minimarket dulu yah buat beli chiki, biar nanti Ayra gak bosan di kantornya bang Raga ."


"Siap, kak. Let's go!"


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor Raga setelah membeli beberapa jenis makanan ringan. Ini kali kedua Athena menginjakkan kaki di kantor ini.


Athena terlihat cantik dengan gaunnya yang menutupi hingga betisnya. Ditangan kanannya ia menenteng paper bag yang berisi makanan siang, sementara tangan kirinya menggandeng tangan kanan Ayra.


Mereka berdua tentu saja menjadi bahan perhatian para karyawan. Beberapa orang ada yang mengenal Athena dan beberapa lainnya tentu saja penasaran dengan wanita cantik tersebut.


"Kakak udah nelpon bang Raga?" tanya Ayra.


"Belum. Bang Raganya pasti ada di ruangannya kok" jawab Athena.


"Tapi tadi Ayra lihat ada bang Raga di depan toko alat lukis, atau mirip yah kak. Soalnya Ayra lihatnya sekilas" ucap anak kecil itu.


Athena mengelus bahu adiknya.


"Ayra mungkin salah lihat, sayang." katanya.


Ting


Lift berhenti di lantai teratas gedung pencakar langit ini. Mereka keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Raga. Seseorang mendekati mereka.


"Selamat siang, nyonya, nona" ucap seorang perempuan yang terlihat rapi dengan seragam kantornya.


"Selamat siang juga Ara. Bapak ada?"


Athena mengangguk mengerti.


"Saya tunggu bapak di dalam aja yah, Ra."


"Baik, nyonya. Silahkan"


"Terima kasih" ucap Athena sebelum merangkul bahu adiknya memasuki ruang kerja Raga.


Ia mendudukkan dirinya di sofa panjang yang langsung menghadap ke jendela kaca yang cukup lebar. Dari atas sini ia bisa melihat lalu lintas dan kegiatan orang-orang di bawah sana.


"Kantornya bang Raga keren" ucap Ayra.


"Nanti Ayra juga akan punya kantor yang lebih keren daripada ini" kata Athena.


"Ayra mau jadi seperti kakak The aja" anak itu ikut duduk disamping kakaknya.


Athena merangkul bahu adiknya, menyandarkan kepala adiknya pada dadanya. Gadis kecil ini menjadikan dirinya sebagai role mode nya. Ayra bahkan menemaninya hidup di kota C selama setahun.


"Gak ngemil dulu? Atau Ayra mau belajar?" tanya Athena.


"Mau peluk kakak The dulu." jawab Ayra.


Athena terkekeh mendengar jawaban adiknya. Tidak ada perbincangan selama beberapa saat, yang ada hanya keheningan. Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran kedua perempuan itu.


Pintu terbuka. Raga cukup kaget melihat keberadaan Athena di ruangannya. Athena juga tidak memberitahunya jika ia akan berkunjung. Dengan cepat ia menguasai dirinya, dan segera tersenyum saat Athena berbalik menatapnya.


"Datang kok nggak bilang-bilang" Raga mencium kening istrinya. Ia tak lupa mengusap kepala Ayra.


"Mau kasih surprise" kata Athena.


Raga ikut duduk di samping istrinya.


"Kamu dari mana?" tanya Athena.


"Dari luar, ketemu klien" jawab Raga.


"Udah makan siang?" tanya Athena.


"Udah, sama klien"


Athena mengangguk.


"Dek, ayo makan siang dulu. Bang Raganya udah makan siang ternyata" ajak Athena pada Ayra.


"Kalian belum makan siang?" tanya Raga.


"Nungguin kak Raga, hehe" kini Ayra yang menjawab diikuti cengiran lucunya.


Athena menyiapkan makan siangnya terlebih dahulu dan menatanya di meja. Ada sup, perkedel kentang, ayam goreng, mie goreng dan tentu saja sambel.


"Ayra mau apa sayang?" tanya Athena.


"Mie goreng aja, kak. Tapi sama ayam goreng boleh?"


"Ya boleh." Athena terkekeh mendengar permintaan sang adik. Ia lalu memisahkan ayam goreng dan mie goreng untuk adiknya.


Ayra berpindah duduk di lantai yang dilapisi karpet tebal, ia duduk sila dan mulai menyantap makanannya.


"Bentar yah, kakak panggil mbak Ara dulu." Athena hendak berdiri.


"Kok Ara dipanggil?" tanya Raga.


"Aku bawa makan siangnya agak banyak, Ga. Gak mungkin aku dan Ayra habisin semuanya"


"Yaudah, aku yang bantu. Sini, duduk lagi" Raga kembali menepuk sofa di sampingnya.


"Kan kamu udah makan siang bareng klien kamu." ucap Athena.


"Tapi aku masih lapar. Ayo makan sama-sama" kata Raga. Ia ikut duduk di karpet dan mulai mengambil makanannya sendiri. Semua jenis makanan berada dalam piringnya.


"Ayo makan" Raga kembali bersuara saat mendapati Athena hanya diam.


Athena menghela napasnya. Ia juga duduk di bawah.


"Jangan dipaksain. Nanti perut kamu sakit" ucapnya.


"Nggak bakal sakit, The" kata Raga yakin.


Setelah makan siang, Athena membereskan perlengkapan makan mereka. Sementara Ayra sudah sibuk dengan buku-buku yang ia bawa tadi. Di sampingnya ada Raga yang menemani.


"Ayra beli alat lukis yah?" tanya Raga saat melihat paper bag yang berisi alat lukis.


"Iya, kak. Tadi sebelum kesini mampir beli alat lukis dulu di toko Z, terus mampir beli makanan ringan" jawab Ayra.


Raga mencoba tenang saat mendengar jawaban Ayra.